Kolom

Tantangan Gibran untuk Kota Solo

Imam Subkhan - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 15:10 WIB
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka (kanan) dan Wakil Wali Kota Teguh Prakosa (kiri) saat menghadiri upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo di kantor DPRD Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/2/2021). Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo secara virtual oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersama 16 kepala daerah lainnya di Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa.
Pelantikan Gibran dan wakilnya sebagai Wali Kota Solo yang baru (Foto: Mohammad Ayudha/Antara)
Jakarta -
Jumat (26/2) akhir pekan lalu pasangan terpilih Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surakarta (Solo) periode 2020-2025, yang dilakukan secara virtual oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Pasangan ini secara meyakinkan menang atas rivalnya Bagyo Wahyono-FX Supardjo dengan mengantongi suara 86,53 % dalam Pilkada 2020.

Sosok Gibran yang merupakan putra sulung Presiden Jokowi tentu sangat menarik perhatian masyarakat Indonesia di antara para calon wali kota atau gubernur yang juga dikukuhkan pada hari yang sama. Selain usianya yang muda, 34 tahun (lahir 1 Oktober 1987), sosok Gibran selama ini dikenal sebagai pengusaha muda milenial yang sukses di bidangnya.

Sebagai Wali Kota Solo yang baru, tentu figur Gibran akan selalu dibanding-bandingkan dengan sosok ayahnya, yaitu Jokowi sewaktu menjabat Wali Kota Solo sebelumnya. Jokowi dianggap berhasil membangun Kota Solo menjadi seperti sekarang ini, yang kemudian diteruskan oleh wakilnya FX Hadi Rudyatmo. Jokowi mampu menjadikan Solo yang mungil menjadi kota yang mencitrakan ikon Jawa dengan budaya dan nilai-nilai yang adiluhung.

Kota Bengawan ini sering dijadikan tujuan wisata maupun pergelaran berbagai event berskala nasional dan internasional. Gaung Kota Solo semakin moncer saja dengan mengusung slogan "The Spirit of Java".

Namun dalam perjalanannya, arah pembangunan Kota Solo tak selalu mulus dan sesuai harapan masyarakat. Akhir-akhir ini banyak kritik tentang Kota Solo yang dinilai mulai memudar sebagai brand atau ikon Jawa yang memiliki kebudayaan tinggi. Termasuk berbagai persoalan tentang tata kota, pembangunan infrastruktur, lapangan pekerjaan, upah pekerja yang rendah, kesejahteraan warga, kemacetan, polusi, krisis pandemi, dan sebagainya.

Inilah yang akan menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Gibran ke depan.

Tantangan ke Depan


Sesungguhnya, jika ditelisik lebih jauh Kota Solo sedang tidak baik-baik saja. Ada beberapa parameter yang bisa dijadikan tolok ukur. Seperti pernah diberitakan, Solo menempati peringkat kedua sebagai kota paling kumuh se-Jawa Tengah oleh konsultan pendamping program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Provinsi Jawa Tengah --meskipun Pak Rudi, wali kota saat itu tetap berkeras bahwa Solo masih menjadi kota yang bersih dan layak huni.

Pertanyaannya, apakah warga masyarakat Surakarta juga merasakan hal yang sama seperti klaim wali kota? Apakah Solo sampai detik ini masih menjadi kota kecil yang bersih, indah, hijau, dan selalu menjadi kota rujukan untuk penyelenggaraan acara, termasuk agenda pemerintah pusat dan daerah-daerah lainnya?

Tentu untuk menyimpulkan ini dibutuhkan data yang akurat, tidak hanya sebatas kuantitatif, tetapi juga kualitatif, yaitu bagaimana sesungguhnya opini atau pendapat dari warga Solo asli sebagai objek sekaligus subjek dari program pembangunan kota yang dilakukan selama ini.

Saat ini pula, ada sorotan tajam kepada pemerintah kota Surakarta terkait program dan kebijakan tata ruang kota yang dianggap tidak humanis dan kurang memerhatikan aspek budaya serta lingkungan hidup. Misalnya kebijakan perluasan lahan parkir di Jalan Slamet Riyadi dengan menghilangkan area terbuka hijau. Tak sedikit warga Solo yang menyayangkan keputusan ini, bahkan memperkirakan wajah Kota Solo bakal semakin gersang dan panas.

Tak hanya itu, persoalan kemacetan jalan saat ini benar-benar menghantui warga Solo. Terlebih lagi pada jam-jam berangkat sekolah atau kerja dan jam-jam pulang. Bahkan netizen banyak yang berkomentar, Solo sama saja dengan Jakarta, macet parah. Ditambah pula, beberapa proyek-proyek pembangunan jalan yang tak kunjung selesai, sehingga semakin memperparah kemacetan di ruas-ruas jalan tertentu.

Keberadaan overpass Manahan pun belum cukup mengurai kemacetan yang terjadi. Bahkan muncul kritik baru, yaitu lebar jalan yang terlalu sempit, sekaligus tidak bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda. Pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi pun meningkat tajam. Hal ini menjadi persoalan serius terkait kemacetan jalan dan lahan parkir.

Tantangan yang tak kalah beratnya adalah soal kerukunan dan keharmonisan antar berbagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Sebagaimana diketahui, Kota Solo dianggap daerah yang paling komplet dan beragam tentang segala macam aliran, ideologi, kepercayaan, etnik, dan berbagai macam gerakan. Tak heran jika Kota Solo pernah dijuluki sebagai daerah "sumbu pendek" yang mudah tersulut api kemarahan dan konflik. Meskipun lambat laun stigma tersebut memudar seiring dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan sifat inklusivisme warga.

Membangun Branding


Sekarang ini, jika orang ingin berkunjung atau berwisata ke suatu tempat atau daerah selalu saja yang menjadi sumber informasi adalah internet. Kita tinggal mengetik nama daerah atau kota dan bisa pula menambahkan kata kunci pencarian yang lain, seperti tempat wisata, kuliner, budaya, event, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya.

Seperti halnya jika kita ingin mengenal Kota Surakarta atau populer dengan nama Kota Solo, kita tinggal mengetik "Solo" di internet. Maka akan muncul beragam gambar atau visual yang menunjukkan landscape atau identitas kota Solo, seperti tempat-tempat bersejarah, tempat wisata, tempat kuliner, ikon atau simbol kota, logo, tagline, beragam event yang telah diselenggarakan, dan tempat-tempat lainnya yang sering dikunjungi wisatawan.

Apa yang kita lihat di internet tentang Solo, itulah branding Kota Solo, yang menunjukkan kekhasan, keunikan, dan perbedaan dengan kota-kota lainnya. Dan, ketika orang sudah berkunjung ke Solo, mereka akan mengenal lebih jauh tentang karakter orang-orang Solo, wajah atau tampilan kota, tata kota, jalan-jalan kota, taman kota, gedung-gedung, simbol nama kota, dan ujung-ujungnya adalah mencari tempat yang bisa untuk swafoto.

Sekarang ini, betapa pentingnya membangun branding kota untuk bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan, terlebih para investor. Branding kota atau city branding adalah strategi komunikasi untuk menguatkan citra kota sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah yang dimiliki.

Branding tentu saja tak sekadar nama, logo, warna, slogan, atau kesan simbolik saja, melainkan citra kota secara keseluruhan yang melibatkan seluruh stakeholders di dalamnya. Dan, terpenting brand atau merek yang ingin diciptakan dari sebuah kota harus memiliki substansi nilai, posisi, dan persepsi yang kuat di benak warga Solo. Dikarenakan branding bekerja di wilayah persepsi dan pikiran orang. Sehingga membutuhkan sosialisasi dan komunikasi secara terus menerus.

Solo yang pernah mencanangkan sebagai "jiwanya Jawa" mencoba untuk membangun image sebagai simbol identitas Jawa dengan beragam kekayaan sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur Jawa. Meskipun keberadaan Solo tak sendirian, tetapi ditopang oleh daerah-daerah sekitarnya, seperti Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Nah tentu saja, ke depan sangat dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antar daerah.

Hal-hal yang bersifat egosentris harus ditanggalkan oleh masing-masing pemimpin daerah. Kerja sama yang saling menguntungkan, bukan saling merugikan adalah kunci kesuksesan bersama dalam membangun daerah. Jika ditelisik lebih jauh, sesungguhnya Kota Solo yang posisinya di tengah-tengah sangat ditopang oleh aset dan potensi daerah lainnya, seperti keberadaan jalan tol dan bandara, waduk, sumber air, keindahan alam pegunungan, pertanian, perkebunan, dan beragam kekayaan budaya lainnya.

Solo bisa dikatakan hanya memiliki mal-mal besar, hotel, tempat kuliner, dan pusat perbelanjaan. Kota Solo menjadi ramai oleh para wisatawan karena ada dukungan dari daerah-daerah di sekitarnya. Solo tak boleh egois dengan hanya mementingkan keuntungan sendiri, tetapi bisa berbagi dengan lainnya untuk maju dan berkembang bersama. Visi dan strategi branding yang tepat akan menjadikan Solo sebagai destinasi rujukan wisata yang akan membangkitkan pula sektor perekonomian lainnya.

Semua itu membutuhkan perencanaan yang matang, tahapan kerja yang terukur, serta evaluasi yang menyeluruh. Kita sangat berharap dengan figur kepemimpinan Gibran sebagai Wali Kota Solo yang baru untuk bisa membawa kota ini menjadi kota yang tetap ngangeni bagi siapa saja.

Imam Subkhan penulis tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah

(mmu/mmu)