Kolom

Optimalisasi Pariwisata Jalan Tol dengan Rest Local Village Tourism

Reza Aulia Rakhman - detikNews
Jumat, 27 Agu 2021 14:35 WIB
Infrastruktur
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Jalan Tol Koneksi Ekonomi Bangsa

Infrastruktur jalan tol merupakan alat vital bagi sistem perekonomian negara. Adanya pembangunan jalan tol di daerah perkotaan besar yang melintasi batas-batas wilayah turut memberikan dampak besar terhadap ekonomi rakyat. Keberadaan jalan tol sebagai jalan bebas hambatan dapat memangkas waktu tempuh perjalanan karena dibangun tanpa ada perlintasan sebidang.

Koneksi tol antardaerah yang mengutamakan daerah perkotaan-pedesaan, serta kawasan industri memudahkan distribusi barang dan jasa terkait biaya logistik. Hal ini mempengaruhi mekanisme pasar bahwasannya jalan tol memberikan solusi kecepatan waktu secara efisien terhadap distribusi barang dan jasa. Sehingga, jalan tol mampu menekan biaya logistik hingga mempengaruhi harga suatu barang dinilai lebih murah di pasar. Tidak hanya itu, tol turut mempermudah mobilitas masyarakat perkotaan hingga pedesaan.

Program Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang digembar gemborkan sejak 2014 hingga pertengahan 2019, yaitu infrastruktur. Nyatanya, pemerintah berhasil menciptakan rekor dalam membangun dan mengoperasionalkan 39 Jalan Tol Trans-Jawa sepanjang 949 km dalam waktu 4,5 tahun. Selain itu, proyek Tol Trans-Sumatera sepanjang 467,60 km sudah beroperasi hingga November 2019. Namun, proyek ini masih terus berlanjut untuk menyelesaikan pembangunan jalan tol dari Lampung hingga Aceh sepanjang 2.974 km, yang ditargetkan selesai pada 2024. Bahkan, Presiden Joko Widodo berambisi meningkatkan proyek jalan baru pada jalan perbatasan Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Trans Papua sebesar Rp 120,21 triliun dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN Tahun Anggaran 2020 beserta Nota Keuangan.

Hal ini terlihat infrastruktur menjadi arah pembangunan besar pemerintah untuk meningkatkan moda transportasi darat, yang bertujuan untuk pemerataan ekonomi bangsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa moda pengguna transportasi darat mengalami peningkatan, yang berakibat pada masalah kemacetan akibat ledakan penduduk yang memiliki mobilitas tinggi. Peningkatan infrastruktur jalan tol sudah tentu menjadi strategi besar bagi negara. Minimalisasi kemacetan, percepatan logistik, menghidupkan roda ekonomi dari jalan tol adalah faktor-faktor utama betapa infrastruktur jalan tol sangat dibutuhkan bagi negara dan masyarakat.

Menakar Arah Pembangunan Indonesia: Optimalisasi Pariwisata Jalan Tol melalui Rest Local Village Tourism (REALISM)

Pembangunan jalan tol turut andil terhadap pendapatan negara dari sisi infrastruktur. Bahwasannya jalan bebas hambatan yang telah dibangun oleh pemerintah telah memberikan kontribusi sebesar Rp 5,34 triliun per tahun. Apalagi, jalan tol dapat dimaksimalkan yang tidak hanya 'datang-pergi', tetapi juga 'datang-singgah-pergi' melalui optimalisasi pariwisata jalan tol dengan Rest Local Village Tourism (REALISM). Optimalisasi ini memanfaatkan rest area dengan menambah nilai guna ekonomis, melibatkan masyarakat lokal sekitar untuk membangun infrastruktur rest area berbasis wisata desa di setiap jalan tol seluruh daerah.

Ada alasan yang mendasar penulis memaksimalkan potensi pariwisata jalan tol bagi pembangunan Indonesia. bahwa destinasi pariwisata secara langsung membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan citra suatu wilayah geografis. Selain itu, industri pariwisata merupakan media pembangunan ekonomi yang tidak mengeluarkan investasi besar untuk jangka panjang. Disebabkan daya tarik wisata yang sudah ada, yaitu satu modal utama dalam pengembangan kepariwisataan. Sektor pariwisata juga mengurangi ketergantungan impor karena sebagian besar barang modal dan barang habis pakai dapat disediakan oleh destinasi pariwisata, seperti kerajinan tangan, makanan, minuman, dan daya tarik wisata.

Adapun indikator pendapatan devisa Indonesia dari sektor pariwisata, yaitu tingkat kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia setiap tahun. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, sektor pariwisata Indonesia turut andil terhadap devisa negara dari tahun 2011-2015. Sektor pariwisata menempati peringkat ke-5 terkait pemasukan devisa negara pada tahun 2011 (US$ 8,5 milyar), 2012 (US$ 9,1 milyar). Kemudian mengalami kenaikan pendapatan di tahun 2013 (US$ 10 miliar), 2014 (US$ 11,1 milyar), dan 2015 (US$ 12,2 milyar). Hal ini terlihat sektor pariwisata mengalami peningkatan pendapatan devisa negara setiap tahun (lihat grafik 1).

Infrastruktur
Grafik 1. Perbandingan Lima Sektor Penyumbang Devisa Negara Tahun 2011--2015 (Hasil Olahan Penulis). Sumber: Kementerian Pariwisata, 2018, Ranking Devisa Pariwisata terhadap Komoditas Ekspor Lainnya

Besarnya potensi pariwisata bagi kebijakan pembangunan pemerintah dapat dilihat dari kondisi geopolitik Indonesia, potensi sumber daya alamnya mampu menjadi aset negara untuk dikelola maksimal sebagai destinasi wisata mancanegara secara berkelanjutan. Meskipun sektor utama penyumbang devisa Indonesia adalah minyak dan gas, tidak menutup kemungkinan industri minyak dan gas tidak akan diandalkan negara di masa depan. Mengingat cadangan minyak dan gas adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui sehingga sektor pariwisata dinilai mampu menjadi fungsi penyumbang devisa terbesar secara berkelanjutan.

Diperkuat dengan pernyataan resmi Presiden Joko Widodo terkait sektor pariwisata, 'Pariwisata saya tetapkan sebagai 'leading sector'. Pariwisata dijadikan sebagai 'leading sector' ini adalah kabar gembira dan seluruh kementerian lainnya wajib mendukung dan itu saya tetapkan'. Keberadaan pariwisata dan jalan tol sebagai arah pembangunan pemerintah saat ini mampu meningkatkan leverage ekonomi bangsa di mata dunia. Infrastruktur jalan tol yang sudah 'rampung' dapat dijadikan simbiosis mutualisme kepada masyarakat adat sekitar yang dilewati jalan tol. Berangkat dari tersebut, REALISM bisa dijadikan instrumen besar bagi pemerintah untuk menambah nilai jual jalan tol berbasis pariwisata lokal.

Istilah REALISM berdasarkan filosofinya bahwa genre ini menitikberatkan potensi yang dimiliki bagi suatu negara untuk mengejar materi demi kesejahteraan nasional. Potensi masyarakat adat kaum rural yang berada di lingkungan pertanian, pesisir, pegunungan dilewati jalan tol sesungguhnya dapat meningkatkan roda ekonomi daerah dan negara jika negara memberikan 'fasilitas', seperti media wisata lokal untuk menambah pendapatan mereka. Hal ini yang melandasi penulis untuk memberikan rekomendasi kebijakan terhadap arah pembangunan Indonesia dengan memanfaatkan infrastruktur jalan tol sebagai via media pariwisata jalan tol dalam rest local village tourism.

Kondisi rest area saat ini di jalan tol dinilai kurang maksimal pengelolaannya karena pengguna jalan transportasi hanya sekedar 'datang-pergi'. Maka dari itu, perlunya optimasi rest area sebagai 'datang-singgah-pergi', filosofi yang ditekankan infrastruktur jalan tol Indonesia untuk memberikan pengalaman berwisata secara langsung bagi para pengguna jalan. baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga Indonesia tidak hanya dikenal destinasi wisata konvensionalnya saja tetapi juga dikenal destinasi wisata jalan tol berbasis moderat.

Pengelolaan REALISM sebagai instrumen pembangunan pariwisata Indonesia bisa dilakukan dengan melibatkan para pelaku usaha baik kolaborasi antarbadan usaha, badan usaha milik negara (BUMN), pemerintah daerah dengan masyarakat adat. Tujuan jangka panjangnya untuk meningkatkan branding potensi daerah. Keuntungan daerah yang dilewati jalan tol sebenarnya sudah menjadi bagian marketing secara langsung tanpa perlu memasarkan secara konvensional melalui media massa karena pemanfaatan rest area menjadi REALISM berbasis nilai-nilai kearifan lokal.

Infrastruktur jalan tol sebagai arah pembangunan Indonesia saat ini. Gencarnya pemerintah membangun jalan tol bertujuan untuk mempercepat mobilitas barang dan jasa dalam waktu yang singkat di tengah ledakan penduduk yang semakin meningkat. Selain itu, jalan tol berfungsi pemerataan perekonomian bangsa karena efisiensi dukungan logistik terhadap barang dan jasa yang bisa cepat sampai di tujuan. Perlunya optimalisasi jalan tol untuk menambah leverage perekonomian nasional, salah satunya rest local village tourism (REALISM) sebagai optimalisasi pariwisata jalan tol berbasis pemberdayaan ekonomi wisata lokal yang mendukung Indonesia Emas 2045.

Reza Aulia Rakhman, Juara 2 Lomba Karya Tulis PUPR Kategori Umum

(ega/ega)