Kolom

Atlet Perempuan, Medali Emas, dan Rona Merah di Pipi Rakyat

Rizka Nur Laily Muallifa - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 13:46 WIB
Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020
Jakarta -

Berapa waktu belakangan saya terjerembab dalam kekalutan akibat mengerjakan liputan tentang para petani hutan yang kehilangan sumber penghidupan karena pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kekalutan itu begitu khusyuk hingga saya tak sempat turut dalam euforia para atlet Indonesia yang berlaga dalam Olimpiade Tokyo 2020, ajang olahraga paling bergengsi di dunia.

Berita kebahagiaan maupun kesedihan tentang kemenangan dan kekalahan para atlet Indonesia saya ketahui dari teman indekos, pencinta bulu tangkis yang dengan senang hati menyisihkan waktu dan kuotanya menonton atlet Indonesia dari segala cabang olahraga (cabor) bertanding di Olimpiade Tokyo 2020. Sebelum Senin (3/8/2021) siang, Indonesia mengantongi tiga medali dari satu cabor, yakni angkat besi.

Windy Cantika Aisah menjadi peraih medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Gadis kelahiran Bandung itu mempersembahkan medali perunggu dari kelas 49 kg putri. Kemenangan Cantika, menurut dugaan saya, turut menjadi pelecut semangat bagi kawan-kawannya, tentu tanpa mengesampingkan motivasi kuat dalam diri setiap atlet. Setelah Cantika, dua atlet angkat besi lain menambah koleksi medali untuk Indonesia. Eko Yuli Irawan menyumbang medali perak dari kelas 61 kg dan Rahmat Erwin memboyong medali perunggu dari kelas 73 kg.

Medali Emas

Senin (2/8) siang itu, saya iseng membuka Instagram dan mendapati beranda penuh unggahan dari kawan-kawan yang berbahagia atas kemenangan ganda putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu yang menyabet medali emas Olimpiade Tokyo 2020 untuk cabor bulu tangkis.

Seperti kemenangan tiga atlet sebelumnya, kemenangan Greysia dan Apriyani merupa kebahagiaan tak terjelaskan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari unggahan kawan-kawan, saya turut merasakan betapa kebahagiaan itu seolah sanggup menepis derita panjang (walau sejenak) akibat pandemi Covid-19. Kawan-kawan saya dan kiranya rakyat Indonesia secara umum mungkin kehilangan nuansa meriah nonton bareng (nobar) karena pandemi tak memungkinkan hal itu dilakukan. Namun, rupanya menonton sendirian di indekos atau bersama keluarga di rumah tak mengurangi kemeriaahan pertandingan dan efek setelahnya.

Gresysia dan Apriyani menjawab pertanyaan yang sejak mula dilontarkan, mampukah Indonesia mempertahankan tradisi emas? Kita menggenggam jawabannya hari ini, dari atlet perempuan Indonesia. Dalam jagat olahraga Indonesia, keseriusan Greysia dan Apriyani membaktikan diri bagi negeri tercinta tampak sejak pertama kali keduanya dipasangkan sebagai ganda putri pada 2017 silam. Di tahun itu, keduanya memenangkan Thailand Open Grand Prix Gold. Pada tahun-tahun berikutnya, nama ganda putri Indonesia itu semakin melambung lantaran menjadi pemenang French Super Series, turnamen India Open 2018, turnamen SEA Games Filipina, dan termutakhir Olimpiade Tokyo 2020. Deretan prestasi itu belum termasuk saat keduanya beberapa kali menjadi pemenang runner up pada sejumlah laga olahraga internasional.

Sosok Ibu

Rupanya, perjalanan karier para atlet perempuan Indonesia yang membawa pulang medali Olimpiade Tokyo 2020 tak bisa dilepaskan dari sosok ibu. Atlet angkat besi Cantika lahir dari pengasuhan penuh asih Siti Aisah. Siti ialah atlet angkat besi kenamaan Indonesia yang pada tahun 1988 berhasil memboyong medali perunggu di Kejuaraan Dunia Angkat Besi. Sebagai sosok ibu, Siti berhasil mendampingi Cantika menjalani pilihan hidupnya sebagai atlet.

Awalnya, Cantika sering melihat sang ibu melatih kakaknya angkat besi. Siti kemudian menawari Cantika untuk ikut latihan bersama. Gayung bersambut, Cantika yang saat itu masih Kelas 2 SD rupanya tertarik dengan cabor tersebut. Kini, kita melihatnya sebagai atlet perempuan muda tangguh. Ia selalu tampil dengan rona muka penuh percaya diri seakan siap menghentakkan dunia dengan prestasinya. Penampilan yang demikian juga selalu terpancar dari raut muka ganda pebulu tangkis putri, Greysia dan Apriyani.

Tak ubahnya Cantika, perjalanan karier Greysia sebagai pebulu tangkis juga tak bisa dilepaskan dari sosok sang ibu, Hersyalin Polii. Hersyalin rela menjual bajunya demi membelikan Greys kecil raket agar ia bisa latihan secara maksimal. Kedua orangtua Greys bahkan rela pindah dari Manado ke Jakarta demi mendukung kelancaran karier putrinya sebagai atlet.

Apriyani yang menggemari olahraga Bulu Tangkis sejak Kelas 2 SD akhirnya bisa memiliki raket pertama berkat perjuangan sang ayah, Ameruddin. Sebelumnya, Apriyani bermain Bulu Tangkis dengan raket yang dibuat ayahnya dari papan kayu. Melihat tekat kuat sang buah hati, di tengah keterbatasan ekonomi, Ameruddin kemudian membelikan raket usang yang tali senarnya sudah putus.

Menurut cerita Ameruddin, Sitti Jauhar, almarhum istrinya, adalah sosok yang paling mendukung impian Apriyani. Sitti tak pernah absen mendampingi anak bungsunya itu bertanding, terutama saat Apriyani masih di level junior. Ia bahkan beberapa kali menggadaikan perhiasannya supaya sang buah hati bisa terus bermain bulu tangkis.

Kasih sayang dan ketulusan ibu ketiga atlet perempuan Indonesia itu menjadi suara yang terus-menerus bergema dalam diri anak-anaknya, bahkan dalam skala yang lebih luas mengetuk kesadaran seluruh rakyat Indonesia hari ini. Sosoknya menjadi elan vital tidak hanya dalam lingkup domestik rumah tangga, tetapi juga di ranah publik yang masih sering disebut milik para laki-laki.

Kemenangan ketiga atlet perempuan Indonesia ini mestinya menjadi pemantik lahirnya narasi-narasi baik tentang perempuan, bukan sebaliknya. Sementara itu, hari ini kita masih mendapati oknum media mendiskreditkan para atlet perempuan dengan merilis berita-berita tak sensitif gender dan/atau menyinggung keyakinan. Di antaranya, muncul berita yang mempertanyakan agama Apriyani hingga mengapa Cantika tak mengenakan jilbab.

Lebih jauh, para atlet perempuan dari berbagai belahan dunia yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 juga tak terelakkan dari pemberitaan yang demikian. Alih-alih memberitakan perjalanan karier dan perjuangan para atlet perempuan berlaga di ajang olahraga paling bergengsi itu, keberadaan mereka justru dikerdilkan media dengan berita sensasional yang acapkali memakai standar "dunia ini milik laki-laki".

Kemenangan para atlet perempuan Indonesia di Olmpiade Tokyo menyebabkan rona merah di pipi rakyat Indonesia sebagai ekspresi kebahagiaan yang langka di tengah situasi sulit pandemi. Kebahagiaan itu mestinya tak dicederai oleh apa dan siapapun.

Rizka Nur Laily Muallifa menulis esai dan puisi

Simak video 'Momen Kedatangan Greysia/Apriyani dkk di Tanah Air':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)