Kolom

Urgensi Komunikasi Sains

Darmawan Napitupulu - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 13:30 WIB
Covid-19: Vaksin Moderna tampak mampu melawan varian baru virus corona, kata ilmuwan
Foto ilustrasi: BBC Magazine
Jakarta - Sains lebih dari sekadar ilmu pengetahuan, namun merupakan sebuah cara berpikir. Setidaknya ungkapan tersebut yang disampaikan Carl Sagan dalam bukunya berjudul Cosmos yang fenomenal. Sains bukanlah sesuatu yang jauh berada di awang-awang, tetapi harus termanifestasi dalam kehidupan masyarakat. Kira-kira seperti itu makna ungkapan di atas. Sains bukan hanya milik orang pintar (baca: ilmuwan), namun juga domain publik.

Namun fenomena yang kerap terjadi adalah masyarakat awam sering tidak faham ketika ilmuwan menjelaskan sains dengan bahasa ilmiah yang cenderung kaku dan tidak sederhana. Alhasil publik tidak mendapatkan apa yang diharapkan dari sains. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin publik tidak percaya lagi akan sains atau yang disebut anti-sains.

Gerakan "anti-sains" sebenarnya muncul akibat besarnya harapan masyarakat terhadap sains, namun harapan tersebut acap tidak dapat dipenuhi. Misalnya kompleksitas masalah di tengah pandemi Covid-19 terkait soal vaksinasi belakangan ini terjadi karena lemahnya komunikasi sains antara ilmuwan dengan publik dan pemerintah. Jika masyarakat bisa diedukasi dengan baik, maka seharusnya program vaksinasi ini bisa mendapatkan "restu" publik.

Namun sebaliknya, banyak masyarakat yang masih tidak percaya akan keamanan vaksin corona sekalipun Presiden Jokowi sudah "rela" menjadi orang pertama yang disuntik. Alih-alih berubah pikiran mau divaksin, masyarakat malah mengembangkan antitesis-antitesis baru menurut versi mereka.

Ada yang mengatakan bahwa "vaksin berbahaya karena kuman akan aktif dan menginfeksi tubuh resipien." Yang lain berpendapat bahwa "kita semua tidak perlu vaksin karena Tuhan telah memberikan kekebalan kepada kita; apalagi anak-anak sudah mendapatkan kekebalan dari ibunya."

Mereka menolak keberadaan vaksin hanya berbasis keyakinan, bukan berdasarkan fakta. Banyak lagi bermunculan antitesis baru di tengah masyarakat menjelang program vaksinasi yang akan diterapkan pemerintah pada awal tahun 2021 ini. Hasil survei SMRC menunjukkan bahwa hanya 56% masyarakat yang percaya pada keamanan vaksin tersebut. Artinya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin cukup rendah bahkan cenderung menurun karena data survei sebelumnya berada pada angka 66%.

Kondisi ini diperparah akibat tingkat penyebaran hoaks yang begitu masif. Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) mencatat tidak kurang dari 2024 hoaks yang beredar di tengah masyarakat terkait isu Covid-19 sepanjang 2020. "Prestasi" luar biasa ini berhasil mendapuk Indonesia sebagai peringkat lima di dunia dalam persebaran hoaks Covid-19. Alhasil, gerakan masyarakat antivaksin mulai ramai muncul, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Hoaks dan Disinformasi

Tingginya persebaran hoaks sesungguhnya terjadi karena kealpaan pemahaman masyarakat yang utuh terhadap sains. Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya akibat minimnya kesadaran masyarakat terhadap sains. Misalnya bencana alam yang telah merenggut banyak korban jiwa dan kerugian material yang cukup besar. Sebut saja gempa di Palu-Donggata Sulteng yang terjadi dua tahun silam.

Disinyalir masyarakat tidak tahu akan besarnya potensi bencana karena informasi tentang mitigasi bencana di daerah tidak berjalan secara maksimal. Kurangnya sosialisasi dari pemda setempat juga ikut "berkontribusi" terhadap dampak dari bencana tersebut. Tanpa panduan, masyarakat hanya mengandalkan insting untuk menyelamatkan diri ketika menghadapi bencana. Ironisnya, ketika ilmuwan mengingatkan akan potensi bahaya gempa kepada pemda setempat malah dituduh menakut-nakuti masyarakat. Mereka khawatir investasi tidak jadi masuk ke daerahnya.

Kurang efektifnya komunikasi sains yang dilakukan ilmuwan menyebabkan terjadinya disinformasi di tengah masyarakat. Padahal publik membutuhkan sains untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi sains yang buruk akan mengakibatkan pengembangan sains menjadi terhambat. Sains tidak bisa lagi bersifat eksklusif, tetapi harus ditebarkan dan dibagikan kepada publik seluas-luasnya.

Di era digital seperti sekarang, komunikasi sains punya peran yang jauh lebih penting yakni merawat nalar publik sehingga masyarakat tidak mudah termakan isu-isu hoaks. Hoaks begitu cepat berkembang karena masyarakat tidak mendapatkan informasi yang tepat melalui sumber terpercaya dan kredibel yaitu para ilmuwan.

Harus kita akui, komunikasi antara ilmuwan, masyarakat, dan pemerintah masih sangat lemah bahkan sering tidak nyambung. Ilmuwan memiliki kepakaran untuk menjelaskan kepada khalayak umum dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Sayangnya, kemampuan mengkomunikasikan sains mereka belum memadai sehingga tidak mampu menyampaikan hasil penelitian yang dapat dicerna oleh publik.

Kebiasaan ilmuwan bekerja pada lingkungan dan topik yang spesifik tidak jarang melahirkan pemikiran eksklusif. Alih-alih mengkomunikasikan sains pada masyarakat, bahkan kepada ilmuwan bidang lain pun tidak. Ilmuwan lebih sering berkutat dengan topik dan kelompoknya sendiri.

Putusnya jembatan komunikasi para ilmuwan dengan publik terjadi karena adanya perbedaan titik tolak atas sains. Para ilmuwan cenderung fokus pada aspek-aspek ilmiah dan publikasi. Tak heran jika hasil-hasil riset selama ini lebih banyak dikemukakan pada forum ilmiah. Padahal, masyarakat cenderung membutuhkan pesan yang sederhana, mudah dimengerti, dan menarik. Komunikasi sains yang mumpuni mutlak diperlukan untuk mengatasi kesenjangan ini.

Solusi yang Logis

Tantangan dalam komunikasi sains adalah bagaimana peran ilmuwan dalam menjelaskan keterbaruan dalam ilmu pengetahuan dan juga meyakinkan masyarakat bahwa sains adalah solusi yang logis dan rasional. Jika ditelaah, sebenarnya sudah ada upaya ilmuwan dalam melakukan komunikasi sains kepada publik dan pemerintah khususnya pejabat yang berwenang. Contohnya seperti kasus di Palu-Donggata, ilmuwan ingin memberi tahu agar masyarakat siap siaga akan potensi bencana.

Namun ternyata ada sejumlah faktor penghambat mengapa komunikasi sains yang dibangun "pupus" di tengah jalan. Setidaknya ada tiga masalah fundamental bagi seorang ilmuwan untuk berkomunikasi sains. Pertama, masalah bahasa. Ilmuwan memiliki kesulitan dalam menterjemahkan kerumitan sains menjadi suatu tuturan yang mudah dipahami oleh masyarakat. Hal ini disebabkan perbedaan bahasa yang digunakan yaitu antara bahasa ilmiah dan bahasa semi populer.

Komunikasi hasil penelitian yang menggunakan bahasa yang sederhana merupakan kunci keberhasilan proses transfer ilmu pengetahuan. Ilmuwan yang memiliki pengalaman dalam publikasi ilmiah belum tentu dapat menghasilkan tulisan populer yang baik dan menarik. Tulisan populer mempunyai struktur dan gaya penulisan yang jauh berbeda dengan tulisan ilmiah.

Kedua, masalah persepsi. Para ilmuwan cenderung menampilkan data-data yang bersifat ilmiah (scientific data) secara teoritis dan mementingkan dari segi akurasi daripada keterbacaannya. Tapi masyarakat awam tidak mengerti dan lebih memilih ingin mengetahui manfaat praktis bagi mereka. Inilah perbedaan persepsi antara ilmuwan dan masyarakat.

Ketiga, masalah nilai. Media masih menganggap sains tidak cukup memiliki nilai berita. Ternyata tidaklah mudah membuat media tertarik pada liputan yang bersudut pandang ilmiah. Di Indonesia, berita hiburan (infotainment) tampaknya punya nilai jual yang lebih tinggi di mata masyarakat ketimbang isu-isu ilmiah. Ilmuwan berharap media dapat membantu mempublikasikan hasil penelitiannya kepada khalayak luas. Sayangnya, tidak semua jurnalis juga mempunyai pengetahuan dasar yang cukup tentang sains.

Kita ingat pemberitaan media yang heboh tentang fenomena gerhana bulan total (GBT), Supermoon, dan blue moon pada 2018. Banyak media mengatakan bahwa hal ini adalah peristiwa langka yang jarang terjadi. Akibatnya, masyarakat sontak beramai-ramai ingin menyaksikan gerhana bulan total ini Padahal menurut ilmuwan, kejadian tersebut adalah fenomena biasa, dan Supermoon juga hanya bulan purnama biasa yang sering kita lihat pada malam hari, hanya saja warnanya merah. Celakanya lagi, ada saja orang yang percaya bahwa fenomena GBT adalah salah satu tanda akhir zaman.

Forum Ilmiah vs Non-Ilmiah

Berbagai masalah yang dipaparkan di atas sebenarnya dapat diatasi jika komunikasi sains dapat terwujud secara efektif. Tidak cukup hanya dengan menyusun narasi ilmiah, ilmuwan butuh belajar mengembangkan komunikasi sains dalam dirinya. Publikasi jurnal ilmiah bukanlah satu-satunya cara untuk mengkomunikasikan sains, apalagi kepada publik.

Ilmuwan hendaknya tidak membedakan lagi pentingnya antara forum ilmiah maupun non-ilmiah. Komunikasi sains dapat dikembangkan misalnya dengan mengikuti berbagai pelatihan secara intensif, belajar membuat tulisan semi-populer, infografis, bahkan melalui media sosial seperti Podcast dan Youtube.

Dukungan institusi juga harus ditingkatkan agar para ilmuwannya memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan sains mereka. Banyak lembaga yang belum menyadari bahwa ada jurang pemisah antara sains dan kebutuhan publik. Komunikasi sains dapat menjadi jembatan keduanya. Terlebih jika kita ingin pemerintah membuat kebijakan yang berbasis sains (evidence-based policy), ilmuwan harus mampu mengkomunikasikan temuannya dengan baik. Hal ini sangat penting dilakukan karena kebijakan yang mengabaikan sains seringkali salah kaprah dan tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah sikap persisten atau kegigihan. Mental block masyarakat dan pemerintah tidak bisa diubah hanya dalam waktu satu malam. Perlu usaha yang berkelanjutan dan berkesinambungan untuk mengedukasi pentingnya sains dan membudayakan masyarakat untuk berpikir ilmiah. Sikap pantang menyerah merupakan pesan inti yang ingin disampaikan Carl Sagan dalam buku klasik best seller karyanya.

Gerakan antivaksin di Indonesia muncul dan menguat berdasarkan aliran kepercayaan, bukan berpijak padas sains. Kita tahu bahwa gerakan semacam ini tidak terbuka untuk berani mengubah pendapat lamanya walaupun sudah ada bukti sains yang baru. Sama halnya dengan kaum bumi datar, mereka selalu punya keyakinan untuk menjaga teori tersebut tetap eksis meskipun sudah berulang dibantah oleh para ilmuwan. Lalu apakah lantas para ilmuwan menyerah? Semoga tidak!

(mmu/mmu)