Pustaka

Perjuangan Membangun Identitas

Danang TP - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 11:40 WIB
Perjuangan Membangun Identitas
Jakarta -

Judul Buku: Waria, Bahasa, dan Dunia Malam; Penulis: Stanislaus Yangni; Penerbit: Buku Baik, Februari 2021; Tebal: 138 halaman

Nasib bahasa adalah nasib kehidupan manusia. Berbagai kisruh, gejolak, dan masalah dalam hidup manusia bisa bermula dari kesalahpamahan memahami bahasa. Bahasa adalah rumah bagi manusia, begitu tulis filsuf Jerman Martin Heidegger. Bahasa menjadi kunci keberadaan manusia, untuk dirinya sendiri maupun untuk dipahami orang lain. Tanpa bahasa, hidup bisa mampat dan tidak terpahami.

Lalu bagaimana jika keberadaan bahasa justru untuk menyembunyikan makna, menyamarkan arti, dan melindungi diri dari ancaman? Bahasa diciptakan dan kemudian digunakan hanya dalam kelompok kecil "kita" minoritas untuk berlindung dari "kami" mayoritas. Begitulah konteks kemunculan bahasa waria yang dijelaskan Stanislaus Yangni dalam bukunya Waria, Bahasa, dan Dunia Malam (2021).

"Bahasa bagi kelompok waria di satu sisi digunakan sebagai alat ekspresi, di sisi lain digunakan sebagai alat pengaman (ekspresi gender dan orientasi seksual)." (hal 4). Waria butuh ruang aman, sebab sampai hari ini kelompok waria masih menjadi minoritas seksual yang rentan mengalami diskriminasi di Indonesia. Sebagian orang sulit menerima ekspresi gender dan seks waria yang berada di luar orientasi heteroseksual mayoritas.

Mengamati dari Dekat

Kompleks persoalan kehidupan waria lengkap dengan bahasa dan dunia malam diceritakan Stanislaus Yangni (selanjutnya disebut Sius) dengan meyakinkan dalam buku ini. Sius mengamati dari dekat kehidupan waria di Yogakarta. Ia bahkan terlibat, hidup bersama waria di Kricak Kidul, Kota Yogyakarta antara tahun 2002-2006.

Bahasa dan dunia malam pelacuran menjadi panggung bagi pembentukan kembali ruang dan identitas seorang waria. Bahasa waria dibentuk melalui aktivitas nyebong (mangkal) di cebongan (pangkalan). Ini adalah aktivitas dunia malam, tempat para waria menjajakan jasa seks kepada para tamu. Dunia malam para waria tidak hadir tanpa risiko. Seperti layaknya kehidupan minoritas seksual, dunia malam waria penuh ancaman dari mayoritas.

Ada garukan (penggrebekan) oleh aparat, ada tamu yang kasar, ada cibiran dan ejekan di dunia malam. Konteks ancaman semacam itu mengharuskan para waria menciptakan kode melalui bahasa. Kode kebahasaan ini berguna melindungi diri, sekaligus cara efektif untuk saling memahami sesama waria.

Sebagaimana diceritakan oleh seorang waria bernama Nina, bahasa waria amat dinamis. Dahulu bahasa ini mengambil kata dari bahasa Indonesia untuk kemudian akhirannya diganti dengan -ong. Kata "ke mana" menjadi "ke menong", "makan" menjadi "mekong". Namun, seiring dengan popularitas bahasa ini ketika mulai dikenal dan dipahami oleh kelompok di luar waria, para waria mulai menggantinya. Suatu waktu kata "ke menong" diganti jadi "ke mande" yang artinya sama yaitu "ke mana". Kemudian kata "mekong" diganti dengan "makassar" yang artinya "makan". (hal 11).

Sejak artis Deby Sahertian menerbitkan Kamus Bahasa Gaul yang kebanyakan memasukkan lema kata bahasa waria, bahasa waria makin populer di kalangan selebritis dan sering dipakai di beberapa siaran televisi. Ini mengancam keamanan para waria yang awalnya memunculkan bahasa itu untuk kode agar bisa berlindung dari berbagai ancaman di kehidupan malam mereka. (Bab 2).

Proses pergantian bahasa waria juga tidak memiliki aturan khusus. Kata Nina, bahasa ini tercipta karena spontanitas saja. Semakin berkembangnya ancaman terhadap minoritas waria, maka bahasa mereka juga semakin dinamis dan berkembang pula.

Berdasarkan cerita waria bernama Tari, pengunaan bahasa ini sangat menguntungkan waria. Terutama saat mereka harus berjuang mencari nafkah menjadi pekerja seks di dunia malam. "Kalau kita pakai bahasa waria itu menguntungkan. Seumpama ada orang, yang yaa, kita kan keluar malam jual diri. Namanya dunia malam tidak luput dari kekerasan dan kerusuhanlah, apalagi yang usil-usil sama waria. Kadang-kadang kalau ada tamu yang teler, tiba-tiba mau sama kita tapi dengan cara kasar, kita kasih tahu temen sesama waria. Kita pakai bahasa itu untuk kasih tahu ke semua waria orang itu mau brengsekin kita."

Bahasa Waria juga berguna dalam proses inisiasi atau penerimaan anggota baru dalam kelompok. Mereka yang baru menjadi waria atau disebut "banci kaleng" atau kalengan, mengalami proses peleburan bersama kelompok waria di pangkalan dunia malam. Proses peleburan ini adalah proses seorang waria pemula menjadi setara dengan kelompok waria senior.

Waria baru akan berlatih terbiasa menggunakan bahasa waria melalui interaksi dengan waria senior. Proses ini awalnya menandai suatu perbedaan, namun kesamaan antara waria senior dan pemula dimulai di sini. (hal 73).

Melalui bahasa baru yang diciptakan waria, mereka berupaya melepas segala lebel negatif tentang dirinya. Istilah-istilah, label, yang disematkan mayoritas berusaha digusur untuk diganti dengan lebel dan istilah yang diciptakan waria sendiri. (hal 138) Waria berusaha berbicara dan berdaulat atas martabat kemanusiaannya sendiri melalui bahasa.

Membaur

Sebanyak 23 orang waria dengan kisah kehidupan malam dan dunia kebahasaan yang diamati Sius dalam buku ini tinggal di kampung Kricak Kidul, Kota Yogakarta. Mereka kos dan membaur di antara perumahan warga kampung Kricak Kidul. Fakta ini kontras dengan pendapat bahwa waria sulit membaur dan diterima di masyarakat.

Sius menunjukkan bahwa kelompok waria memiliki andil dalam kehidupan di kampung tempat mereka tinggal. Mereka membangun interaksi dengan warga tetangga mereka. Bercanda, nongkrong, bermain dengan anak-anak warga adalah aktivitas keseharian mereka ketika siang hari tidak pergi ke pangkalan.

Waria di Kricak Kidul dianggap sebagai warga kampung yang setara dan memilik hak-haknya. Bahkan Ketua RT dan RW bersama waria mengadakan rapat setiap dua bulan sekali, diikuti juga oleh semua pemuda anggota Karang Taruna. Rapat itu membahas berbagai masalah yang muncul di antara para waria jika ada satu aturan baru di kampung, usulan untuk perbaikan, usulan kegiatan, dan bentuk-bentuk partisipasi yang dapat disumbangkan waria untuk warga kampung. (hal 26).

Stigma dan berbagai lebel negatif terhadap waria lahir dari keasingan dan sikap tidak mau tahu, tidak mau mengenali. Harus ada upaya untuk terlibat dan mengenali, lalu stigma bisa kita geser pelan-pelan untuk kemudian dihapuskan. Dan membaca buku ini adalah awal yang baik untuk mengenali kompleksitas kehidupan waria di Indonesia.

Danang TP mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma

(mmu/mmu)