Jeda

Belajar Menahan Diri untuk (Selalu) Berpendapat

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 12:05 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Memulai hari-hari pada awal tahun baru kemarin, saya iseng dan berlagak ingin melucu dengan melemparkan resolusi yang saya umumkan via status Facebok dan update timeline Twitter. Sembari memasang foto dalam pose santai di sebuah lokasi yang lazim menjadi tempat anak-anak muda berfoto di daerah Jakarta Selatan, saya menyatakan bahwa tahun ini resolusi saya mengurangi dan menahan diri untuk mengomentari isu-isu yang berseliweran di media sosial, dan akan lebih banyak posting foto-foto saja.

Ternyata, dari sekian gelintir follower saya ada yang begitu perhatian, dan beberapa dari mereka berkomentar, rata-rata meragukan bahwa saya akan bisa mewujudkan resolusi itu. "Alah, paling cuma bertahan seminggu," demikian salah satu komentar yang saya baca.

Dan, ternyata memang benar. Pada zaman yang kerap dimetaforakan sebagai "banjir informasi" dan "ledakan opini" ini, menahan diri untuk berkomentar dan berpendapat mengenai suatu isu tidak hanya berat, tapi juga menyiksa. Rasanya seperti perlahan-lahan membiarkan diri untuk melenyapkan eksistensi dari pergaulan sosial, yang didominasi oleh berbagai perjumpaan digital, dan menjadikan diri semakin tidak relevan di tengah keramaian.

Faktanya, baru berjalan beberapa hari saja, tahun 2021 sudah dipenuhi oleh berbagai isu yang hilir mudik, silih berganti, semua penting dan menarik serta menggoda untuk dikomentari. Isu-isu itu seolah-olah memanggil-manggil kehadiran kita, meminta pendapat kita, mendesak kita untuk ikut arus dan nimbrung dalam percakapan. Isu-isu yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan tanpa dikomentari, karena punya potensi untuk menaikkan popularitas kita di jagat media sosial.

Memangnya, apa yang lebih penting daripada itu? Tanda jempol dan komentar di Facebook, serta lambang love, reply dan retweet di Twitter itu candu. Itulah sumber gairah hidup; pengusir sepi dan pelipur lara dalam hidup kita. Itulah alasan bagi kita untuk merasa bahagia. Tak heran bila demi meraih itu semua, otak kita tak henti memuntahkan berbagai sudut pandang dan gagasan. Tidak peduli isunya relevan atau tidak dengan kita, berada di dalam lingkup minat kita atau tidak, kita senantiasa siap sedia untuk melontarkan tanggapan.

Kita bahkan "rela" dan kalau perlu "bela-belain" menyampaikan pendapat terhadap topik yang tidak menarik bagi kita. Apakah UMR yang ditetapkan pemerintah provinsi tempat kita tinggal selama ini sudah kompatibel dengan harga properti? Benarkah pemanasan global menjadi penyebab tingginya aktivitas Gunung Merapi baru-baru ini, seperti dikatakan ibu menteri sosial yang baru? Apakah efikasi vaksin Sinovac yang sekian persen itu sudah bisa dijadikan pegangan, mengingat persentase sampel yang digunakan untuk uji klinis rendah?

Pertanyaan-pertanyaan itu, isu-isu itu, topik-topik bahasan itu, barangkali sebenarnya bukan hanya tidak menarik bagi kita, melainkan juga terlalu rumit untuk dijawab dalam satu-dua lontaran kalimat yang kita ketik dengan terburu-buru, atau sambil lalu, atau di sela kita ngobrol dengan teman di kedai kopi. Namun, dapat dijawab atau tidak dengan cepat, rumit atau sederhana, kita punya jawabannya. Otak kita siap untuk melemparkan komentar. Kita sigap memutuskan untuk harus terlibat dalam pembicaraan itu.

Seloroh yang selama ini berulang muncul: ketika ada pesawat jatuh, semua orang mendadak menjadi ahli penerbangan; ketika terjadi bencana alam, tiba-tiba semua orang menjadi pengamat lingkungan; dan seterusnya. Faktanya, banyak peristiwa yang terjadi di masyarakat, berikut isu-isu yang berkembang, terlalu rumit untuk dijawab dalam sekejap. Namun, keterhubungan digital membuat kita cenderung untuk serba buru-buru: buru-buru merespons isu, buru-buru menanggapi kebijakan pemerintah, buru-buru memberikan opini atas suatu persoalan, buru-buru menjawab pertanyaan yang rumit.

Tanpa kita sadari, keterhubungan membuat kita menjadi manusia satu dimensi; kita menjadi mudah dipengaruhi, emosi kita mudah meletup, opini kita gampang digiring, dan reaksi kita terhadap banyak hal menjadi instan. Bukan sekali-dua kita menyaksikan seseorang menghapus tweet karena dinilai menyinggung perasaan pihak lain, atau merespons informasi yang ternyata hoaks. Bukan cerita baru ada netizen yang diperkarakan secara hukum atas tuduhan mencemarkan nama baik, lalu belakangan menyesal, minta maaf, dan mengaku khilaf.

Jempol kita mendahului pikiran kita. Otak kita mendahului kesadaran kita. Barangkali Anda sendiri pernah, dengan penuh semangat ikut membagikan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dan kemudian informasi yang Anda ikut andil mempercepat dan memperluas penyebarannya itu ternyata salah, namun sudah telanjur menimbulkan kepanikan yang membahayakan orang banyak.

Pendapat yang dilontarkan dengan buru-buru, tanpa ditimbang dengan matang bisa mengakibatkan pengambilan keputusan yang buruk, dan pada gilirannya keputusan yang buruk bisa memicu kekacauan. Tapi, yang tak kalah pentingnya, menurut Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of The Good Life, ada alasan lain mengapa kita perlu mencegah pendapat yang terlalu buru-buru. Menurut dia, dengan tidak selalu merasa harus memiliki pendapat, pikiran Anda akan lebih tenang dan Anda pun bisa lebih santai --suatu kondisi yang vital untuk hidup tenteram.

Saya teringat resolusi guyonan saya. Tentu saja saya sangat sadar, bahwa nyaris mustahil di era sekarang ini kita menahan diri untuk tidak berkomentar. Kolom komentar ada di mana saja: di bawah artikel berita, di bawah status Facebook teman kita yang setiap beberapa puluh menit sekali diperbarui, di timeline Twitter, dan IG story artis idola kita, ya mengepung kita. Pada akhirnya saya tetap lebih banyak melontarkan komentar dan melempar pendapat dibandingkan dengan mem-posting foto, seperti yang saya inginkan.

Ternyata saya masih harus lebih berusaha keras. Saya harus belajar untuk menahan diri ikut berpendapat atas setiap isu yang mampir ke timeline saya, atau yang saya baca di media online. Mungkin saya harus bersikap keras terhadap diri saya sendiri dengan selalu mengatakan ini sebelum saya melontarkan pendapat: memangnya pendapat kamu penting? Ya, apakah pendapat saya relevan --untuk saya sendiri (untuk kehidupan pribadi atau karier saya) maupun untuk ikut mempengaruhi proses pengambilan kebijakan publik?

Bisa jadi jawabannya iya, tapi berapa persen pendapat saya yang penting dan relevan, dan berapa persen yang tidak? Yang jelas, hidup ini bukan talk show dan saya perlu untuk senantiasa mengingatkan diri bahwa saya tidak sedang tampil menjadi salah satu pembicara. Tidak ada pembawa acara yang mengejar-ngejar pendapat saya. Dengan begitu, saya bisa duduk diam, lebih tenang, tidak kemrungsung, dan punya lebih banyak waktu untuk menenangkan pikiran saya, dan untuk melakukan hal-hal lain yang lebih penting dan relevan --bagi kesehatan mental saya, bagi kelancaran pekerjaan saya, bagi usaha pencapaian kebahagiaan saya.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)