Kolom Kang Hasan

Mengabaikan Covid-19

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 10:30 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Melonjaknya pertambahan kasus infeksi Covid-19 ini sudah diramalkan sejak awal bulan puasa. Kini terbukti. Pemerintah sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahayanya pergerakan massa dan kumpul-kumpul selama Lebaran. Tidak hanya mengingatkan, pemerintah juga sudah berupaya mencegah dengan berbagai upaya. Tapi kencang usaha penyekatan, kencang pula usaha untuk menerobosnya.

Sejak awal terlalu banyak orang meremehkan pandemi Covid-19 ini. Bahkan Menteri Kesehatan di masa itu tampak sangat santai. Demikian pula berbagai pejabat terkait. Waktu itu masih ada yang beranggapan bahwa wabah ini tidak akan masuk ke Indonesia. Sudah masuk pun orang masih menganggap wabah ini tidak berbahaya.

Hingga saat ini pun begitu. Makanya anjuran bahkan larangan untuk tidak mudik Lebaran tadi tidak mempan. Demikian pula berbagai anjuran lain, seperti kumpul-kumpul perayaan, ibadah, dan sebagainya.

Bagi banyak orang pandemi Covid-19 ini memang sesuatu yang mereka abaikan dengan berbagai alasan. Ada kelompok orang-orang yang beralasan bahwa mereka harus bekerja mencari makan. Tapi ketika diatur untuk tetap bisa bekerja dengan protokol kesehatan, mereka tetap enggan. Yang lebih banyak adalah orang-orang yang ingin agar kehidupan tetap seperti biasa. Mereka tak mau kehidupan berubah karena pandemi.

Apakah tidak takut pada bahayanya? Sepertinya kebanyakan orang kita memang tidak takut pada bahaya. Dalam keseharian kita biasa melihat orang-orang mengabaikan keselamatan, di jalan raya atau di tempat kerja. Bagi orang Indonesia, kalau potensi atau peluang terjadinya kejadian yang melukai hanya 20-25%, itu masih merupakan situasi yang bisa ditantang. Mereka lebih melihat ke peluang 75-80% kejadiannya tidak terjadi.

Makanya orang bisa dengan enteng menerobos lampu merah, berkendara tanpa helm, memanjat tanpa pengaman saat bekerja, dan sebagainya.

Tingkat kematian akibat Covid-19 di bawah 3%. Bagi banyak orang, itu bukan hal menakutkan. Peluang terjadinya tabrakan sepeda motor di jalan raya jauh lebih besar dari itu. Kalau mereka tidak takut pada tabrakan di jalan raya, memang sulit untuk membuat mereka takut pada Covid-19. Orang-orang sudah terbiasa melihat bahwa yang terinfeksi Covid-19 hanya perlu dirawat sebentar, lalu sembuh.

Bagi kebanyakan orang, angka pertambahan harian, tingkat hunian rumah sakit, ketersediaan tenaga kesehatan, dan sebagainya adalah soal-soal abstrak yang tidak menyentuh hidup mereka sendiri. Sebagian kecil baru tersadar kalau masalah terkait dengan itu membelit mereka sendiri.

Demikian pula soal-soal yang lebih jauh seperti bagaimana memulihkan ekonomi akibat pandemi ini. Banyak orang hanya mengeluh bahwa kehidupan ekonomi mereka menjadi sulit, tapi tidak kunjung menyadari bahwa keadaan ini hanya bisa berubah kalau orang-orang secara patuh secara kolektif.

Dengan pola pikir yang dianut banyak orang seperti itu maka kita semua harus sadar bahwa pandemi ini masih akan sangat panjang bagi kita.

Setelah setahun lebih pandemi ini berlangsung, pemerintah seharusnya mengubah pola komunikasi. Memaparkan angka-angka saja jauh dari cukup. Yang harus dilakukan adalah menggugah kesadaran publik bahwa kehidupan kita secara kolektif akan makin memburuk bila pandemi tidak diakhiri. Dan pandemi hanya bisa diakhiri kalau ada langkah-langkah kolektif yang berbasis pada kepatuhan.

Di belahan dunia lain orang-orang sudah mulai bersiap mengakhiri pandemi. Jangan sampai kita terus terseok-seok tak kunjung bisa mengakhirinya.

(mmu/mmu)