Kolom

Harapan Industri Otomotif

Andi Ismoro - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 09:50 WIB
New cars at dealer showroom. Themed blur background with bokeh effect. Car auto dealership. Prestigious vehicles.
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Berlakunya insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mulai Maret ini tentu akan dimanfaatkan dan memberikan angin segar bagi pelaku usaha otomotif yang pada masa pandemi ini sangat terpukul. Variasi pemberlakuan insentif PPnBM yang berjangka membuat para pelaku usaha otomotif antusias baik pada tahapan produksi maupun tahapan penjualan.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi dan penjualan sektor otomotif Indonesia pada triwulan II tahun 2020 turun drastis dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Produksi mobil turun cukup dalam yakni sebesar 87,34 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya , sedangkan secara tahunan turun sebesar 85,02 persen. Bisa dibayangkan betapa sektor ini sangat terdampak oleh pandemi.

Padahal sektor usaha industri pengolahan yang di dalamnya terdapat usaha industri otomotif ini selalu menjadi penopang dan pilihan terbaik bagi ekonomi di Indonesia; sektor yang terbukti tahan terhadap berbagai isu serta guncangan faktor eksternal dan cenderung lebih stabil.

Siapa yang Menikmati?

Giliran konsumsi kelompok berpendapatan menengah dan berpendapatan atas yang akan didongkrak oleh pemerintah melalui stimulus kebijakan berupa insentif pemotongan pajak PPnBM ini. Golongan kelompok ini menurut kriteria Bank Dunia adalah 40% penduduk berpendapatan menengah dan 20% penduduk dengan pendapatan tinggi .

Pemerintah tentu menyadari bahwa kebijakan relaksasi pembeban pajak barang mewah ini akan dinikmati oleh sebagian masyarakat kita yang mempunyai kesiapan, keinginan, dan kemampuan untuk membeli barang mewah tersebut. Jika bidikan pemerintah tidak meleset, tentu akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, atau paling tidak akan memicu hingga sektor sektor lain ikut tergerak, sebut saja sektor keuangan.

Tentu dengan adanya penambahan demand dari penjualan mobil tersebut akan menambah peluang usaha pembiayaan dan asuransi yang merupakan bagian dari produk sektor keuangan. Laju pertumbuhan pada sektor jasa keuangan dan asuransi pada triwulan IV tahun 2020 meningkat sebesar 3,25 persen.

Penghilangan sumber pendapatan pemerintah untuk pajak barang mewah tentu akan mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifikan. Tetapi bisa jadi hal ini akan terkompensasi oleh adanya peningkatan permintaan serta peningkatan produksi dari industri manufaktur. Sedangkan dominasi industri pengolahan pada struktur PDB nasional adalah sebesar 19,88 persen.

Tantangan Kebijakan

Pemberlakuan pembatasan mobilitas bagi masyarakat tentu menjadi sebuah tantangan bagi kebijakan PPnBM ini, sehingga dikhawatirkan masyarakat golongan berpendapatan menengah-atas ini tetap tidak akan menggunakan kesempatan untuk melakukan pembelian kendaraan jika mobilitas mereka masih rendah.

Namun tentu hal tersebut tidak dijadikan sebuah alasan pesimis terhadap harapan pemulihan ekonomi. Jika penanganan Covid-19 berlangsung efektif tentu langkah ini adalah sebuah langkah yang tepat untuk diberlakukan pada kesempatan pertama.

Bagaimana dengan Peluang Ekspor?

Efek berantai dari kebijakan ini tak ayal juga akan menggerakkan kegiatan ekspor, meskipun nilai ekspor non-migas pada Januari 2021 mengalami penurunan sebesar 7,11 persen dibandingkan Desember 2020. Nilai ekspor untuk hasil industri pengolahan Januari 2021 naik 11,72 persen dibanding Januari 2020.

Bahkan baru-baru ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Kementerian Perindustrian optimis bahwa pasar ekspor otomotif menuju Australia sangat terbuka bagi Indonesia. Mereka juga akan melakukan komunikasi supaya mendapatkan penambahan kuota ekspor mobil bagi Indonesia.

Simak juga 'Mobil Murah Harga Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)