Kolom

Jalan Panjang Melepas Resesi

Tita Rosy - detikNews
Kamis, 12 Agu 2021 13:42 WIB
Tampak supermarket di kawasan Jakarta terlihat sepi pembeli. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2021 berhasil mencapai angka 7,07% (year on year). Angka ini dirasa dekat dengan prediksi yang telah diproyeksikan Kementerian Keuangan di level 7,1%.
Sepinya pusat perbelanjaan (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Melepas resesi adalah perjalanan panjang yang ditempuh bangsa ini sejak diumumkannya pertumbuhan ekonomi memasuki zona kontraksi pada kuartal II tahun lalu. Kuartal II - 2020 merupakan awal titik kejatuhan ekonomi Indonesia sejak diumumkannya kasus Covid-19 pertama di Tanah Air tanggal 2 Maret 2020 oleh Presiden Jokowi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal II - 2020 minus 5,32 persen dilanjutkan dengan pertumbuhan yang negatif juga di kuartal III sebesar 3,49 persen secara siklis menempatkan posisi Indonesia pada zona resesi.

Penyesuaian proses bisnis di berbagai kehidupan masyarakat dengan slogan 'ingat pesan ibu 3M' mengantarkan masyarakat waktu itu ke fase new normal yang mengawal interaksi masyarakat di luar rumah yang mulai dilonggarkan untuk perbaikan roda perekonomian. Kebijakan ini berpengaruh positif kepada ekonomi masyarakat yang ditunjukkan dengan penurunan angka negatif pertumbuhan ekonomi dari triwulan ke triwulan.

Memasuki tahun kedua pandemi yaitu awal tahun 2021, pemerintah optimis dapat memulihkan ekonomi bahkan sampai memasang target pertumbuhan 4,3-5,3 persen. Ditemukannya vaksin adalah hal positif lain yang mengiringi optimisme pemerintah untuk memulihkan ekonomi di tahun kedua pandemi negeri ini. Meskipun Kuartal I - 2021 masih berada pada zona kontraksi yaitu sebesar 0,74 persen, lagi-lagi angka negatifnya masih lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

Hingga pada 5 Agustus 2021 Badan Pusat Statistik mengumumkan bahwa Indonesia telah berada pada zona pertumbuhan ekonomi positif yaitu tumbuh sebesar 7,07 persen. Mesin ekonomi yang telah berbalik arah ini selain dapat dibaca sebagai efek dari lentingan pertumbuhan yang terlampau dalam di Kuartal - II 2020 atau istilahnya low base effect, juga dapat dipahami sebagai capaian kinerja yang telah bagus di berbagai sektor lapangan usaha sehingga momen ini merupakan titik ketika Indonesia telah melepas resesi. Tengok saja dari semua sektor yang dirilis, tidak ada satupun yang tumbuh negatif secara year on year.

Tantangan ekonomi belum terhenti di sini. Perjalanan melepas resesi kembali dihadang oleh alarm lonjakan kasus positif terpapar Covid-19 yang mulai terjadi di penghujung Kuartal II - 2021. Akhir Juni 2021 tercatat telah menembus angka 2.178.272 dengan pertumbuhan kasus harian mengikuti tren eksponensial. Memasuki Juli 2021, kondisi semakin diperparah dengan penambahan kasus yang melanda dengan varian baru yang semakin cepat penularannya.

Hingga 4 Agustus 2021 jumlah kasus terkonfirmasi di Indonesia telah mencapai angka di atas tiga juta atau tepatnya 3.496.700 kasus. Pertumbuhan ekonomi yang telah tumbuh positif akan diuji lagi dengan penambahan kasus tersebut yang pada gilirannya juga menulari ekonomi masyarakat. Dompet negara kembali harus dirogoh dengan mekanisme refocusing yang mengalihkan sejumlah kegiatan untuk penanganan Covid-19.

Penerapan PPKM darurat sejenis PSBB di tahun 2020 yang belakangan diubah namanya lagi menjadi PPKM level 4 di sejumlah provinsi menjadikan interaksi masyarakat yang telah memperbaiki ekonomi menjadi harus dipingit lagi. Kesehatan yang menjadi prioritas pemerintah kali ini. Ingatan masyarakat seperti terlempar kembali kepada masa-masa awal kasus corona virus desease-19 ini menyambangi Indonesia. Pemerintah harus bersiap untuk merevisi pertumbuhan ekonomi ke batas bawah.

Alarm penurunan aktivitas ekonomi juga telah diumumkan oleh IHS Markit yang pada Juli mencatat Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia sebesar 40,1 turun drastis dari Juni yang mencapai 53,5. Angka PMI mengambil patokan nilai 50 sebagai cut off-nya. Apabila PMI mencapai nilai di atas 50 berarti sektor manufaktur Indonesia sedang mengalami ekspansi dan sebaliknya jika di bawah 50 berarti sedang kontraksi.

Pertanyaannya, apa yang dapat dilakukan untuk tetap memulihkan ekonomi di saat seperti ini? Jawaban pertanyaan ini dapat dilaksanakan tentunya dengan memulihkan kesehatan masyarakat terlebih dahulu. Ekonomi dapat dipulihkan dengan kerja sama berbagai pihak, tidak sporadis maupun parsial.

Digitalisasi ekonomi yang tengah digaungkan pada masa pandemi harus dapat menyentuh level ekonomi skala menengah ke bawah yang sangat rentan jatuh kepada jurang kemiskinan. Infrastruktur yang memadai juga harus dapat mencapai jangkauan hingga pelosok desa untuk mempermudah akses ekonomi masyarakat pedesaan.

Ekonomi yang tumbuh positif tentu diharapkan dapat sekaligus mengurangi kemiskinan maupun ketimpangan. Badan Pusat Statistik telah merilis angka kemiskinan Maret 2021 mencapai 10,14 persen. Meskipun sedikit mengalami penurunan dari September 2020 yang mencapai 10,19 persen namun masih berada di level dua digit. Sebelumnya Indonesia telah berhasil menurunkan angka kemiskinan ke level satu digit sejak Maret 2018.

Perjalanan pemulihan ekonomi masih harus dilanjutkan. Berapapun pertumbuhan ekonomi nanti yang dapat dicapai di ujung tahun 2021, diharapkan agar ekonomi yang tumbuh tidak hanya berasal dari perbaikan harga komoditas di pasar global yang notabene tidak bersifat renewable seperti batu bara dan migas, namun juga berasal dari kekuatan ekonomi kerakyatan yang dibangun oleh wong cilik.

Tita Rosy Statistisi ahli madya BPS Prov. Kalsel

(mmu/mmu)