Kolom

Motivasi Ritual "Nyadran"

Athoilah Aly Najamudin - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 09:24 WIB
Warga Desa Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul menggelar upacara adat nyadran sebagai wujud syukur panen kedua tahun ini serta menyambut bulan Ramadan. Nyadran berlangsung di kawasan Gunung Gentong, Selasa (30/4/2019).
Warga Gunungkidul
Jakarta -

Orang Jawa identik dengan bermacam upacara selamatan. Baik upacara selamatan dalam pernikahan, kelahiran bayi, bahkan sampai upacara selamatan bagi seorang yang telah meninggal dunia. Di minggu terakhir sebelum bulan puasa, orang Jawa mementingkan ke kuburan orangtua atau leluhurnya. Orang menyebut dengan "nyadran" yang merupakan cara untuk mengagungkan, menghormati, dan memperingati roh leluhur.

Dalam tradisi orang Jawa, sebelum memasuki bulan Ramadhan, orang dari perantauan kembali ke kampung masing-masing hanya untuk melakukan ritual "nyadran" ini. Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi kebudayaan yang terjadi hampir setiap kampung di Jawa.

Catatan Pengkaji Jawa

Banyak tulisan yang mendeskripsikan selamatan (slametan) yang di dalamnya ada ritual nyadran. Di antaranya Antropolog Clifford Geetz yang menyebut slametan merupakan bentuk ritual orang Jawa sebagai pusat dari seluruh sistem keagamaan orang Jawa. Pada realitasnya hingga saat ini slametan masih eksis di masyarakat Jawa. Meski arus puritanisasi Islam sering mengklaim bahwa ritual ini bidah, namun tidak banyak orang Jawa percaya pada hal itu.

Peneliti kebudayaan Jawa seperti Koentjaraningrat, Mark Woodward, Andrew Beatty, dan Masdar Hilmy menaruh perhatian mengkaji tentang selamatan, yang pada akhirnya memunculkan klaim yang beragam terhadap ritual. Diskursus yang diperselisihkan oleh pengkaji antara Geertz dan Woodward salah satunya klaim: apakah akar slametan dari tradisi Islam ataukah tradisi animistik Jawa.

Geertz mengatakan bahwa tradisi slamaten berasal dari tradisi yang kedua. Berbeda dengan Geertz, Woodward memandang bahwa spirit dari slametan adalah Islam, bukan animistik Jawa, adapun teknis ritual mengambil tradisi lokal. Pandangan yang lain, dari Masdar Hilmy yang berusaha menawarkan pendapatan perspektif holistik, dengan memandang slametan dari kacamata tekstual serta kontekstual. Hilmy berkesimpulan bahwa slametan bersifat sinkretik antara Islam dan tradisi lokal Jawa.

Para pengkaji tentang Jawa membuktikan bahwa tradisi slametan ini sangat menguat di akar rumput. Tidak mudah ditinggalkan bahkan telah menjadi siklus tahunan bagi orang Jawa. Tulisan ini ingin mendeskripsikan bagaimana orang Jawa dalam mempraktikkan ritual nyadran menjelang puasa Ramadhan.

Tradisi nyadran telah ada pada masa Hindu-Budha sebelum agama Islam masuk di Indonesia. Zaman kerajaan Majapahit tahun 1284 ada pelaksanaan seperti tradisi nyadran yaitu craddha. Ada persamaan tradisi pada kegiatan manusia dengan leluhur yang sudah meninggal seperti sesaji dan ritual sesembahan untuk penghormatan terhadap leluhur yang telah meninggal.

Siklus Hidup

Tradisi nyadran merupakan ritual yang berupa penghormatan kepada arwah nenek moyang dengan memanjatkan doa selamatan. Pelaksanaan tradisi nyadran pada Hindu-Budha menggunakan puji-pujian sebagai perlengkapan ritualnya sedangkan ketika penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para Wali Songo diakulturasikan dengan doa-doa yang bersumber dari Al-Quran.

Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa leluhur yang sudah meninggal sejatinya masih ada dan mempengaruhi kehidupan anak cucu atau keturunannya. Pengaruh agama Islam, ada pergeseran makna nyadran sebagai kirim doa untuk keluarga yang telah tiada. Pelaksanaan nyadran sebagai sarana introspeksi atau perenungan terhadap segala daya dan upaya yang telah dilakukan selama satu tahun.

Secara etimologis, nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, nyadran berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

Kegiatan menyelanggarakan kenduri diawali dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama. Dipimpin oleh seorang tokoh agama atau masyarakat desa sering menyebut dengan mudin. Kemudian kegiatan gotong royong melakukan pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan. Dan terakhir, melakukan ziarah dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di area makam.

Nyadran dilaksanakan selama hari ke-10 bulan Rajab, atau saat datangnya bulan Syaban . Dalam ziarah kubur, biasanya membawa bunga terutama bunga telasih. Bunga ini sebagai lambang adanya hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi. Masyarakat yang mengikuti nyadran berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu serta saudara-saudara yang telah meninggal. Seusai berdoa mengelar kenduri dengan makan bersama sepanjang jalan mengelar tikar dan daun pisang.

Tiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa wajib berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, perkedel, tempe, tahu bacem, dan sebagainya.

Motivasi Beragama

Fenomena nyadran bagi orang Jawa mempunyai motivasi beragam. Untuk menjelaskan fakta tentang motivasi, Joachim Wacth mengatakan bahwa pengalaman keagamaan merupakan tanggapan terhadap realitas mutlak. Wacth membagi ungkapan pengalaman keagamaan menjadi tiga bagian, yaitu ungkapan keagamaan dalam bentuk pemikiran, perbuatan, dan persekutuan.

Pertama, ritual nyadran merupakan pengalaman keagamaan yang diungkapkan secara intelektual, bersifat spontan, atau belum baku. Awalnya, motivasi melakukan ritual nyadran karena turun-temurun, yang terdapat dalam sebuah mite atau folklor setempat. Kedua, pengalaman yang diungkapkan dalam bentuk doktrin. Apa yang dijelaskan oleh folklor atau mite dijelaskan secara sistematis.

Dalam konteks, ritual nyadran bagi orang Jawa beragam motivasi keagamaan. Di antaranya, selain ungkapkan saling mendoakan antara orang yang telah tiada dengan yang masih hidup, ada fungsi integrasi masyarakat di sana. Siklus tahunan ini menjadi ruang sosial untuk memperkuat hubungan antar masyarakat.

Atho'ilah Aly Najamudin mahasiswa Antropologi UGM

Simak Video: Nyadran, Tradisi Unik Masyarakat Boyolali Untuk Mengingat Leluhur

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)