Analisis Zuhairi Misrawi

Poros Global Moderasi Islam Indonesia-Arab Saudi

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 15:06 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan rekrutmen bagi kalangan perempuan untuk menjadi tentara di sejumlah pos penempatan, antara lain Angkatan Darat, Angkatan, Laut, Angkatan Udara, pasukan rudal strategis, dan layanan medis. Kebijakan ini sesuai dengan visi moderasi Islam yang diluncurkan oleh Muhammad bin Salman (MBS), sekaligus dalam rangka memuluskan visi 2030 dalam rangka memberikan peran partisipatoris bagi kaum perempuan dalam pembangunan negeri kaya minyak itu.

Langkah tersebut merupakan sejumlah terobosan yang dilakukan oleh MBS, yang ditandai dengan diperkenankannya perempuan untuk mengemudikan kendaraan, berbisnis, dan bebasnya para aktivis Hak Asasi Manusia dalam beberapa pekan terakhir. MBS terlihat sangat serius dalam menerjemahkan moderasi Islam dalam kebijakan publik, yang memberikan ruang yang setara bagi kalangan perempuan. Raja Salman juga sangat mendukung langkah yang dicanangkan MBS.

Kebijakan MBS tersebut dapat dipahami dalam dua konteks. Pertama, Arab Saudi mempunyai surplus demografi kaum perempuan yang selama ini belum diberi kesempatan secara maksimal untuk berperan di ruang publik. Mereka mengenyam pendidikan tinggi dari berbagai kampus terkemuka di dunia, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Di berbagai kampus terkemuka dunia, kita akan temukan para mahasiswi asal Arab Saudi, yang kualitasnya sangat membanggakan. Bahkan mereka tidak kalah bersaing dengan para perempuan dari berbagai negara Arab lainnya, baik di kawasan Teluk maupun kawasan Afrika Utara.

Partisipasi perempuan di ruang publik untuk menempati posisi strategis dan berperan dalam pembangunan Arab Saudi menuju visi 2030 mutlak diperlukan, sehingga visi MBS mampu diterjemahkan di lapangan dengan baik, dan pada akhirnya dapat mewujudkan terciptanya peradaban baru yang mencerminkan moderasi Islam tumbuh sebagai pilar penunjang bagi masa depan negri yang selama ini dikenal sebagai pelayan dua kota suci (khadim al-haramain), Mekkah dan Madinah.

Kedua, Arab Saudi mempunyai pengaruh luas di dunia Islam berkat program-program filantropis yang dilakukan sejak tahun 80-an, termasuk pengaruhnya di Tanah Air. Kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada tahun 2017 lalu mendapatkan sambutan yang luar biasa dari warga, tidak lain karena diantaranya peran-peran filantropis yang dilakukan Arab Saudi yang mewarnai perjalanan negeri ini. Di samping posisi strategsi Raja Salman sebagai khadim al-haramain.

Setidaknya ada 220 ribu warga Indonesia yang setiap tahun menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi dan 1,2 juta warga Indonesia yang menunaikan ibadah umrah setiap tahun. Setidaknya ada 1,5 juta warga Indonesia yang setiap tahunnya mengunjungi Arab Saudi. Konon ada sekitar 3 juta umat Islam dari berbagai dunia yang menunaikan ibadah haji setiap tahunnya, dan sekitar 20 juta umat Islam dari belahan dunia yang menunaikan ibadah umrah setiap tahunnya.

Jumlah tersebut membuktikan betapa strategisnya Arab Saudi dalam konteks relasi dengan dunia Islam lainnya, termasuk Indonesia. Belum lagi, ada ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di Arab Saudi dan ribuan mahasiswa kita yang juga menuntut ilmu di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Indonesia (LIPIA), Jakarta.

Maka dari itu, langkah MBS mendeklarasikan moderasi Islam mendapatkan respons luas dari seantero dunia, laksana embun di pagi hari yang akan meneguhkan moderasi beragama sebagai solusi alternatif dalam mewujudkan perdamaian dan toleransi di tengah keanekaragaman agama, suku, dan bahasa. Wajah moderasi Islam Arab Saudi tersebut membawa harapan baru, bahwa dunia global telah menuju perubahan bagi keberagamaan yang menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan, dan kedamaian.

Arab Saudi dikabarkan terus melakukan langkah-langkah strategis untuk meneguhkan visi moderasi Islam tersebut melalui pendidikan. Pada tahun 2019 lalu, Hamad bin Muhammad ali Syaikh, Menteri Pendidikan Arab Saudi menegaskan, bahwa pihaknya telah menyiapkan kurikulum pendidikan dalam rangka membangun kesadaran kritis dan filosofis, sehingga dapat mengembangkan nilai-nilai kebebasan berpikir, toleransi, dan mengatasi fanatisme (Al-Yaum al-Sabi', 19/11/2019).

Di Tanah Air, Presiden Jokowi dalam beberapa tahun terakhir telah mencanangkan visi moderasi beragama yang diinspirasikan oleh pengalaman Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam membumikan moderasi. Modal ideologis, sosial dan kultural, yang telah dilakukan oleh kedua ormas Muslim terbesar bersama dengan ormas-ormas lainnya telah terbukti memberikan harapan bagi tatanan sosial yang harmonis dan toleran. Dari moderasi Islam menuju moderasi beragama, sehingga umat agama-agama mampu membangun toleransi dan harmoni dalam konteks membangun peradaban bangsa dan dunia.

Berbagai ideologi transnasional dan global yang datang dari berbagai penjuru dunia berhasil diatasi dengan pemahaman yang benar dan baik terhadap agama, khususnya agama sebagai sumber cinta, kasih-sayang, dan perdamaian. Kita mempunyai modal historis, sosiologis, dan politis untuk menjadikan agama sebagai elan yang dapat memperkuat persaudaraan sesama umat, warga, dan dunia.

Maka dari itu, inisiatif yang terus digulirkan oleh Arab Saudi tersebut dapat dijadikan momentum untuk memperkuat poros global penguatan moderasi Islam antara Indonesia dan Arab Saudi, sehingga gaung moderasi Islam dapat mendunia. Kedua negara ini mempunyai modal yang sangat besar untuk membuka lembaran baru bagi tatanan dunia yang dapat mengusung persaudaraan.

Dalam konteks tersebut, memperkuat hubungan Indonesia-Saudi dalam konteks moderasi Islam, bahkan moderasi beragama akan menjadi sumbangsih terbesar bagi dunia, sehingga berbagai upaya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstremis tidak akan mendapatkan tempat di muka bumi. Langkah yang diambil oleh Vatikan dan al-Azhar Mesir dalam melahirkan Piagam Persaudaraan Manusia Se-Dunia harus menjadi momentum, bahwa moderasi Islam dan moderasi beragama dapat menjadi oase dunia dalam mewujudkan masyarakat global yang hidup berdampingan secara damai dan melahirkan peradaban baru yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan kedamaian.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Muslim, kader Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)