Kolom

Berharap pada BRIN

Geni Rina Sunaryo - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 09:10 WIB
Dr Geni Rina Suharyo, M.sc, pakar keselamatan reaktor nuklir Batan
Geni Rina Sunaryo (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Aku jadi pesawat! Begitu sambil melebarkan kedua tangannya saat diminta pose untuk foto. Sepertinya itu yang ada di benak anak di usia 5 tahunan. Usia yang seyogianya dipupuk untuk dapat mengekspresikan apa yang dipikirkan, salah satunya dalam bahasa tubuh.

Pandu, anak saya, sempat mengenyam pola didik Jepang. Meski sejenak, tetapi jelas terasa bahwa sistem pendidikan Jepang memupuk kembangkan imajinasi, kreativitas, dan kebebasan berpikir, bukan menanamkan indoktrinasi "menghafal". Sehingga anak-anak terlihat sangat ceria, lucu, dan kreatif. Mereka bahagia berlama-lama di sekolah, yang sekaligus juga berfungsi sebagai tempat menitipkan anak, selama orangtuanya bekerja.

Pemupukan rasa solidaritas, saling menolong begitu ditekankan. Ujungnya adalah mendidik anak untuk dapat bekerja sama dengan teman-temannya dalam sebuah kelompok. Sehingga "tenggang rasa" selalu dikedepankan. Jika terjadi perbedaan pendapat, maka selalu ditanya apa dan mengapa.

Kebebasan dalam mengemukakan pendapat juga menjadi ajaran budaya yang disasar. Hasil akhirnya, agar selalu bisa merasakan bahwa barang yang tercipta adalah sebuah hasil kerja sama kelompok, bukan individu. Terus terang, saya yang telah bekerja di riset selama 36 tahun sangat mengidamkan itu.

Gotong royong! Itu prinsipnya, dan melekat di sistem pendidikan Jepang sejak dini.

Bagaimana dengan Indonesia saat ini? Sangat berkebalikan. Meski seolah dan ada yang percaya bahwa kata 'gotong royong' adalah asli Indonesia, tapi realitasnya sangat jauh. Apalagi di dunia riset, cenderung happy bekerja sendiri, dan menikmati hasilnya dalam sebuah tulisan. Kemudian, rakyat dapat apa dong? Padahal kita semua dibayar dari uang rakyat.

Egoiskah? Tidak juga. Tetapi budaya riset seperti inilah yang ada di negeri ini. Budaya ini telah tercipta berpuluh tahun karena memang dikondisikan seperti itu. Periset harus puas dengan hasil kertasnya. Sitasi indeks tinggi, mendapat penghargaan, award ini dan itu, tetapi imbas ke masyarakatnya dipertanyakan. Nuansa kerja seperti inilah yang menumpulkan hasil riset. Berujung pada tidak berkembangnya industri nasional.

Jika kita pelajari sejarah, adanya Borobudur adalah bukti konkret bahwa nenek moyang kita sudah sangat cemerlang pada masanya. Dapatkah kita menapak kembali ke kejayaan masa lalu? Bisa! Dengan mengubah pola pendidikan, menjadi berorientasi pada pemupukan kreativitas diri. Juga menanamkan betapa pentingnya bekerja sama dalam satu tim. Dan, yang terpenting adalah adanya turun tangan pemerintah di dalam hilirisasi.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa hilirisasi hasil riset selalu terpungkas oleh politik dagang. Karena memang pelaku ekonomi di negara ini dikuasai oleh para pedagang. Dimana orientasinya mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat, dari selisih harga barang impor yang dijual kembali di negeri ini. Sangat kental terasa hampir semua kebijakan mengarah pada mematikan hasil riset. Contohnya, beras unggul.

Nuklir telah menghasilkan banyak varian unggul yang mampu panen hingga tiga kali setahun dan tahan wereng. Tetapi tidak pernah diangkat sebagai aset strategi untuk swasembada pangan. Dan, setelah panen harganya jatuh karena kalah bersaing dengan beras impor. Sehingga petani tetap berada pada posisi yang miris, jauh dari sejahtera.

Semoga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang baru saja terbentuk, paham akar permasalahan yang ada di depan mata selama berpuluh tahun. Berorientasi pada menghasilkan produk nyata harus menjadi terdepan, dan dicanangkan sejak dini. Kemudian organisasi yang efektif dan efisien akan dengan sendirinya terbentuk. Bukan sebaliknya.

Riset berbasis teknologi nuklir untuk kesejahteraan telah menerapkan hal ini. Dimulai sejak 10 tahun lalu. Berorientasi pada menghasilkan produk. Salah satunya Iradiator sinar-gamma yang berguna untuk pengawetan produk, sterilisasi dan lainnya, juga Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang berteknologi tinggi --dimana Indonesia dapat menjadi negara produsen Pembangkit Listrik Tenaga Nunklir (PLTN) paling aman dan selamat di masa mendatang.

Pengalaman mencapai dua target tersebut telah membuka mata bahwa sumber daya manusia (SDM) kita mampu dan bisa bekerja sama dengan baik. Juga badan regulasi mampu menjamin keselamatan operasinya, dengan memberikan izin pembangunan hingga operasi untuk iradiator sinar-gamma.

Untuk RDE, berhasil mendapatkan lisensi tapak, dan desainnya masuk dalam booklet International Atomic Energy Agency (IAEA) tahun 2020. Semua raihan ini adalah yang pertama kali setelah lebih dari 60 tahun kiprah nuklir di negeri ini.

Lagi dan lagi, kiat peningkatan kemampuan anak negeri dalam menegakkan kepala terkait kiprah RDE dipaksa berhenti dengan alasan yang sangat diyakini adalah politis dagang. Begitu juga dengan desain pembangkit tenaga uap, harus menyendiri dan mangkrak setelah dinyatakan harga produksi listriknya masih lebih mahal dari yang sudah beroperasi saat ini. Dan, tidak bisa protes, karena tidak akan pernah ada yang mendengar.

Makanya para periset dipaksa puas dengan hasil di atas kertas. Meski sering menjadi terpekik jika dituding hanya menghabiskan uang negara dengan tanpa hasil, kami dipaksa untuk menundukkan kepala, seolah semua yang ditudingkan itu benar. Padahal nuansa riset memang diciptakan seperti ini.

Contoh yang lebih miris adalah produksi pesawat terbang yang diprakarsai oleh "Bapak Teknologi Indonesia", Prof BJ Habibie. Harus berhenti mendadak dengan tudingan menghabiskan uang negara. Teknologinya tertinggal dan lain sebagainya. Padahal ini adalah investasi jangka panjang dan berteknologi tinggi. Kelak akan membuat Indonesia mandiri di dunia transportasi udara dan menginisiasi industri pendukung lainnya. Wajar saja jika investasinya harus tinggi dan memakan waktu lama.

Tidak perlu berkecil hati dengan kemampuan anak bangsa yang sedikit tertinggal. Yang penting sudah dimulai dan bangga terhadap hasil riset sendiri. Rasa berbangga diri ini adalah modal dasar untuk berlari lebih cepat ke depannya.

Sadar atau tidak sadar bahwa dunia riset negeri ini sangat sulit untuk berperan menjadikan Indonesia menjadi lebih bermartabat. Indonesia yang bangga terhadap produk sendiri. Selain dianggap tidak ekonomis, yang paling utama adalah pola pikir pelaku ekonomi yang masih berpikir jangka pendek, tidak visioner.

Inilah yang menurut saya adalah tantangan dari BRIN. Tanpa berpijak pada evaluasi tantangan yang menghantam dunia riset, mustahil akan berhasil membawa negeri ini menggeliat menjadi penghasil teknologi, menjadi lebih punya harga diri.

BRIN harus bergerak dengan ritme yang berbeda. Periset Indonesia itu unggul dan punya semangat membangun negeri. Berikan arah yang jelas harus buat apa dalam menjawab tantangan negeri untuk menyejahterakan masyarakat. Jangan hanya dituding tidak berprestasi. Karena kami memang tidak mampu menghadapi kompetisi keras di hilirisasi yang sangat mematikan motivasi riset.

Adanya dewan pengarah yang juga ketua BPIP, serta merangkap sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, seyogianya menjadi kekuatan besar untuk membongkar tuntas ganjalan hilirisasi produk riset anak negeri. Agar industri berbasis riset nasional menjadi tuan di rumah sendiri.

Jangan lupa, menunjuk personel yang tepat juga merupakan kunci kesuksesan program BRIN. Personel yang paham tantangan riset untuk kesejahteraan bangsa ini. SDM yang benar benar mempunyai jiwa membangun negeri ini dengan jujur.

Jujur! Di sinilah letak mengapa Pancasila harus sebagai landasan riset. Pancasila yang mengharuskan kita punya rasa kasih, dan berujung pada menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Sifat ini harus tertanam, juga untuk setiap individu pelaku riset --harus menjadi budaya. Ini tidak mudah, tetapi harus diakselerasi perubahannya.

(Terasa menggelikan jika Pancasila dikaitkan dengan arah agar tidak membuat bom nuklir dan ataupun riset cloning. Yang jelas menyiratkan kekurangpahaman apa sebenarnya tantangan dunia riset nasional selama berpuluh tahun sejak Indonesia merdeka. Dana riset yang kecil tidak mungkin menginisiasi riset cloning yang berbiaya tinggi dan jangka panjang, dan ada ajaran agama yang mengawal ini semua. Juga bom nuklir, karena Indonesia sudah menandatangani perjanjian dunia, dimana nuklir hanya untuk kesejahteraan. Jadi, mohon jangan keluar konteks.)

Indonesia sudah sangat terpuruk dalam dunia riset dan inovasinya. Terpuruk industrinya. Karena terlalu rumit kompromi politisnya. Kurang mengakarnya rasa cinta Tanah Air. Bisa disebut sebagai 'kurang Pancasila-is'. Sehingga tekanan politis baik dalam negeri maupun luar negeri dengan mudah menggetarkan niat luhur membangun negeri, justru malah menguburkan hasil riset sebagai cikal bakal industri nasional dalam dalam.

Miris? Ya, tentunya. Tetapi tidak ada kata terlambat. Jangan hanya berorientasi pada 'jabatan', atau robot politik, tetapi berpangkulah pada tanggung jawab terhadap nasib bangsa. Kedepankanlah pada bagaimana mengangkat martabat bangsa. Tancapkan target target produk yang jelas, termasuk yang berteknologi tinggi, seperti PLTN, roket.

Lanjutkan kiat swa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir - RDE, pembangkit listrik berbasis teknologi sendiri, hidupkan kembali produksi pesawat terbang, kedepankan swa-pangan dari hasil riset seperti padi sidenuk, rojolele, mutiara, dan lainnya. Tingkatkan produksi ternak Indonesia dengan menggunakan formula pakan hasil riset, dan lain sebagainya. Hidupkan kembali maskot hasil pertanian seperti jeruk Garut. Hidupkan kembali dunia peternakan dalam negeri seperti sapi Donggala, dan produk riset lainnya.

Inilah tantangan dunia riset sesungguhnya, yang harus menjadi terobosan bagi yang didapuk sebagai nahkoda BRIN. Memberikan arah yang jelas, yang sudah lama terkubur di negeri tercinta. Optimislah dengan kemampuan anak negeri. Jadikan produk riset menjadi inovasi anak negeri yang dapat menyejahterakan bangsa. Pasti bisa!

Geni Rina Sunaryo ahli kimia reaktor, alumnus Tokyo University

(mmu/mmu)