Kolom

Lunturnya Perangai Ilmiah di Tengah Masyarakat

Darmawan Napitupulu - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 14:30 WIB
hoax yang menyebut pasien jantung harus berhenti minum obat sebelum vaksin corona
Kominfo menemukan lebih dari dua ribu topik hoaks seputar Covid-19
Jakarta -

Di India, ada sebuah kisah nyata; sebuah kuil dipakai untuk menyembah tikus yang dianggap sebagai makhluk suci atau keramat. Konon warga menyebutnya sebagai reinkarnasi Dewi Karna Mata, titisan Dewa Durga. Selain disembah, ribuan tikus tersebut juga diperlakukan bak raja. Segala kebutuhannya dipenuhi oleh warga sekitar dan pengunjung yang datang. Ironisnya, sisa makanan tikus diambil dan dikumpulkan oleh warga karena dipercaya membawa berkah. Cerita rakyat ini terjadi di negeri Rajasthan yang menggambarkan kepercayaan mereka dalam memuja dewa.

India memang terkenal dengan kepercayaan magis. Sejak dulu masyarakatnya sering disandera kepercayaan terhadap takhayul (superstitious) atau kekuatan supranatural. Hal ini sebabkan kuatnya mitologi klasik dan karya Sanskerta di India yang salah diartikan secara bijak. Celakanya, hampir semua aspek kehidupan masyarakat di India dipengaruhi oleh pemikiran yang bergantung pada mitos (baca: hal yang tidak ilmiah). Ditambah lagi, India masih dilanda kemiskinan dan masalah mutu pendidikan yang rendah. Hal ini dapat mengakibatkan rakyat dekat dengan kebodohan.

Jawaharlal Nehru, tokoh India pada waktu itu menganggap kondisi di India sudah sangat parah. Perjuangan untuk mengubah budaya bangsa India yang terbelenggu pada mentalitas dogmatis dilakukannya sejak tahun 1946 silam. Dia sadar sampai kapnn pun bangsanya tidak akan maju jika masyarakat masih bergantung pada hal-hal yang bersifat mistis. Singkat cerita, berkat kegigihannya, Nehru berhasil mengubah bangsa India menuju ke arah budaya ilmiah, mengganti budaya magis yang telah melekat pada masyarakat. Dia menemukan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi, yakni dengan mengembangkan perangai ilmiah (scientific temper).

Begitu pentingnya perangai ilmiah ini, Nehru bahkan memasukkan dalam konstitusi India; warga India "dipaksa" untuk membangun sikap tersebut dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Perangai ilmiah sederhananya dapat diartikan sikap yang mempertanyakan segala sesuatu, tidak menerima gagasan tanpa adanya bukti atau fakta serta disiplin menggunakan akal pikiran. Sikap ini sangat dibutuhkan untuk mengevaluasi dan menyaring informasi yang disuguhkan ke hadapan kita agar tidak terombang-ambing.

Bahkan Nehru berpendapat bahwa perangai ilmiah seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, diejawantahkan ke dalam cara berpikir seseorang, sebagai ciri khas gaya hidup modern. Berkat perjuangan Nehru, India telah bangkit keluar dari perangkap budaya mistis (takhayul). Sekarang masyarakatnya terkenal argumentatif atau senang beradu argumentasi, berpikir kritis dan skeptis tentang segala sesuatu yang menjadi diskursus publik.

Pertanyaannya, apakah perangai ilmiah sudah menjadi budaya kita? Jika kita melihat sejarah, founding father kita, Sukarno, Hatta, Sjahrir telah menunjukkan tradisi ilmiah tersebut. Hatta, contohnya selalu setia dengan buku walaupun di tempat pengasingannya. Hatta bahkan menghadiahkan buku karyanya sendiri sebagai mas kawin pernikahannya. Narasi tentang kebukuan tampaknya mulai hilang setelah generasi Sukarno dkk tiada.

Saya juga merasakan sebuah kondisi yang kontras; perangai ilmiah tidak hadir bahkan di tingkat RT (Rukun Tetangga) sekalipun. Sikap kritis apalagi skeptis seperti yang digambarkan sebagai perangai ilmiah tidak hadir dalam interaksi sesama warga tempat saya tinggal. Ketika imbauan menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mematuhi protokol kesehatan digalakkan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, warga malah sering kali tidak mempedulikannya dengan tetap berkumpul.

Saya pun beberapa kali diajak, namun saya tolak dengan alasan risiko terpapar. Alih-alih dilarang, "temu muka" kerap terjadi bahkan cukup rutin sampai akhirnya salah satu warga positif terkena virus Covid-19. Praktis, ritual kumpul-kumpul warga tidak dilanjutkan lagi. Saya pun bisa bernapas lega. Maklum, "perkumpulan" warga tersebut bertempat di depan rumah saya. Warga tampaknya belum percaya akan "keganasan" virus corona ini walaupun sudah banyak fakta mencuat.

Tidak hanya di tingkat RT, perangai ilmiah juga tidak tampak di kancah perpolitikan nasional. Baru-baru ini, seorang pesulap (mentalis) sekaligus seniman terkenal, Denny Darco menggegerkan dunia maya dengan ramalannya bahwa akan datang seorang pemimpin besar di tahun 2021 ini. Ia menyampaikan bahwa sosok yang mirip "Satrio Pingit" atau "Ratu Adil" seperti yang dijanjikan dalam ramalan Jayabaya akan muncul sebagai penyelamat bangsa. Legenda ini konon dipercaya sebagian masyarakat kebenarannya.

Ramalan Denny yang kontroversial sebenarnya membuat banyak pihak tidak senang, namun para penggemar dan sebagian masyarakat lainnya masih percaya akan ramalannya. Padahal Denny mengaku tidak memiliki kekuatan spiritual apapun apalagi untuk meramal. Hal ini jelas tampak bahwa Indonesia belum lepas dari hal-hal yang berbau magis.

Membangun perangai ilmiah memang tidaklah mudah, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Banyaknya hoaks terkait isu virus corona di Indonesia menunjukkan bahwa perangai ilmu belum tercipta. Buktinya Kominfo menemukan lebih dari dua ribu topik hoaks seputar Covid-19. Jumlah ini bertambah dari tahun lalu yang hanya 1200 hoaks. Itu pun mayoritas terkait dengan Pemilu 2019.

Bahkan menurut hasil survei BPS Oktober lalu masih ada sekitar 17% (45 juta) masyarakat kita yang belum percaya tentang keberadaan Covid-19 ini walaupun sudah banyak korbannya. Mereka menganggap tidak akan tertular. Bayangkan saja, jika 17% penduduk itu adalah pembawa (carrier) Covid-19, maka dapat dipastikan jumlah persentase orang yang tertular (positivity rate) tidak akan bisa terbendung lagi.

Munculnya gerakan antivaksin di Indonesia juga menandakan bahwa absennya perangai ilmiah sudah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Gerakan ini bergerak atas dasar aliran kepercayaan saja, artinya mereka hanya berpijak pada keyakinan semata, bukan pada fakta. Gerakan seperti ini tidak akan berubah walaupun sudah ada bukti ilmiah terbaru. Alih-alih mendukung program pemerintah, gerakan ini menimbulkan kegalauan di tengah masyarakat akan "manjurnya" vaksin corona ini.

Padahal, sains menunjukkan bahwa vaksin dapat merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu. Vaksin membuat tubuh terlindung dari ancaman penyakit termasuk virus Covid-19. Namun sayangnya pendapat yang disuarakan gerakan antivaksin semakin menguat karena efek resonansi dari media sosial. Twitter adalah salah satu platform yang marak digunakan.

Umumnya informasi hoaks yang disebarkan bahwa vaksin akan menimbulkan penyakit, vaksin mengandung bahan kimia beracun, dan vaksin tidak akan efektif. Intinya mereka berusaha menakut-nakuti masyarakat untuk menjauhi vaksin. Celakanya, banyak warga yang menyukainya, berinteraksi bahkan melakukan retweet.

Ketiadaan perangai ilmiah tidak hanya tampak pada masyarakat, tetapi juga menjangkiti level elite. Belum lama ini, pengacara artis kondang, Hotman Paris Hutapea cukup menggegerkan dunia maya. Dia menghirup uap minyak kayu putih dengan tujuan untuk mencegah virus corona. Video yang diunggahnya di Instagram itu menggambarkan bahwa kaum elitisme yang berpendidikan tinggi belum tentu bisa berpikir dengan logika ilmiah.

Kealpaan perangai ilmiah membuat kita mudah percaya tanpa berniat mencari fakta yang akurat. "Katanya di China begini, " ujarnya. Padahal WHO dan lembaga kesehatan dunia lainnya tidak pernah menyarankan terapi uap air dengan bahan apapun dapat digunakan sebagai obat corona hingga saat ini. Bahkan tindakan tersebut memiliki efek samping yang serius seperti risiko luka bakar hingga merusak paru-paru --di samping memang belum ada bukti klinis yang mendukung bahwa terapi uap itu efektif untuk membasmi corona.

Berbagai kondisi di atas jika dibiarkan terus terjadi, maka bukan tidak mungkin bangsa kita akan makin terpuruk karena segala persoalan diselesaikan tanpa nalar dan akal sehat (baca: sains). Sains adalah solusi logis dan rasional dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Sains dapat membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan kemunduran pemikiran. Oleh karenanya, publik butuh sains untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang ditulis oleh Carl Sagan dalam bukunya terkenal berjudul The Demon Haunted World bahwa perangai ilmiah diperlukan untuk mencerna dan mewaspadai segala sesuatu yang kita terima. Perangai ilmiah melatih kita untuk mencari informasi dan memverifikasi sebuah informasi bahkan menemukan kebenaran. Masyarakat harus sadar akan pentingnya sains dan senantiasa menumbuhkan perangai ilmiah sebagai pola pikir keseharian rakyat Indonesia agar bangsa kita menjadi maju.

(mmu/mmu)