Kolom

Koleksi Terlantar di Museum Kita

Salsabilla Sakinah - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 14:50 WIB
Museum Ganesya menambah wahana baru Hawai Water Park, yang berada di selatan exit tol Singosari, Karanglo, Kabupaten Malang. Koleksi museum menjadi literasi sejarah bagi wisatawan, dari mulai pra Majapahit hingga awal penyebaran Islam di Tanah Jawa.
Foto ilustrasi: Muhammad Aminudin
Jakarta -

"Kalau koleksi-koleksi museum itu dikembalikan ke negara asalnya, negara-negara berkembang, apakah kamu pikir benda-benda warisan budaya dunia yang tidak ternilai harganya itu akan terjamin keamanannya dan keselamatannya di sana?"

Begitu argumen seorang teman di salah satu kelas kuliah master saya di Inggris, beberapa tahun silam. Saat itu, kami sedang membahas soal repatriasi atau pengembalian benda-benda cagar budaya ke negara asalnya. Contoh studi kasus yang diangkat adalah dua koleksi berharga yang selama ini tersimpan di British Museum, yaitu Benin Bronzes asal Nigeria dan Parthenon Marbles asal Yunani.

Meski terdengar congkak dan merendahkan negara-negara berkembang, argumen teman asal Inggris itu terasa seperti pukulan telak bagi saya. Bukan perkara repatriasinya, tapi tudingan akan lemahnya kemampuan dan kompetensi kita dalam memelihara, menjaga, dan mengelola benda-benda warisan budaya. Kasus pencurian ratusan koleksi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara yang terjadi beberapa waktu lalu seolah menegaskan kebenaran tudingan tersebut, membuka tabir koleksi-koleksi yang terlantar di balik dinding museum-museum kita.

Bukan Sekali

Kasus pencurian koleksi museum di Indonesia sebenarnya bukan baru sekali ini saja terjadi. Dalam rentang waktu 2010-2020, setidaknya ada sebelas kasus pencurian koleksi museum yang tercatat di media. Pada 2018, ratusan keping dan lembaran uang kuno dari Museum Sejarah Universitas Galuh Ciamis dicuri. Pada 2017 tercatat ada tiga kasus pencurian koleksi yang terjadi, yaitu di Museum Bank Indonesia, Museum Sang Nila Utama Riau, dan Museum Mandar Sulawesi Barat.

Pada 2016, mahkota Kerajaan Gowa hilang dicuri dari Museum Balla Lompoa. Sebelumnya, tahun 2015 juga tidak terlewat dari kasus pencurian koleksi museum, kali ini keris koleksi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara yang menjadi korbannya, meski akhirnya bisa kembali ditemukan. Pada 2013, empat koleksi emas hilang dicuri dari Museum Nasional dan setidaknya 100 lukisan dicuri dari Museum H. Widayat Magelang.

Pada 2011, koleksi wayang dari Museum Radya Pustaka Surakarta dan koleksi mata tombak kuno berlapis emas dari Museum Keraton Kasepuhan Cirebon hilang dan dipalsukan. Sebelumnya, pada 2010, Museum Sonobudoyo Yogyakarta kehilangan 54 koleksi yang sebagian besar merupakan koleksi emas, dan dianggap sebagai kasus terbesar dalam sejarah pencurian koleksi museum di Indonesia.

Kasus-kasus pencurian tersebut menunjukkan lemahnya penjagaan keamanan dan tertinggalnya sistem inventarisasi koleksi museum di Indonesia. Lemahnya penjagaan keamanan terlihat dari banyaknya kasus pencurian yang tidak terekam oleh CCTV atau kamera pengawas, entah karena kameranya mati seperti pada kasus pencurian koleksi emas di Museum Nasional, kamera yang rusak, atau bahkan memang tidak ada CCTV di sana seperti yang terjadi di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara kali ini.

Sementara itu, ketertinggalan sistem inventarisasi koleksi tercermin dari lambatnya identifikasi atas koleksi yang hilang, seperti yang juga terjadi pada kasus pencurian di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara itu. Berita-berita terakhir yang tayang di media massa hanya menyebutkan bahwa koleksi yang hilang merupakan koleksi-koleksi logam, tapi belum ada kejelasan soal apa saja barangnya, dan bagaimana nilai pentingnya.

Hal itu dapat diduga disebabkan oleh sistem inventarisasi yang masih dilakukan secara manual, sehingga pengecekan barang yang hilang akan membutuhkan waktu lama, atau bahkan tidak terdeteksi untuk beberapa waktu lamanya. Inovasi penggunaan sistem inventarisasi berbasis digital dapat membuat pelacakan dan identifikasi koleksi menjadi lebih mudah dan cepat.

Menyentak

Di luar dua hal yang memang sudah sejak lama menjadi sorotan dalam setiap kasus pencurian koleksi museum itu, kasus yang menimpa Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara kali ini menyentak netizen Indonesia juga karena satu hal. Yakni, foto-foto ruang penyimpanan koleksi museumnya yang viral di media sosial, memamerkan dengan terang-terangan bahwa ada lebih dari sekadar permasalahan keamanan yang mesti diselesaikan oleh museum-museum kita.

Dalam foto-foto yang dibagikan oleh akun Facebook pribadi salah seorang pegawai instansi terkait, terdapat beberapa rak tinggi yang awalnya dipenuhi koleksi menjadi kosong-melompong. Di foto before-nya, tampak ratusan koleksi yang diletakkan ala kadarnya, hanya beralas koran-koran bekas, kumuh, dan berdebu. Boro-boro berharap ada alarm kebakaran, sarana perlindungan bila terjadi gempa bumi, atau alat pengatur suhu dan kelembapan seperti standar ruang penyimpanan koleksi di Inggris atau Belanda sana.

Netizen pun ramai-ramai tersentak: beginikah potret ruang penyimpanan benda-benda koleksi di museum kita? Benda-benda yang konon katanya bernilai sejarah tinggi itu? Benda-benda yang konon menjadi saksi kebesaran peradaban kita? Bola bergulir semakin liar. Sebagian netizen yang kesal mulai berkata, kalau begini keadaannya, apa fungsinya museum kita? Lebih baik biarkan saja benda-benda warisan budaya itu ada di luar negeri, atau di tangan kolektor yang memang tahu cara memelihara benda-benda antik semacamnya!

Kekurangan dana semestinya tidak bisa menjadi dalih pengelola museum atas koleksi-koleksi yang terlantar. Apalagi untuk museum negeri yang pengelolaannya berada di bawah kendali pemerintah. Dalam PP No. 66 Tahun 2015 tentang Museum disebutkan bahwa salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam pengajuan pendirian museum adalah memiliki sumber pendanaan tetap. Artinya, ketika pemerintah mengajukan pendirian suatu museum negeri, ada bagian dari anggaran negara yang sudah dialokasikan secara tetap untuk pengelolaan museum tersebut.

Pengelola museum, khususnya pemerintah, tentu tidak mau kan kalau masyarakat berpendapat bahwa alih-alih terlantar di museum, lebih baik benda-benda cagar budaya warisan budaya nasional ataupun daerah kita berada di luar negeri atau di tangan kolektor saja?

Salsabilla Sakinah praktisi museum, alumni Master of Museum Practice Newcastle University UK

(mmu/mmu)