Kolom

Memahami Prabowo dalam Buku 'Kepemimpinan Militer'

Ian Moantratama - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 21:09 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Sebagai tokoh politik paling populer untuk Pemilihan Presiden di tahun 2024, banyak masyarakat ingin mengetahui tentang Prabowo Subianto. Salah satunya adalah dengan membaca buku terbaru beliau yang berjudul 'Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto' yang diterbitkan pada bulan Juni 2021 lalu. Artikel ini bermaksud mengulas isi buku tersebut yang ditinjau dari dua hal, yaitu presentasi dan substansi materinya.

Dari segi presentasi, buku ini sangat elegan. Ukurannya relatif besar, yaitu 21 x 29,7 cm dan dicetak penuh warna di atas kertas glossy. Buku ini bersampul keras, diberi jaket dengan berat 2,9 kg dan tebalnya 574 halaman. Kemasan buku seperti ini jarang ditemui di toko buku karena harganya yang kurang terjangkau mayoritas pembeli. Buku ini dijual seharga Rp 328 ribu via toko daring yang sekilas terkesan lebih murah daripada ongkos produksinya.

Buku ini seperti sebuah masterpiece Prabowo untuk dipersembahkan pada generasi muda Indonesia. Tidak untuk mencari laba, namun lebih untuk menyebar inspirasi dan motivasi. Gaya tulisan di buku ini semiformal dan tidak melampirkan sitasi maupun daftar pustaka. Sehingga buku ini lebih tepat dikategorikan sebagai memoar atau catatan (sesuai dengan anak judulnya) ketimbang buku teks atau buku ilmiah. Buku ini berisi catatan tentang tokoh-tokoh yang mempunyai sifat kepemimpinan yang dianggap menonjol oleh penulis (h.423).

Dari segi substansi, Prabowo menceritakan banyak jenderal dan prajurit yang menjadi teladannya. Yang ternama dan kurang ternama, dari dalam maupun luar negeri. Setidaknya terdapat 94 tokoh yang terdiri dari 45 perwira tinggi TNI, 7 prajurit TNI non-Pati, 15 tokoh sipil dan 27 tokoh asing. Jumlah tokoh tersebut sangat banyak sehingga kaya akan cerita walau dalam penuturannya cukup banyak terjadi pengulangan kalimat.

Nasionalisme, militansi, semangat juang, keberanian, dan kerelaan berkorban merupakan sifat keprajuritan patriotik yang menjadi benang merah dari tokoh-tokoh tersebut. Sedangkan karakter pemimpin militer ditekankannya pada keberanian (yang dilandasi keyakinan), kepribadian baik yang menonjol, kesetiaan, kemampuan profesional, semangat, kebugaran jasmani, kehadiran pada momentum yang tepat, visi, kreativitas, kesiapan menghadapi situasi terburuk dan tanggung jawab.

Melalui buku ini Prabowo hendak mengajak masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya untuk gemar mempelajari sejarah bangsa Indonesia. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya. Akar sejarah bangsa Indonesia berasal dari bangsa-bangsa yang besar, seperti Sriwijaya, Mataram, Gowa, Majapahit dan lainnya. Pendahulu kita di bawah pimpinan Raden Wiajaya adalah satu dari empat kerajaan yang berhasil mengalahkan invasi pasukan Mongol.

Yang menarik dari buku ini adalah pandangan Prabowo tentang kepemimpinan dan karakter dirinya. Disebutkan bahwa prajurit yang bersemangat dan berdedikasi sesungguhnya tidak memiliki banyak permintaan, kecuali ingin dihormati dan waktunya tidak disia-siakan (h.188-9). Berulang kali sejarah membuktikan bahwa kunci keberhasilan suatu bangsa adalah pada pemimpinnya. Tidak ada prajurit yang jelek, hanya ada komandan yang jelek. Sesuai adagium 'seribu harimau jika dipimpin kambing akan embeeek semua' (h.298).

Meneladani Pangeran Singosari, Prabowo memandang seorang pemimpin militer harus mampu mendapatkan dukungan dari rakyat dengan memberi kebaikan yang berkesinambungan. Tidak cukup hanya jago berperang. Pemimpin militer harus pandai membangun (h.270). Demikian pula dengan Julius Caesar yang merupakan prajurit profesional, menguasai taktik dan strategi perang, memimpin dari depan, namun memperhatikan kesejahteraan pasukan dan membela rakyat miskin (h.365).

Prabowo juga mengagumi George Washington yang merupakan pahlawan perang AS dalam melawan Kerajaan Inggris selama delapan tahun. Setelah kemenangannya, Washington justru menyerahkan jabatan panglima perang kepada Kongres dan akhirnya terpilih menjadi presiden pertama AS enam tahun kemudian melalui proses yang demokratis (h.388-9).

Soekarno merupakan tokoh yang dianggap ksatria panutan oleh Prabowo. Soekarno dipandangnya sebagai seorang intelektual, orator dan organisator yang hebat (h.300). Ayah Prabowo, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo pernah berseberangan dengan Soekarno, namun tetap sangat menghormati jasa Soekarno dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada masa akhir hidupnya, Soemitro mengaku sangat menyesali keputusannya untuk berpisah dengan Bung Karno (h.307). Nama partai Prabowo, Gerindra, sesungguhnya berasal dari nama partai yang didirikan Soekarno sebelum Indonesia merdeka, yaitu Partai Indonesia Raya atau Parindra. Kakek Prabowo sempat menjadi ketuanya. Namun saat Parindra hendak didaftarkan Prabowo ke Kemenkumham RI, keinginan tersebut ditolak karena nama partai itu telah digunakan dalam Pemilu di tahun 1955 (h.309-10).

Dalam hal pertempuran, Prabowo juga mengagumi Zhuge Liang yang dengan sengaja melepas musuh yang dikalahkannya beberapa kali hingga musuh tadi berbalik menjadi pendukung setianya (h. 375). Hal serupa terjadi pada negosiasi antara Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu yang menghindari pertempuran dan memilih bekerja sama dalam membangun Jepang (h.379).

Selain itu Prabowo juga mengagumi Abraham Lincoln yang mengajak serta rival politik yang pernah menghinanya, Seward, menjadi Menteri Luar Negeri. Lincoln sesungguhnya tidak suka Seward, namun Lincoln tahu Seward cinta Amerika Serikat dan memiliki kapasitas yang mumpuni sebagai Menlu (h.410).

Dari buku ini, pembaca dapat memaknai Prabowo sebagai gabungan antara a man of action dan a man of intellect, seperti sosok Churchill yang dikaguminya (h.426). Prabowo adalah pemimpin yang berani menghadapi keadaan berbahaya atau genting (h.426). Namun keberanian ini tentunya penuh perhitungan yang matang seperti karakter Mustafa Kemal Ataturk (h.435). Termasuk berani mengambil keputusan yang tidak populer demi kepentingan bangsa seperti yang dilakukan Charles de Gaulle pada tanggal 20 Mei 1940 (h.443). Prabowo juga memberikan kisi-kisi bahwa gambaran tentang dirinya dapat digali dari buku Paulo Coelho yang berjudul 'Warrior of the Light' (h.473).

Prabowo memandang filosofi kepemimpinan untuk Indonesia sebaiknya merupakan gabungan dari Barat, Timur dan tentunya budaya leluhur Indonesia. Dari budaya leluhur terdapat hasta brata, sepuluh filosofi masyarakat Sunan Kalijaga, ing ngarsa sung tulada, jer basuki mawa beya, sabda pandita ratu, tiga pesan Soeharto, menang tanpa ngasorake, dan becik ketitik ala kentara.

Bagi Prabowo, pejabat itu tidak otomatis menjadi pemimpin. Seorang yang disebut pemimpin harus memberikan contoh (h.493), memberikan manfaat bagi pengikutnya dan mampu melakukan apa yang diajarkannya (h.494), berhati-hati dalam bertutur kata, menepati janjinya, dan memiliki kemampuan dalam bidang yang ditanganinya (h.503-4). Khusus untuk pemimpin militer, ia harus memikirkan yang terbaik untuk anak buah dan kesatuan, termasuk masalah persenjataan, makanan, minuman, ilmu pengetahuan dan istirahatnya (h.511,537,547).

Pada bagian akhir buku ini, Prabowo menyarikan filosofi kepemimpinan pada sebelas asas kepemimpinan TNI, yaitu taqwa, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purba wisesa, ambeg parama arta, prasaja, satya, gemi nastiti, belaka dan legawa. Penjelasan dari kesebelas asas tersebut lebih baik dibaca langsung pada bukunya.

Prabowo kemudian menekankan kembali akan pentingnya belajar sejarah agar kita tidak mengulangi kesalahan sejarah dan bertekad untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat. Bangsa yang tidak akan diinjak-injak bangsa lain yang lebih kuat. Sesuai dengan pandangan filsuf Yunani Thucydides yaitu 'yang kuat akan melakukan apa yang dia dapat dan yang lemah hanya akan menderita '(h.209,571).

Ian Montratama Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Pertamina

(akd/ega)