Jeda

Menyetrika Pikiran yang Kusut

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 09 Mei 2021 11:08 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Sebelum bulan Ramadhan kemarin, saya dan seorang teman berjanji bertemu untuk membeli buku di toko buku langganan kami, dilanjut makan ke warung capjay favorit kami. Warung tersebut memang sering memutar radio lokal sebagai musik pengiring. Kami tidak sengaja mendengar iklan sabun pencuci piring ketika sedang menunggu pesanan datang.

"Anda hobi mencuci piring?" begitu bunyi iklan tersebut.

Saya dan teman saya saling berpandangan lalu ngakak bersama. Iklan kok lucu, begitu pikir kami. Ya, coba dipikir, apakah ada orang yang hobinya mencuci piring? Kalau mencuci piring adalah hal yang mau tidak mau harus dilakukan, mungkin iya. Tapi hobi? Banyak teman saya hobi masak. Mau mengotori perabot berapa biji pun oke saja. Tapi bisa dipastikan mereka akan malas mengerjakan aktivitas bernama isah-isah atau cuci piring.

Tapi tidak lama kami tertawa, teman saya seperti mengingatkan saya. "Alah kamu juga sama saja kali. Hobi kok menyetrika. Ya ampun, di saat orang malas sekali melakukannya, kamu malah kurang kerjaan," begitu kata teman saya.

Saya ingin membantah kalau yang saya lakukan bukanlah hobi. Saya sepakat kok kalau menyetrika itu pekerjaan menyebalkan. Saya lebih rajin mencuci baju daripada menyetrika. Tapi, menyetrika adalah pekerjaan yang akan saya kerjakan sendiri. Selama saya hidup di dunia, tidak sampai 10 kali saya menyerahkan baju untuk dikerjakan oleh jasa binatu. Itu juga karena saya sakit, kepepet. Tapi selama saya bisa, pasti akan saya kerjakan sendiri. Jujur, sebagai penganut aliran ringgo (garing dienggo, kering dipakai) saya tidak bisa jauh-jauh dari baju-baju saya. Menunggu pakaian antre di binatu itu menimbulkan kecemasan tersendiri.

Menyetrika bagi saya adalah kegiatan kontemplatif. Saya suka menikmati proses meluruskan baju kusut satu demi satu. Saya bukan orang yang perfeksionis harus menyetrika baju menjadi rapi jali. Yang penting sudah disetrika bagi saya adalah cukup. Dalam proses menyetrika tersebut saya sering merenung. Saya anggap baju-baju kusut itu adalah pikiran atau hati saya. Menyetrika baju tidak hanya merapikan baju-baju tersebut, tetapi juga pikiran atau hati saya yang seringkali semrawut. Biasanya saya menyetrika sambil mendengar pengajiannya Gus Baha. Sungguh pekerjaan yang barokah sekali, Bund.

Dulu saya pernah membaca buku berjudul Sewindu karya Tasaro GK. Meski dilabeli dengan kategori "faksi" (fakta fiksi), menurut saya itu adalah buku kumpulan catatan dirinya selama membina rumah tangga bersama istrinya. Saya paling suka bagian ketika Tasaro memuji cara istrinya menyetrika baju. Kalimat, "Aku suka caramu menyetrika baju," sering diulang dalam tulisannya. Sebagai orang yang suka melakukan aktivitas menyetrika, menurut saya itu romantis, selama yang disetrika memang benar-benar baju.

Makanya, saya merasa menjadi kaum minoritas. Di saat hampir semua orang sepakat bahwa lebih baik memasak daripada menyetrika, saya justru akan memilih menyetrika. Teman-teman saya bilang, kalau masak jelas hasilnya, ada makanan yang bisa dimakan banyak orang. Sedangkan menyetrika hanya dapat capeknya saja. Apalagi kalau bukan seseorang yang dituntut bekerja dengan baju rapi, menyetrika jelas bukan prioritas.

Saya sebenarnya juga tidak bekerja di tempat yang menuntut harus berpakaian rapi, tapi menyetrika bukan hanya soal membuat baju menjadi rapi, tapi lebih ke kebutuhan ruhani. Ketika teman-teman saya yang lain sering dapat ide menulis ketika di kamar mandi, saya sering mendapat ide menulis ketika menyetrika.

Saya pernah menulis catatan di Facebook bahwa tidak pernah menikmati suasana dapur. Memasak bagi saya adalah masalah bertahan hidup, tidak seperti teman-teman saya yang menjadikannya sebagai rekreasi dan relaksasi. Jadi saya memang lebih royal ketika nglarisi jualan teman-teman saya yang berbentuk makanan.

Ketika makanan itu enak, seringnya saya bagi juga buat teman-teman yang lain. Soal makanan dan buku, saya tidak pernah eman. Saya sering memakai alasan dhawuh-nya Gus Baha yang mengatakan bahwa ada barokah-nya orang boros, yaitu ada penjual yang kelarisan. Padahal kalau dipikir sebenarnya bisa juga dikatakan, ada barokah-nya orang malas, yaitu ada penjual jasa yang mendapat pemasukan. Tapi kok hal ini tidak saya terapkan dalam urusan binatu.

Beda dengan jajan makanan, mengeluarkan uang untuk jasa binatu itu rasanya eman sekali. Selain karena saya jadi tidak bisa berkontemplasi dengan menyetrika, saya lebih suka uang tersebut saya gunakan untuk jajan. Selama saya kuliah, dari tukang fotokopi sampai penjual di angkringan, yang hampir tidak pernah saya sambangi adalah kios binatu. Di bagian ini saya merasa tidak adil. Ketika ada yang saya larisi jualannya, kok ada yang jasanya tidak saya larisi.

Pernah ketika ada sekeluarga kena PHK yang kena pandemi dan membuka jasa binatu, saya jadi bingung sendiri. Sungguh ingin membantu, tapi kok saya merasa masih butuh sendiri aktivitas menyetrika. Untungnya ketika saya baca lokasi mereka lumayan jauh, jadi saya maksimalkan bentuk bantuan saya dengan mempromosikan jasa mereka. Ya, itung-itung sebagai penebusan rasa bersalah.

Tapi walau saya senang mengerjakan aktivitas menyetrika, saya tetap tidak mau jika "hobi" saya itu dimanfaatkan orang lain. Menitip setrikaan, misalnya. Oh, tidak, saya hanya berminat menyetrika baju saya sendiri dan ibu saya. Menyetrika baju orang, apalagi tidak dibayar, tidak menarik minat saya. Kalau tidak sesuai yang dimau pastinya diprotes. Sama saja ketika saya berusaha meluruskan pikiran orang lain, lebih banyak dikomplain daripada diterima. Ya sudah, lebih baik fokus menyetrika pikiran sendiri yang masih sering kusut.

Saya sempat galau selama tiga minggu karena setrika di rumah saya rusak ketika kebutuhan sedang banyak-banyaknya. Mau tidak mau saya harus mengerem keinginan untuk membeli setrika baru. Melipat baju dan memasukkan ke lemari tanpa menyetrikanya sungguh membuat hati ngganjel. Teman saya sampai hafal, salah satu barang yang pernah masuk daftar keinginan nomor satu bagi saya adalah setrika travel, setrika mini yang biasa dibawa untuk berpergian.

Sekali lagi, bukan kerapian yang menjadi obsesi saya, tapi aktivitas menyetrika. Jadi walau bepergian, setrika kecil wajib dibawa. Saya pernah dibilang menghidap gangguan jiwa karena terobsesi dengan setrika.

Akhirnya ketika THR turun, setrika adalah barang yang wajib saya beli. Saya pun pergi ke swalayan terdekat yang terkenal dengan barang elektroniknya yang murah dan beragam. Saya memeluk dengan haru setrika yang baru saya beli tersebut seperti menemukan kembali belahan jiwa yang hilang. Mungkin mbak-mbak pramuniaga yang melihat saya akan membatin, "Wong gendheng!"

Selesai membeli setrika saya mencari orang yang menjual jasa penukaran uang receh tidak jauh dari swalayan yang saya kunjungi. Walau masih dalam suasana pandemi, ibu saya memaksa saya agar menukar uang receh untuk dibagikan ke anak-anak. Hanya ada satu orang bapak-bapak penjual jasa penukaran uang yang duduk dengan sepeda onthel-nya di depan toko kaset lawas di Solo.

Ketika saya bertransaksi dengan bapak-bapak tersebut, ada ibu-ibu yang menghampiri saya dan mengajak ngobrol. Sehari-hari ibu ini bekerja sebagai tukang parkir seperti bapak yang menjual jasa penukaran uang tadi. Ibu itu memuji bapak tersebut karena mau ubet mencari uang tambahan, tidak seperti suaminya.

"Bayangkan, Mbak. Suami saya itu ndak pernah kerja. Sehari-hari cuma sekak (main catur), ubyang-ubyung nggak jelas, pulang, tidur, besok begitu lagi. Kayak gitu selama 15 tahun, Mbak. Saya lho, kepala buat kaki, kaki buat kepala demi cari duit," ceritanya seperti menahan beban berat -terbukti dia sampai cerita dengan saya, yang notabene orang asing.

"Lah, bojo kaya ngono buat apa sih, Bu? Tinggalin sajalah. Nggak guna!" mulut julid saya pun beraksi.

"Kalau masih muda gitu saya tinggal, Mbak."

"Lha kalau sudah tua kenapa emangnya, Bu? Malah tinggal aja. Daripada bikin mata sepet."

"Iya sih sebenarnya. Tapi mbuh-lah, Mbak. Sik, itu orangnya ke sini." Sadar yang dirasani menuju TKP, kami pun menghentikan pergibahan.

"Ngapain ke sini? Belum setoran. Gak enek dhuwit. Itu lho mbake tadi nuker uang, bapak itu dapat rezeki," ibu itu berteriak di depan suaminya. Saya paham dia sedang jengkel sekali dan meminta suaminya untuk kerja dengan membandingkan dengan orang lain yang mau bekerja dan mencari peluang mencari uang.

Saya suka sedih melihat atau mendengar kisah-kisah rumah tangga seperti itu. Suami abusive, tidak bertanggung jawab, tapi istri susah lepas dari hubungan toksik semacam itu karena berbagai faktor. Ada yang bertahan karena menganggap perceraian adalah aib, ada yang bertahan karena yakin sang suami dulunya orang baik dan akan kembali lagi, dimanipulasi suami, ada yang karena diancam suami akan dibunuh, macam-macamlah. Tidak sesederhana yang kita pikir dan kita sarankan untuk segera mengakhiri hubungan toksik semacam itu. Kusut dan semrawut. PR bersama untuk menyetrikanya.

Sungguh, setelah mendapat bekal cerita dari ibu tadi tentang suaminya dan memandang wajahnya langsung di depan mata saya, pertama kali yang saya pikir adalah: saya ingin mencoba setrika baru saya. Tepat di wajahnya yang menyebalkan itu! Segala prasangka yang jelek-jelek memenuhi hati saya. Eh, kok saya jadi ikut-ikutan kusut dan semrawut ya? Jadi sebenarnya siapa yang harus disetrika pikirannya?

Mendungan, 8 Mei 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)