Kolom

"Second Plan" Pendidikan Kita

Muh. Fajaruddin Atsnan - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 11:00 WIB
Sejumlah sekolah di Kota Bandung mulai gelar pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas hari ini. PTM itu digelar dengan terapkan protokol kesehatan.
Kembali sekolah tatap muka di Bandung (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Jakarta -

Mulai melandainya kasus aktif Covid-19 memberikan secercah harapan bagi dunia pendidikan yang seperti mati suri dengan kebijakan on-off menyesuaikan situasi Covid-19. Situasi ini tentu menghadirkan euforia kembali ke sekolah dengan belajar tatap muka. Namun demikian, sembari menunggu habis masa "larangan" masuk sekolah selama masa PPKM ini, perlu kiranya kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya, sembari mengelola agar euforia kembali ke sekolah tidak berlebihan.

Tetap Disiplin

Harus diakui, magnet keceriaan ketika bersekolah sedikit-banyak hilang ditelan pandemi. Kapan lagi kita dapat melihat senyum lepas anak-anak sekolah? Kita terbayang-bayang betapa bahagianya ketika keceriaan itu sudah kembali. Keceriaan saat melihat anak-anak berseragam sekolah, bersendau gurau dengan teman sekolahnya.

Di pinggir jalan, sambil meneguk minuman dingin khas jajanan anak sekolah, saling berkisah asyiknya belajar di kelas. Ataupun berkelindan kata merencanakan agenda bermain melepas penat mengerjakan soal. Begitu cair, meskipun sedikit canggung awalnya. Namun tak mengapa, untuk memulai sesuatu yang bakal indah ke depannya.

Kita optimistis, raut kesukacitaan akan terlihat kembali dari wajah anak-anak. Keceriaan yang mungkin tampak berbeda ketimbang pada saat bermain bersama. Mungkin mereka yang ceria mengenakan seragam sekolah tadi adalah mereka pula yang kerap bermain bersama. Berbagi keceriaan di perpustakaan, di kantin, dan pojok-pojok sekolah, dengan tetap menjalankan protokol kesehatan saat belajar di era kebiasaan baru.

Namun, keceriaan itu bisa seketika pupus. Manakala, hasrat tinggi bersekolah tidak diimbangi dengan ketaatan, kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. Setidaknya ini terlihat, masih banyak anak yang berkerumun, bahkan tidak memakai masker. Meskipun kasus harian di banua kita relatif aman, tetapi bukan berarti abai dengan "kewajiban" saat berada di sekolah maupun lingkungan sekolah.

Jangan sampai euforia belajar tatap muka di sekolah, menjadi mudarat khususnya bagi kesehatan dan keselamatan semua warga sekolah.

Berinovasi

Adanya pandemi setidaknya juga mengajarkan kepada kita semua agar tidak hanya diam dan membuat kondisi pendidikan kita terpuruk. Banyak terobosan inovasi yang bisa kita coba terapkan agar kita tidak lagi kaget ketika menghadapi situasi serupa. Pertama, jangan sekadar mengandalkan belajar tatap muka.

Pembelajaran tatap muka memang menjadi aset berharga pendidikan kita. Dengan belajar tatap muka, secara psikologis memberikan garansi bahwa anak sudah sekolah, dan guru sudah mengajar. Sederhananya, dengan belajar tatap muka, maka sudah gugur kewajiban bersekolahnya. Tentu bukan demikian; ada urgensi dari belajar tatap muka, yaitu memberikan pemahaman lebih mendalam tentang suatu pengetahuan ketimbang pada saat belajar online.

Kedua, jangan terus menyalahkan belajar online. Dalam suatu kegiatan supervisi mahasiswa bimbingan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), saya mengamati bahwa praktikan yang dilakukan dengan sistem online ternyata justru interaktif dan menarik.

Guru bisa menjelaskan dengan animasi menarik, siswa juga semangat belajar, menjawab soal, aktif menjawab. Dengan catatan, guru praktikan mengemas pembelajaran dengan baik. Membuat powerpoint yang eye-catching, terus berinteraksi dengan para siswanya, komunikasi dua arah, menulis dengan papan tulis digital, justru terlihat keren.

Memang, ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi jika memang belajar sistem online dengan memanfaatkan berbagai platform digital, utamanya adalah sarana dan prasarana pendidikan yang merangkul seluruh siswa hingga ke daerah 3T.

Besarnya anggaran pendidikan 20% dari APBN di tiap tahunnya, tentu lambat laun bisa meng-cover pemenuhan fasilitas pendidikan, baik HP, internet, hingga ke daerah pelosok. Sehingga, semua anak bangsa bisa mengakses hakikat pendidikan abad ke-21, pendidikan era disrupsi, pendidikan di era 4.0 maupun 5.0. Jadi, ada-tidaknya pandemi, pembelajaran dengan sistem online ini adalah alternatif solusi di kala pembelajaran tatap muka masih nihil kontribusi.

Ketiga, belajar jangan lagi berorientasi pada nilai kognitif saja. Konsep merdeka belajar yang digaungkan Mendikbud sudah sangat cocok untuk memutus rantai lingkaran setan dari belajar sekadar mencari nilai, bukan kepahaman dan makna belajar yang dikaitkan dengan konteks nyata. Menghapus jiwa-jiwa yang gemar berorientasi pada prestasi dari segi kognitif dan intelektual semata. Mengeliminasi predikat juara kelas, ranking, dan semacamnya.

Apa artinya berkompetisi dan berlomba untuk meraih prestasi akademik itu tidak bagus? Tentu bagus. Masalahnya hanyalah pada substansi yang diujikan, substansi yang diujikan, masih berkutat pada bahan hafalan, belum pada bahan yang mengarahkan peserta didik alias siswa pada kebiasaan menganalisis, mengevaluasi, sekaligus mengkreasi.

Sekali lagi, kalau berkaca pada hasil asesmen global yaitu Program for International Students Assessment (PISA) tahun 2018, kita pantas malu dengan posisi negeri ini yang berada di nomor 7 terbawah dari 80 negara. Atau kalau dirasio hanya 1 dari 3 anak Indonesia yang memenuhi level minimal untuk kemampuan membaca.

Jika patokannya adalah laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), pada 2015 menunjukkan hasil 27% anak Indonesia di jenjang kelas 4 tidak memiliki pengetahuan matematika dasar yang memadai.

Di PISA ataupun TIMSS, setiap soal disajikan kasus pemecahan masalah alias soal-soal non rutin. Celakanya, anak-anak kita belum terbiasa mengenal soal-soal model PISA dan TIMSS yang HOTS. Jika situasi ini dibiarkan berlanjut, tentu menjadi "dosa jariyah" pendidikan kita, dengan hanya sekadar menyajikan soal jawab singkat plus cara kilat menjawabnya, membuat para siswa dari generasi ke generasi dicekoki rumus yang tidak menyehatkan.

Justru menyakitkan bagi wajah prestasi negeri ini di pentas dunia setingkat TIMSS maupun PISA. Harus ada evaluasi menyeluruh baik dari kompetensi guru, kualitas siswa, fasilitas pendidikan, dan tentunya kebijakan pendidikan kita.

Terakhir, kita belum tahu lagi kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Apakah segera berakhir atau justru menjadi endemik? Tentu kita berharap agar segera berakhir, dan pendidikan, khususnya pembelajaran di sekolah kembali normal seperti sediakala. Ada canda tawa, tanpa berlindung di balik masker, tanpa ada sekat jarak yang memisahkan ketika belajar bersama di sekolah.

Namun, kita pun seyogianya memiliki second plan jikalau pandemi berubah menjadi endemik. Yang jelas jangan sampai mengkambinghitamkan pandemi sebagai biang kerok yang memperparah ketertinggalan prestasi belajar murid di Indonesia. Sudah saatnya kita berinovasi dengan mengkombinasikan belajar tatap muka dengan belajar online, dengan blended learning, sekaligus mengubah orientasi kita yang awalnya nilai-oriented menjadi proses pembelajaran yang menekankan pada makna, kegunaan, dan kepahaman apa yang dipelajari.

Muh. Fajaruddin Atsnan dosen UIN Antasari Banjarmasin

(mmu/mmu)