Kolom

Bencana Virus dan Stres Berkepanjangan

Lya Fahmi - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 10:57 WIB
Portrait of sad young woman with face protective mask looking through the window at home
Foto ilustrasi: Getty Images/damircudic
Jakarta -

Sudah cukup lama saya menjadikan aktivitas menulis status di Facebook sebagai coping strategy dalam menghadapi tekanan hidup. Menulis tentu saja tak memberi solusi, tapi setidaknya memberi saya kesempatan untuk berefleksi. Melalui aktivitas menulis saya memeriksa emosi dan berusaha mengais makna atas apa yang sedang terjadi.

Namun dalam beberapa waktu terakhir, menulis di Facebook tak lagi terasa membantu selain untuk mendokumentasikan peristiwa dan emosi yang saya rasakan. Dengan apa yang saya hadapi akhir-akhir ini, mungkin saya membutuhkan lebih dari sekadar menulis untuk mengekspresikan emosi. Lalu, saya mengambil langkah drastis yang sangat jarang saya lakukan, yaitu mematikan akun Facebook.

Hal pertama yang saya lakukan setelah mematikan akun Facebook adalah menghubungi seorang psikolog yang berpraktik di salah satu rumah sakit swasta di utara Kota Yogyakarta. Setelah berjuang mengatasi emosi sendiri yang tak kunjung mereda, saya putuskan untuk mencari pertolongan. Namun, mencari pertolongan profesional di masa lonjakan Covid-19 sepertinya tak semudah mencari pertolongan di hari-hari biasa.

"Mohon maaf belum bisa melayani konseling ya, Mbak karena saya sedang isolasi mandiri."

Begitu bunyi pesan yang saya terima dari psikolog andalan saya itu. Saya bersiap untuk melaksanakan konseling daring, tapi saya lupa bahwa ada kemungkinan psikolog yang saya tuju tak bisa memberi layanan karena sedang terpapar Covid-19. Saya kira, dampak pandemi terhadap industri psikologi hanya sebatas perpindahan layanan luring ke layanan daring. Tapi seperti layanan-layanan kesehatan lainnya, pandemi juga mengubah ritme layanan-layanan konsultasi psikologi yang dibutuhkan.

Mengingat kondisi yang saya alami cukup mendesak, saya meminta rekomendasi psikolog lain. Psikolog saya memberikan satu nama dan juga tempat praktiknya. Tak menunggu lama, saya segera menghubungi tempat praktik itu untuk melakukan proses pendaftaran. Ketika admin mengonfirmasi komponen biaya, saya terdiam cukup lama untuk menimbang melanjutkan proses pendaftaran atau tidak.

Angka yang disebutkan sebenarnya angka yang wajar untuk satu sesi konseling psikologi, tapi dengan kekuatan finansial saya saat ini, angka itu terasa memberatkan juga. Jika bukan karena kesadaran bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, saya hampir menghentikan proses pendaftaran dengan alasan finansial. Namun, proses pendaftaran akhirnya saya lanjutkan dengan pertimbangan biaya sebanyak itu tak seberapa dibandingkan kesehatan mental saya secara jangka panjang.

Saat diminta untuk menuliskan gambaran permasalahan secara ringkas, saya menulis gambaran permasalahan seperti di bawah ini.

"Saat ini, saya menjadi tim tracer Covid-19 di puskesmas. Dalam 3 minggu terakhir, load pekerjaan meningkat. Selain itu, saya juga merasa sangat lelah karena hampir setiap hari menerima laporan kematian pasien-pasien yang berada dalam pantauan puskesmas. Saya juga merasa was-was karena beberapa kerabat dekat sedang terinfeksi Covid-19."

Tak lama setelah mengirim ringkasan permasalahan, admin mengonfirmasi ulang bahwa ada penyesuaian biaya untuk konsultasi yang akan saya lakukan. Saya was-was biayanya akan lebih tinggi dari yang disebutkan diawal karena saya meminta untuk dihubungkan dengan psikolog senior. Namun, dugaan saya salah. Psikolog yang bersangkutan menghendaki proses konsultasi dilakukan secara pro bono. Artinya, saya tak perlu membayar biaya konseling. Saya hanya diminta membayar biaya asesmen. Informasi itu membuat saya lega tak terkira.

Pada awalnya, saya optimis akan bisa melalui pandemi dengan kondisi kesehatan mental yang terjaga. Seperti yang pernah saya tuliskan dalam Kolom detikcom pada 7 April 2020 dengan judul Kecemasan yang Tak Terhindarkan, kecemasan-kecemasan yang dialami pada masa pandemi tak lebih dari respons normal dari situasi yang abnormal. Saya memprediksi individu akan beradaptasi dengan situasi baru dan perlahan-lahan mampu mengatasi kecemasan-kecemasannya itu.

Namun, hal yang belum saya pahami ketika itu adalah bencana virus ini merupakan bencana dengan karakteristik yang berbeda dari bencana alam pada umumnya. Sehingga ia juga menimbulkan reaksi stres dan dampak psikologis yang berbeda dari peristiwa traumatis lainnya (Olff dkk, 2021).

Stres berkepanjangan adalah karakteristik psikologis yang perlu digarisbawahi dari krisis Covid-19. Bencana virus tidak berlangsung linear seperti bencana alam pada umumnya. Jika ancaman gempa bumi terjadi seketika, maka ancaman Covid-19 terjadi secara berkelanjutan. Krisis pandemi seolah-olah memukul kita berulang kali bahkan sebelum kita sempat memulihkan diri.

Banyak praktisi dan ilmuwan psikologi yang menyadari bahwa bahaya pandemi tidak hanya terkait dengan kesehatan fisik hari ini. Dengan karakteristik pandemi Covid-19 yang berkelanjutan, ia juga berpotensi mengancam kesehatan mental dan kesehatan fisik secara jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat mengakibatkan kerusakan otak, meningkatkan kemungkinan hipertensi, dan membuat individu menjadi lebih mudah terinfeksi (Carlson, 2013).

Maka dari itu, andai pun kita bisa lolos dari infeksi virus, kita belum tentu bisa lolos dari ancaman kesehatan fisik di kemudian hari yang diaktivasi oleh stres berkepanjangan yang tak tertangani hari ini. Kesadaran inilah yang membuat banyak psikolog dari berbagai latar organisasi bergotong royong memberikan layanan bebas biaya. Untuk menyebut beberapa nama, ada Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dengan layanan SEJIWA, Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dengan jaringan psikolog dan psikiaternya, dan KAGAMA Telekonseling yang diinisiasi oleh alumni Universitas Gadjah Mada.

Saya kira, kesadaran yang sama menjadi alasan psikolog yang saya tuju menggratiskan seluruh biaya layanannya untuk saya. Semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh psikolog-psikolog di Indonesia tentu saja langkah yang sangat patut untuk diapresiasi. Namun, permasalahannya tidak selesai sampai di situ saja. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana layanan yang sudah tersedia dapat benar-benar diakses dan dioptimalkan oleh masyarakat yang menjadi sasaran.

Sebagai seseorang yang memang bekerja dalam ranah kesehatan mental, saya terlatih untuk mengamati perubahan-perubahan emosi. Saya tahu kapan harus mencari pertolongan dan ke mana mencari pertolongan yang saya butuhkan. Namun, kebanyakan orang tidak seperti saya. Tak semua orang sadar dengan perubahan-perubahan emosi yang signifikan. Tak semua orang mengerti apa yang harus mereka lakukan ketika aspek psikologisnya sudah sangat terancam.

Pun ketika sudah menyadari membutuhkan pertolongan, stigma terhadap gangguan jiwa terkadang menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengakses pertolongan profesional. Literasi kesehatan mental yang rendah dan stigma yang kuat terhadap isu kesehatan mental menjadi masalah tersendiri ketika keran-keran layanan psikologi sudah terbuka lebar.

Tiba-tiba saja saya ingat dengan para tenaga kesehatan yang sering difitnah meng-covid-kan pasien demi insentif yang akan mereka dapatkan. Sebagai kelompok yang paling rentan dengan stres berkepanjangan dan paradigma kesehatan mental yang tak terlalu mendapat tempat dalam penanganan pandemi, saya malah curiga bahwa insentif yang mereka dapatkan akan digunakan kembali untuk perawatan kesehatan mental atau perawatan kesehatan fisik di kemudian hari. Semoga tidak terjadi.

Lya Fahmi psikolog di Sleman

(mmu/mmu)