Kolom

Wujud Infrastruktur PUPR sebagai Katalisator Kebanggaan Tanah Air

Akhyar Farizal - detikNews
Sabtu, 28 Agu 2021 10:53 WIB
infrastruktur
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Infrastruktur PUPR sebagai Katalisator Kebanggaan Terhadap Tanah Air, Seperti Apa Wujudnya?

Infrastruktur di Indonesia khususnya pada era pemerintahan Bapak Joko Widodo telah menjadi sektor utama yang difokuskan dalam rangka meningkatkan konektivitas dan merangsang pertumbuhan ekonomi di pelbagai wilayah Tanah Air. Pembangunan infrastruktur yang terkait dengan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terus mengalami peningkatan dan tersebar di seluruh Indonesia.

Berdasarkan neraca infrastruktur Sumber Daya Air tahun 2021 (data.pu.go.id per tanggal 14/8/2021), diperoleh capaian pembangunan 232 bendungan, 505 bendung dan 2.795 embung. Selain itu, sesuai dengan neraca infrastruktur Bina Marga tahun 2021, telah dicapai 3.197 jalan nasional sepanjang 47.090 km, dan 19.114 jembatan nasional sepanjang 527.319 m. Beberapa data tersebut dapat dijadikan sebagai informasi yang merepresentasikan bahwa pembangunan infrastruktur secara nyata dilakukan untuk dapat menumbuhkan perekonomian.

Infrastruktur yang dibangun terkadang tidak langsung diapresiasi secara positif oleh masyarakat. Ada beberapa pemikiran pesimis yang beranggapan bahwa pembangunan infrastruktur yang dilakukan hanya menambah hutang negara, tidak efektif atau bahkan membebani anggaran dan belanja negara. Seyogyanya secara prinsip, pembangunan infrastruktur tidak semata-mata berorientasi pada pusat pertumbuhan, tapi berorientasi pada pusat kehidupan. Di mana ada kehidupan, di situ harus ada infrastruktur. Pemikiran tersebut seharusnya dapat menjadi pencerahan bagi kita bahwa pembangunan infrastruktur memang tidak harus secara langsung mengintervensi nilai indikator ekonomi, akan tetapi harus mampu secara langsung dan signifikan merespon nilai kebutuhan dari masyarakat.

Hal yang menjadi pertanyaan mendasar adalah apakah infrastruktur yang dibangun di Negara Indonesia ini mampu memberikan rasa kebanggaan bagi warganya? Tentu ada berbagai parameter yang bisa digunakan untuk dapat menangkap isu tersebut. Perwujudan rasa bangga terhadap infrastruktur seharusnya dapat menjadi fokus perhatian karena berkaitan dengan asas kebermanfaatan terhadap infrastruktur yang dibangun. Hal lain yang perlu menjadi indikator di dalam pembangunan infrastruktur adalah wujud keterlibatan masyarakat sehingga tumbuh rasa kebanggaan terhadap Tanah Air.

Infrastruktur sesungguhnya dapat dijadikan sebagai katalisator, mewujudkan rasa kebanggaan masyarakat terhadap Tanah Airnya. Langkah konkrit yang dapat dilakukan antara lain, telah dinyatakan oleh Bapak Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) Basuki Hadimuljono, yang menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dan bangunan tidak hanya harus memenuhi aspek teknis konstruksi dan aspek fungsional, namun juga memperhatikan aspek estetika yang bersumber dari seni dan kearifan budaya lokal. Sentuhan seni dalam infrastruktur dan bangunan Gedung akan memberi nilai tambah, membangun ikatan sosial dengan penggunanya, serta memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan terhadap infrastruktur.

Kementerian PUPR telah melakukan pekerjaan infrastruktur yang merepresentasikan hal tersebut, antara lain 1) pembangunan Jembatan Youtefa di Papua, 2) penataan kawasan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, 3) penataan Saribu Rumah Gadang di Sumatera Barat, dan 4) pembangunan underpass di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal yang menarik dari pernyataan Bapak Basuki Hadimuljono dalam konteks yang lebih luas bahwa sesungguhnya pertimbangan aspek yang bersifat non fisik dapat memberikan nilai tambah dari pembangunan suatu infrastruktur.

Dalam hal ini, skenario pelibatan masyarakat yang dimulai dari proses perencanaan sampai dengan proses implementasi dari suatu pembangunan infrastruktur dapat dimaksimalkan potensinya sebagai upaya mewujudkan rasa kebanggaan masyarakat terhadap Tanah Air. Penulis melihat ada suatu peluang yang bisa diwujudkan secara berkala dan merupakan suatu upaya yang mampu merangkul potensi anak bangsa dengan menciptakan wadah aspirasi di bidang infrastruktur. Kementerian PUPR dapat mengakomodasi ide ataupun aspirasi positif dari masyarakat yang terkait dengan konsep atau desain struktur atas rencana pembangunan infrastruktur.

Penyaluran aspirasi bisa dilakukan dalam bentuk sayembara desain secara berkala atas beberapa pekerjaan infrastruktur PUPR yang akan dibangun pada 1 tahun sampai 2 tahun ke depan. Setiap warga tentu akan memiliki rasa kebanggaan tersendiri atas terakomodasinya aspirasi yang bermanfaat bagi negaranya. Salah satu langkah positif yang pernah dilakukan dan dapat dijadikan sebagai rujukan adalah upaya merangsang ide anak bangsa dalam mendesain Kawasan Ibu Kota Negara (IKN). Terdapat 755 peserta sayembara yang berkreasi untuk membangun kawasan IKN yang ideal di negara Indonesia tercinta. Kontribusi tersebut merupakan suatu energi yang luar biasa yang perlu dikelola secara berkelanjutan di dalam proses pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Kementerian PUPR memiliki program pengembangan infrastruktur Sosial dan Ekonomi Wilayah (PISEW). Program tersebut bertujuan meningkatkan pengembangan sosial ekonomi wilayah berbasis pada potensi sumberdaya lokal untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah melalui pembangunan infrastruktur wilayah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Program ini merupakan salah satu instrumen yang memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang terdampak pandemi COVID-19 dengan wujud program Padat Karya Tunai (PKT). Penulis melihat bahwa pekerjaan PKT ini seharusnya tidak hanya sebatas mendukung produktivitas masyarakat, akan tetapi justru dapat menjadi instrumen untuk merangsang kebanggaan terhadap tanah air karena terlibat di dalam pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi lingkungannya. Potensi ini seharusnya dapat dikembangkan secara berkelanjutan, di mana Kementerian PUPR tetap dapat menginisiasi program PKT pasca pandemi COVID-19.

Hari kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus seharusnya dapat dijadikan sebagai suatu momentum untuk kita selalu melakukan evaluasi di setiap tahunnya. Kita perlu melakukan kontemplasi sampai sejauh mana rasa kebanggaan kita terhadap tanah air sampai dengan 76 tahun Indonesia merdeka. Para pemangku yang berkuasa, memiliki peranan penting untuk dapat mengupayakan kebijakan yang mampu merangsang rasa kebanggaan warga terhadap Tanah Airnya.

Akhyar Farizal, Juara 1 Lomba Karya Tulis PUPR Kategori PUPR

(mul/ega)