Kolom

Sportivitas, Respek, Pantang Menyerah: Belajar dari Greysia-Apriyani

Defy Indiyanto Budiarto - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 14:30 WIB
Pebulutangkis ganda Putri Indonesia Greysia Pollii/Apriyani Rahayu mengembalikan kok ke arah ganda putri China Chen Qing Chen/Jia Yi Fan dalam final Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021). Greysia Pollii/Apriyani Rahayu berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan lawannta 21-19 dan 21-15. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp.
Pasangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu (Foto: Sigid Kurniawan/Antara)
Jakarta -

Pandemi Covid-19 yang sudah melanda negeri ini lebih dari setahun menyisakan kisah sedih yang tidak berkesudahan. Hampir setiap hari kabar duka berseliweran di mana-mana. Di grup-grup WA, Facebook, maupun pengeras suara di masjid dan musala menjadi hal yang seolah sudah lumrah kita dengar kabar kematian.

Media-media massa juga selalu menayangkan berita duka dari para tokoh dan juga tambahan kasus harian Covid-19, yang setiap hari menghiasi televisi dan juga layar handphone kita semua. Belum lagi soal kesulitan ekonomi masyarakat. Sepertinya, tidak ada kabar lain yang bisa disampaikan dan bisa memompa kembali semangat masyarakat, selain kabar seputar Covid-19 dan dampak turunannya.

Hingga akhirnya seluruh negeri bersorak sorai merayakan kegembiraan bersama, setelah kabar bahagia datang dari Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang pada Senin (2/8) siang WIB. Adalah pasangan ganda putri cabang olahraga bulutangkis, Greysia Polii-Apriyani Rahayu yang berhasil mempersembahkan satu-satunya medali emas dari cabor kebanggaan kita bersama, bulu tangkis.

Luapan kegembiraan Greysia Polii-Apriyani Rahayu diiringi derai air mata langsung menyeruak setelah berhasil mengandaskan pasangan ganda putri nomor satu dunia, Chen Qingchen/Jia Yifan dalam dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-15. Seluruh negeri ikut berbahagia. Medali emas Olimpiade Tokyo 2020 menjadi penyejuk di tengah oase. Setelah lebih dari setahun kita selalu disuguhi dengan kabar duka, kali ini seluruh negeri bersuka ria.

Layar media sosial dipenuhi dengan puji-pujian terhadap Greysia Polii-Apriyani Rahayu. Keberhasilan meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 membuat Greysia dan Apriyani mempertahankan tradisi emas Indonesia sekaligus mengukir catatan bersejarah. Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga menjadi ganda putri Indonesia pertama yang mampu memenangi medali emas Olimpiade.

Selain soal kemenangan, ada hal lain yang bisa kita petik dan menjadi pelajaran buat kita semua dari Greysia Polii-Apriyani Rahayu. Pertama tentu soal sportivitas. Satu hal yang selalu menarik dari cabor bulu tangkis adalah ketika pertandingan usai, tidak ada lagi yang namanya musuh. Setelah berjibaku untuk memenangkan pertandingan, mereka umumnya lantas saling berjabat tangan dan mengakui kemenangan lawannya. Demikian juga yang kita saksikan ketika detik-detik akhir smash dari Greysia tak bisa dikembalikan dengan sempurna oleh pasangan China dan bola keluar tipis dari lapangan pertandingan.

Greysia Polii-Apriyani pun terpaksa harus menghentikan sejenak euforia kemenangannya untuk menyaksikan tayangan ulang posisi shuttlecock benar-benar sudah keluar, dan memastikan kemenangan. Baru setelah dipastikan keluar, keduanya meluapkan kegembiraan dengan derai air mata. Pasangan China, Chen Qingchen/Jia Yifan kemudian menghampiri Greysia-Apriyani, dan menyalami dan memeluk sebagai ucapan selamat. Dan pertandingan pun berakhir.

Hal seperti ini yang kita rindukan dalam berbagai kontestasi politik di Tanah Air, baik Pilpres, Pilkada, maupun Pileg bahkan Pilkades. Pilpres, misalnya, sudah selesai bertahun-tahun, sudah ada yang menang dan kalah, bahkan yang kalah sudah menyatu dengan yang menang, namun nuansa permusuhan masih sering ditunjukkan oleh pendukung kedua belah pihak. Bahkan hingga kini. Seharusnya, kita semua belajar dari ajang Olimpiade ini, khususnya dari lapangan bulu tangkis.

Kedua, soal respek. Ada hal menarik karena sebenarnya Greysia Polii-Apriyani adalah pasangan yang memiliki banyak perbedaan. Keduanya beda generasi, beda agama, dan juga beda suku adat dan budaya. Namun, keduanya menunjukkan respek yang luar biasa. Usia keduanya terpaut sangat jauh, Greysia 33 tahun sedangkan Apriyani 23 tahun. Sebagai junior, kita bisa saksikan ketika Apriyani mencium tangan Greysia sebagai bentuk hormat sang junior kepada senior.

Begitupun pada saat pertandingan terlihat jelas bagaimana Greysia sebagai senior memberikan kepercayaan dan membimbing Apriyani sebagai juniornya dalam melakukan serangan dan pertahanan berkali-kali kepada pihak lawannya meski mereka adalah berpasangan. Rasa menghormati satu sama lain ini menjadi hal yang sangat penting untuk kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berbangsa kita.

Hal lain yang juga kita patut teladani adalah semangat pantang menyerah dari pasangan Greysia Polii-Apriyani. Sukses membawa pulang medali emas Olimpiade tentu tidak datang tiba-tiba. Tapi merupakan buah dari kerja keras pantang menyerah. Terutama bagi Greysia Polii, bagaimana kisah perjalanannya dalam berkarir di dunia bulu tangkis begitu luar biasa dan berliku.

Pertama kali tampil pada ajang Olimpiade London 2012 silam, Greysia yang kala itu berpasangan dengan Meiliana Jauhari harus terganjal karena terlibat dalam skandal. Pada laga terakhir Grup C menghadapi wakil Korea Selatan Ha Jung-eun/Kim Min-jung, kedua pasangan dinilai telah mencederai sportivitas dengan tidak memberikan permainan terbaiknya. Hingga akhirnya kedua pasangan didiskualifikasi. Dalam sebuah wawancara, Greysia mengungkapkan bahwa Olimpiade London telah mengajarkannya untuk tidak menyerah.

Kendati begitu, dia sempat mau menyerah dari dunia bulutangkis ketika usai tampil pada Olimpiade Rio 2016, rekan duetnya, Nitya Krishinda Maheswari, mengalami cedera lutut yang parah sehingga membuatnya harus pensiun. Karena tertekan, Greysia pun menyatakan sempat berniat untuk pensiun. Hingga akhirnya dia mengurungkan niatnya.

Greysia kemudian bertemu dengan sosok Apriyani Rahayu. Beragam prestasi pun diraih keduanya. Puncaknya tentu medali emas Olimpiade Tokyo yang membuat seluruh negeri ini bersuka cita. Akhirnya, kita semua harus mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada pasangan Greysia Polii-Apriyani Rahayu. Kalian telah mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Dan kalian telah membuat kita semua kembali bergairah di tengah kelesuan yang melanda negeri ini. Kalian luar biasa!

Defy Indiyanto Budiarto Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PP Muhammadiyah

(mmu/mmu)