Kolom

Corona di Jogja dan "Sapa Aruh" Sang Raja

Toto TIS Suparto - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 12:18 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat sapa aruh di Balai Kota DIY, Selasa (22/6/2021).
Sultan Hamengku Buwono X (Foto: Heri Susanto/detikcom)
Jakarta -

Mula pamundhutku, sing padha eling lan waspada. Eling marang Kang Gawe Agesang kanthi "lampah" ratri, zikir wengi, nyuwun pangaksami lan pangayomane Gusti. Waspada kanthi reresik diri lan lingkungane dhewe-dhewe. Nek krasa kurang sehat kudu ngerti lan narima yen wajib "mengisolasi diri" pribadi sajrone 14 dina. Jaga pribadi. Jaga keluwarga. Jaga paseduluran. Jaga masarakat. Kanthi jaga, rada ngadhohi kumpul-kumpul bebarengan yen pancen ora wigati tenan.

Begitulah penggalan "sapa aruh" dari Hamengku Buwono X Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang disampaikan pada Senin Pon, 23 Maret 2020, 28 Rejeb taun Wawu 1953. Sapa aruh kurang lebih berarti saling menyapa. Dalam hal Raja Keraton Ngayogyakarta adalah menyapa warga. Inti dari sapa aruh ini adalah "eling lan waspada".

Penggalan itu kurang lebih berarti: "Agar eling lan waspada. Eling atas Sang Maha Pencipta dengan laku spiritual: "lampah" ratri, zikir malam, mohon pengampunan dan pengayoman-Nya. Waspada dengan cara reresik diri dan lingkungannya sendiri-sendiri. Kalau merasa kurang sehat harus memiliki kesadaran dan menerima kalau wajib "mengisolasi diri" pribadi selama 14 hari sama dengan masa inkubasi penyakitnya. Jaga diri. Jaga keluarga. Jaga persaudaraan. Jaga masyarakat, dengan memberi jarak aman, dan sedapat mungkin menghindari keramaian jika memang tidak mendesak betul".

Raja Keraton Ngayogyakarta beberapa kali menyampaikan sapa aruh terkait perkembangan Corona. Setelah Maret 2020 itu, dengan inti "eling lan waspada", ada lagi sapa aruh berikutnya dengan inti berbeda.

- Selasa (14/4/2020): Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi

Ajaran Sultan Agung itu bermakna mengasah ketajaman akal-budi membasuh malapetaka bumi. Relevensinya, kita harus meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, bersamaan dengan melestarikan lingkungan, juga membuang sifat-sifat serakah ; golek menange dhewe, golek butuhe dhewe, golek benere dhewe.

- Selasa (21/4/2020): Manekung, Maneges Mring Gusti

Sultan mengajak masyarakat untuk mengintrospeksi diri dan percaya akan bisa mengatasi masa krisis pandemi Covid-19 ini dengan baik. "Momentum ini adalah juga saat untuk kita introspeksi diri. Manekung, maneges mring Gusti, ke haribaan-Nya Yang Maha Pengampun. Saat ini juga mengingatkan saya ketika menggaungkan Maklumat Reformasi di hadapan ratusan ribu orang tahun 1998, bahwa kita akan bisa mengatasi masa krisis dengan baik," tutur Sultan.

- Selasa (9/2/2021): Guyub Rukun

Maka, hidupkanlah terus tenggang rasa antartetangga dengan kemauan siap berbagi atas dasar "peduli-lindungi". Sapa aruh dengan saling menyapa atas kondisi kesehatan dan keselamatan tetangga untuk meningkatkan kesiap-siagaan warga. Guyub-Rukun, dengan mengedepankan semangat gotong-royong dalam menghadapi Covid-19 serta berbagai dampaknya.

- Selasa (16/2/2021): "Kolaborasi atau Mati"

"Jika semuanya berubah total, sistem baru menjelang tiba. Apakah kita siap menyongsongnya? Maka ubahlah cara berpikir dan bertindak sejak sekarang. Kalau dulu, suntikan semangatnya Merdeka atau Mati, kini pilihannya juga tinggal dua kolaborasi atau mati," kata Sultan..

Perlu Sapa Aruh Lagi

Cukup lama tak ada sapa aruh lagi. Yang ada pernyataan-pernyataan via media. Tampaknya Sultan perlu menyampaikan sapa aruh lagi jika melihat perkembangan Corona di Jogja beberapa hari ini. Kasus positif virus Corona di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali mencatat rekor Kamis lalu. Data terbaru mencatat 595 kasus, dengan 235 kasus disumbang dari Sleman.

Sultan pun merespons rekor itu. "Kemarin (Ingub No 15/INSTR/ 2021) maunya ada keputusan izin kelurahan harus sampai atasan (camat) gitu loh dan sebagainya dengan harapan semakin ketat masyarakat (tidak berkerumun) gitu, tapi kalau masih tembus arep apa meneh (mau apa lagi kebijakannya). Ya lockdown. Selama masyarakat sendiri tidak mengapresiasi dirinya sendiri untuk disiplin," ujar Sultan ( detikcom,,Jumat, 18 Juni 2021 12:02 WIB).

"Arep apa maneh" menggambarkan kekesalan Sultan terhadap rakyatnya dalam menerapkan disiplin nasional. Maksud disiplin nasional di sini yaitu kemampuan dan kemauan untuk mematuhi semua ketentuan yang telah ditentukan oleh negara. Prokes merupakan ketentuan negara yang semestinya dipatuhi oleh rakyatnya.

Memang beralasan kekesalan Sultan, mengingat Gubernur DIY itu tak kurang-kurang mengingatkan masyarakat agar patuh terhadap prokes. Di jalanan pun banyak dipasang spanduk, baliho maupun mural tentang pentingnya prokes. Media juga ikut mengkampanyekan prokes. Namun tetap saja banyak orang mengabaikan prokes. Tampaknya disiplin nasional warga perlu ditingkatkan.

Antropolog kita Prof Koentjaraningrat mengungkapkan disiplin kita itu masih tergolong disiplin yang berdasarkan ketaatan kepada orang yang konkret dan pada dasarnya sama dengan disiplin berdasarkan ketaatan kepada senior, atasan, pangkat tinggi, guru, atau pemuka agama, yang semuanya orang-orang yang konkret.

Dalam bayangan beliau, idealnya disiplin nasional Indonesia yang juga berdasarkan ketaatan kepada hal-hal yang abstrak, seperti peraturan, norma, dan hukum, dan hal yang lebih abstrak lagi, yaitu ketaatan kepada prinsip. Disiplin inilah yang belum berkembang dalam mentalitas orang Indonesia umumnya.

Disiplin berupa ketaatan kepada orang-orang yang konkret itu bukanlah fondasi kokoh bagi mentalitas masyarakat. Yang kokoh yang mana? Bila disiplin itu atas kehendak individu, atas kehendak sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain. Ini persis yang dikemukakan oleh filsuf Michel Foucault dalam bukunya "Discipline and Punish: The Birth of the Prison" (1975). Foucault berpendapat disiplin adalah bukan pelaksanaan kehendak atas paksaan yang datang dari orang lain, tetapi disiplin merupakan pelaksanaan atas kehendak sendiri.

Nah, saatnya Sultan menyampaikan sapa aruh dengan tema disiplin nasional tersebut. Apapun yang disabdakan raja, rakyat akan mendengarkan secara seksama. Boleh jadi ada di antaranya menjadi lebih disiplin.

Kenapa lewat sapa aruh? Sapa aruh menandai sikap perhatian orang Jawa kepada sesama. Maka, lewat sapa aruh itu Sultan lebih memberikan sikap perhatian kepada rakyatnya. Apalagi disampaikan dalam bahasa Jawa akan lebih memberi penghormatan kepada rakyat sekaligus enak dalam menyampaikan petuah. Selain itu, sapa aruh menjadikan rasa dekat, akrab, dan bersaudara antarorang yang bertegur sapa.

Sapa aruh terhadap sesama tersebut selain sebagai sarana menjalin eratnya hubungan, juga sebagai sarana untuk menjaga keharmonisan hubungan antarsesama.

Maka dari itu, rakyat Ngayogyakarta ini menunggu sapa aruh dari Sultan, agar membuka mata dan telinga rakyat bahwa melalaikan prokes membuat virus kian menggila.

Toto TIS Suparto pengkaji filsafat moral, warga Sewon Yogyakarta

(mmu/mmu)