Kolom

Marhaban, Ekonomi Ramadhan!

Jusman Dalle - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 15:40 WIB
Asian muslim woman using phone and smiling. Feeling happy. Female doing communication on her smart phone, sending message or browsing online
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/airdone
Jakarta -

Di tengah jalan terjal meniti pemulihan ekonomi, bulan suci diharapkan membawa berkah. Ramadhan identik dengan bulan belanja. Momentum mengantongi laba. Saban tahun disambut semringah oleh para pelaku usaha. Dari skala korporasi hingga pedagang kaki lima. Di bulan puasa, pebisnis memanen transaksi jumbo bertabur profit berlipat ganda.

Lantas, bagaimana dengan Ramadhan kedua di babak pandemi ini? Sebagai gambaran, geliat ekonomi Ramadhan tahun lalu amat sepi. Tradisi belanja seperti yang sudah-sudah, sirna ikut terinfeksi virus Corona. Sentra ekonomi yang biasanya bergemuruh, seolah kehilangan gairah. Pandemi Covid-19 mengubah momentum pesta belanja di bulan puasa jadi mimpi buruk.

Hal itu terkonfirmasi dari data pertumbuhan ekonomi Kuartal II tahun 2020. Badan Pusat Statistik mencatat, perekonomian Indonesia tumbuh minus atau terkontraksi 5,32% sepanjang April-Juni yang juga bertepatan dengan Ramadhan.

Padahal, sebelum krisis Covid-19, Ramadhan selalu jadi primadona menghela ekonomi. Puncak konsumsi rumah tangga terjadi pada bulan puasa. Data BPS tahun 2019 mencatat, dari 5,05% angka pertumbuhan, sektor konsumsi rumah tangga tampil menopang dan berkontribusi sebesar 57,79%.

Kabar baik. Ramadhan kali ini agak berbeda dengan tahun lalu. Pasalnya, geliat aktivitas mulai kembali dipacu. Warung, pusat perbelanjaan, kafe hingga restoran dibuka lagi, meski harus mengadopsi kebiasaan baru. Masyarakat juga semakin adaptif dengan protokol kesehatan yang berlaku.

Maka kita pun menyaksikan, pusat-pusat belanja dan kantong-kantong ekonomi kembali bersolek. Merias toko dengan aneka pernak pernik sarat nuansa puasa, agar konsumen terpikat. Sambutan meriah laiknya tradisi Ramadan sebelumnya, juga memanggil dari notifikasi pariwara di gawai, iklan di layar kaca, hingga reklame di jalan raya.

Marhaban, ekonomi bulan suci! Kita berharap, Ramadhan memacu aktivitas ekonomi di berbagai level dan spektrum. Momentum titik balik setelah dua belas purnama ekonomi membeku terkurung wabah.

Energi Ganda

Ramadhan kali ini digerakkan energi ganda dalam menghela ekonomi. Selain optimisme yang bersenyawa dengan gelora spiritual, kita juga telah jauh lebih dalam mengadopsi digitalisasi dalam rentang setahun pandemi. Hasil riset yang dilansir oleh McKinsey menggambarkan akselerasi digitalisasi sejak pandemi. Catatan pengiriman paket selama delapan minggu pandemi menyamai jumlah paket yang terkirim sepanjang 10 tahun sebelum Covid-19.

Lonjakan belanja daring terjadi di luar perkiraan. Kebiasaan baru tersebut nyaris dipastikan bakal bertahan meski nanti situasi berangsur normal. Segmen masyarakat tertentu mungkin masih enggan dan menahan diri beraktivitas terbuka. Membatasi berbaur di tempat publik.

Namun tipologi warga dalam kelompok ini umumnya telah fasih menggunakan gawai sebagai penunjang berbagai aktivitas. Sehingga pemenuhan kebutuhan punya dua opsi, yakni dilakukan secara daring atau menggunakan cara-cara lama --belanja sayur dan buah langsung ke pasar misalnya.

Patut disyukuri, tantangan Covid-19 terjadi ketika ekonomi digital telah membentuk jejaring lintas sektor bisnis. Relasi yang kemudian kita sebut sebagai ekosistem ekonomi digital. Di dalam ekosistem terdapat struktur yang tidak tampak, namun mampu menggerakkan setiap sub sektor di dalam industri digital yang dinamis untuk berperan signifikan. Menginjeksi nilai tambah dan membentuk budaya ekonomi baru.

Ketika berbagai sektor ekonomi terinfeksi pandemi, urat nadi konsumsi tetap mendapat asupan energi dari berbagai platform digital. Demikian juga dengan gairah konsumsi di bulan puasa, terkanalisasi dengan baik oleh terobosan-terobosan berbasis teknologi.

Dilansir oleh agregator e0commerce ShopBack, belanja masyarakat Indonesia di e-commerce rata-rata berada di angka Rp 1,2 juta selama Ramadhan. Sementara itu, Criteo mencatat lonjakan traksaksi e-commerce mulai menanjak 10 hari menjelang Ramadhan. Lalu puncaknya terjadi pada minggu ketiga, sepekan sebelum Lebaran yang biasanya beririsan dengan waktu mudik.

Kita juga mencermati fenomena menarik yang dapat berkontribusi sebagai stimulan ekonomi. Bukan sebatas konsumsi yang sifatnya bendawi (tangibel) seperti pangan dan fashion, namun juga intangible spending. Misalnya kebutuhan hiburan hingga derma berbasis digital.

Menurut studi Global Web Index 2019, screen time masyarakat Indonesia rata-rata selama 190 menit per hari. Google dan Asian Consumer Intelligence mencatat lonjakan intensitas penggunaan gawai di bulan Ramadhan. Pada 2020, ketika Covid bersilangan dengan momentum Ramadhan, screen time masyarakat Indonesia tembus 280 menit per hari.

Sepanjang waktu menatap layar, aktivitas yang dilakukan adalah konsumsi digital dalam berbagai rupa. Misalnya mengakses konten religi yang tersaji di berbagai platform dalam aneka varian, baik video, audio, maupun tulisan. Dari yang premium atau berbayar, hingga yang gratisan.

Data yang dilansir Statista menunjukkan konsumsi media digital meningkat tajam sejak pandemi Covid-19. Frekuensi berkirim pesan dilakukan 45% lebih sering dibanding sebelum pandemi. Aktivitas di medsos naik 44%, dan konsumsi layanan video berbayar naik 51%.

Demikian pula penelusuran di mesin pencari untuk hal-hal yang terkait ibadah Ramadhan selalu menanjak. Konsumsi layanan video seperti Youtube naik sampai 50%. Pengajian-pengajian Ramadhan bahkan memasuki era baru. Kajian, seminar, dan forum-forum keilmuan berbasis virtual semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Pengeluaran masyarakat di bulan Ramadhan tidak melulu self assertive, untuk kesenangan sendiri. Namun juga sarat aksi-aksi kedermawanan sosial sebagai manifestasi panggilan spiritual. Dimana umat Islam memang diwajibkan menyisihkan zakat, serta dianjurkan berderma. Pandemi turut memicu tingginya kepedulian dan solidaritas sosial.

Menurut data yang dilansir oleh Facebook Insight, satu dari dua orang Indonesia merencanakan kegiatan sosialnya di platform digital. Berbagai ibadah sosial kini dapat dimanifestasikan secara digital. Lembaga-lembaga keagamaan memanfaatkan platform digital dalam menggalang zakat, infak, dan sedekah. Gerakan sosial kemanusiaan telah menjelma menjadi kedermawanan berbasis digital.

Efektivitas distribusi dan berbagi kebaikan di bulan Ramadhan bahkan semakin terukur dengan pemanfaatan teknologi. Hal ini berimplikasi pada tren peningkatan kepercayaan masyarakat. Transparansi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga filantropi menumbuhkan kredibilitas. Memacu aksi-aksi solidaritas sosial lebih luas.

Aksi-aksi kedermawanan sosial tentu amat dibutuhkan di tengah himpitan krisis. Apalagi muncul gejala terjadi pemulihan ekonomi "K Shape". Artinya, bakal ada sektor ekonomi tertentu yang terpuruk, sementara segmen lain kembali bangkit. Konsekuensinya, ketimpangan semakin tajam. Di antara solusi pemecahannya, selain melalui pendekatan struktural kebijakan-kebijakan pemerintah, juga melalui gerakan kultural, swadaya masyarakat.

Menariknya, ekosistem digital telah merangkul gerakan-gerakan sosial ekonomi yang bergerak secara swadaya tersebut. Diinisiasi oleh lembaga-lembaga zakat, maupun layanan bisnis sosial platform crowdfunding. Derma digalang memanfaatkan e-commerce, e-wallet, digital banking, dan berbagai jenis produk inovasi teknologi.

Kita menaruh optimisme, momentum Ramadhan membawa berkah bagi ekonomi nasional. Menghela konsumsi dengan dua energi ganda. Adopsi digitalisasi dan gairah spiritual yang memuncak di bulan puasa.

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation, praktisi ekonomi digital

(mmu/mmu)