Jeda

Rumah Kayu, Kemiskinan, dan Rasa Malu

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 11:18 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya mengernyitkan dahi ketika membaca sebuah notifikasi dari Facebook. Seorang teman yang sebenarnya tidak kenal-kenal amat mengomentari foto lawas yang pernah saya unggah. Ngapain sih, kurang kerjaan aja, pikir saya. Teman ini mengomentari foto saya yang berpose dengan ibu di depan rumah kami di desa.

"Kamu keren ya, nggak malu, padahal rumahmu kayu," begitu bunyi komentarnya yang langsung saya balas dengan emot heran "Lah, ngapain malu?"

Teman tadi membalas lagi bahwa ia heran dengan orang-orang dari daerah saya berasal. Ternyata ia mengamati teman-teman lain yang kebetulan juga berfoto di dalam atau di luar rumah yang intinya bangunan rumah mereka kelihatan. Baginya, orang yang rumahnya kayu adalah orang miskin, dan orang miskin biasanya malu untuk memperlihatkan apapun tentang mereka. Jadi ketika ada orang yang dianggapnya miskin percaya diri untuk berpose di depan kamera adalah sesuatu yang wah.

"Eh, tapi aku sebenarnya bingung sih. Keluargamu nggak miskin kan ya? Kamu bisa sampai S2, si A si B dan si C juga kemarin kulihat sedang foto wisuda di depan rumahnya. Tapi, kok rumah kalian masih kayu sih?" ia berkomentar lagi. Dalam hati saya hanya bergumam: hadeeeh.

Oh, saya tidak tersinggung ketika dibilang miskin. Wong nyatanya juga belum kaya. Hanya lucunya teman ini kok menganggap orang yang rumahnya kayu itu miskin dan mereka patut malu akan hal itu. Tapi sejujurnya bukan ia saja yang beranggapan begitu. Saya jadi teringat seorang teman saya lagi, seorang lulusan Teknik Sipil. Dulu waktu proses tugas akhir, ia mengabari saya bahwa sedang mengambil sampel tanah di kecamatan tetangga tidak jauh dari rumah saya.

Kebetulan waktu itu saya sedang pulang ke rumah. Saya persilakan ia untuk mampir. Ketika sarapan di rumah saya, ia menyatakan keheranannya. Sepanjang perjalanan ke rumah saya, ia hanya menemukan satu-dua rumah yang berdinding tembok. Selebihnya berdinding kayu semua, termasuk rumah saya. Ia bilang, kasihan sekali penduduk sini masih berada di garis kemiskinan karena tidak sanggup membangun rumah dengan dinding tembok.

"Keluargamu ini bukan keluarga miskin kan? Sawah orangtuamu ada beberapa, kamu bisa kuliah. Tapi kenapa dinding rumahmu masih berdinding kayu?" tanyanya.

Kalau pertanyaan itu ditanyakan sekarang, bisa saya goreng di Twitter. Tamu kok tidak sopan! Ha-ha. Tapi karena saya selow ya saya jelaskan. Di daerah saya, tidak terkecuali di desa saya memang kebanyakan rumahnya berdinding kayu. Hanya satu-dua yang berdinding tembok. Apakah karena mereka miskin? Oh, belum tentu. Kayu yang dipakai pun kayu dengan kualitas baik meski bukan yang terbaik.

Saya ajak teman saya ke bagian depan rumah saya. Saya tunjukkan bagian depan rumah saya yang berdinding kayu itu. Saya perlihatkan di pojokan, engsel dinding bagian depan rumah saya tidak dipasang permanen, alias bisa dibongkar. Biasanya dibongkar untuk keperluan hajatan seperti mantu atau sunatan. Kebanyakan desain rumah di desa saya seperti itu. Akan sangat merepotkan sekali jika rumah itu berdinding tembok.

Rumah kayu juga gampang dibongkar bila yang punya pindah atau dijual. Bisa juga buat hantaran pernikahan. Hantaran berwujud rumah? Tentu saja. Bapak saya dulu sering ikut sambatan mengangkat rumah tetangga untuk dijadikan hantaran pernikahan.

Dulu, orang paling kaya di desa saya itu bukan yang rumahnya berdinding tembok, tapi yang terbuat dari kayu jati pilihan. Daerah kami memang tidak jauh dari hutan jati. Rumah seperti itu menjadi rumah impian sebagian besar penduduk desa saya tak terkecuali saya. Membayangkan punya rumah seperti blandhong kaya atau penari ledhek terkenal sekabupaten tentu akan menaikkan gengsi sosial.

Guru ngaji saya juga dikenal sebagai pengukir yang top. Beberapa santrinya diajari untuk mengukir dan diberdayakan. Dulu saya setoran bacaan Al Quran sambil melirik calon gebyok pesanan dengan ukiran yang bagus sekali. Sampai sekarang belum keturutan memilikinya.

Intinya, meski mampu membangun rumah dengan dinding tembok, kayu masih menjadi favorit bagi sebagian besar orang di desa saya. Rumah berdinding tembok bukan ukuran kekayaan di kampung kami. Kalau sekarang generasi sekian sudah beberapa yang membangun rumah tembok atau semi tembok, karena kayu malah lebih mahal, apalagi hutannya sudah gundul.

Belum lama ini saya membaca tweet teman saya, seorang dosen dan penulis terkenal. Ia meng-quote tweet dari sebuah portal berita daring. Bunyi tweet portal berita itu begini: Seorang anak di Thailand tak malu berfoto dengan ayahnya yang hanya petani di hari wisuda setelah lulus dari Ratchpatr University. Teman saya meng-quote begini: Foto wisuda dengan ayah kok malu? Petani kok hanya? Banyak sekali asumsi bermasalah dalam artikel ini.

Ternyata tweet tersebut ramai tanggapan. Dari yang misuh-misuh kepada berita yang penuh asumsi itu, meromantisasi profesi petani, sampai soal jurnalisme yang menciptakan segregasi sosial. Saya pun membalas begini: Loh, bener, Mas. Pernah ada temen tugas di pesisir pantura. Pas cerita ia bilang, "Mosok anak-anak di sana cita-citanya cuma pengin jadi nelayan sih? Padahal dah susah-susah aku memotivasi mereka."

Tenyata tweet balasan saya menjadi ramai sampai masuk base info twitwor dan drama. Base yang isinya tangkapan layar orang gelut di Twitter. Di base tersebut bagian yang di-capture adalah reply dari orang-orang yang tidak terima profesi nelayan diremehkan. Karena seperti berasa hina sekali profesi nelayan. Padahal orang kota tidak ada nelayan ya tidak bisa makan ikan. Balasan tweet tersebut dibalas akun lain lagi dengan santainya: kan bisa impor. Saya tidak tahu ia sedang serius atau sedang nyatir. Puncaknya tweet itu dibalas lagi begini: kalau impor juga yang nyari ikan di sana tetep nelayan.

Latar belakang balasan tweet saya di atas sebenarnya berasal dari obrolan saya dan teman-teman dua tahun lalu. Waktu itu saya dan beberapa teman berjanji untuk bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa. Kami bertemu di rumah salah satu teman sambil masak-masak. Ada satu teman yang membawa oleh-oleh iwak pe (ikan pari asap) dari pesisir pantura. Ia memang sedang bertugas di sana.

Sambil menyerahkan iwak pe kepada tuan rumah untuk dimasak, ia berkata bahwa masa tugasnya sudah berakhir. Kami pun menanyainya tentang kegiatan di sana dan ia bilang seperti yang saya tulis di balasan tweet di atas. Kami pun heran, kenapa ia mempermasalahkan cita-cita anak pesisir yang ingin jadi nelayan? Bukannya wajar? Bagus dong?

"Ya, tapi nelayan kan miskin? Apa mereka nggak malu? Kenapa nggak mau meningkatkan derajat dia dan orangtuanya maksudku," imbuhnya. Kami pun semakin mumet. Karepe apa sakjane?

"Gini, mungkin maksud teman kita ini meningkat jadi sarjana pertanian atau perikanan gitu kan ya?" seorang teman mencoba berpikiran positif.

"Ya sarjana perikanan atau pertanian tapi kerja di bank? Menanam bunga bank? Menjaring nasabah?" seorang teman yang sukanya nyinyir dalam setiap topik pembicaraan ikut nimbrung.

Kami terdiam. Bagi saya pribadi, teman saya itu memang wagu. Tipe-tipe orang kota yang memaksakan sudut pandangnya pada orang daerah yang sebenarnya belum tentu cocok dengan masyarakat sasarannya.

Teman saya yang pernah bertugas di Papua cerita bahwa memang ada jenis orang seperti itu. Melaksanakan program pengabdian tanpa belajar sosio-kultur masyarakatnya. Mereka memaksa membagikan beras kepada orang yang sudah cukup makan sagu. Karena bagi orang-orang kota ini tidak makan beras berarti miskin dan patut dikasihani. Padahal malah sebenarnya orang-orang kota ini yang tidak paham diversifikasi pangan. Memaksa anak-anak di hutan memakai sepatu yang malah menimbulkan masalah soal kemampuan adaptasi kakinya terhadap alam. Mereka berpikir bahwa apa yang dilakukannya membantu, tapi bisa jadi malah merusak.

Obrolan kami terjeda ketika tuan rumah selesai memasak iwak pe menjadi mangut pedas yang enak dan dihidangkan di hadapan kami. Kami pun melanjutkan obrolan sambil makan. Teman saya tadi masih kekeuh dengan pendapatnya bahwa seharusnya anak-anak bimbingannya itu tidak hanya bercita-cita menjadi nelayan. Lucunya ia mengomel-ngomel tentang anak bimbingannya tak punya motivasi untuk bercita-cita lebih tinggi sambil makan iwak pe. Ikan yang tentunya ditangkap oleh nelayan. Jadi sebenarnya siapa yang harus malu?

Gondangrejo, 08 April 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)