Kolom

Industri Keuangan dan Asa Pemulihan Ekonomi

Piter Abdullah Redjalam - detikNews
Rabu, 20 Jan 2021 14:06 WIB
Pemulihan Ekonomi
Ilustrasi: Mindra Purnomo/tim infografis detikcom
Jakarta -

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pidatonya pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK), Jumat (15/1) malam lalu di hadapan Presiden RI menyatakan bahwa pandemi Covid-19 merupakan perfect storm yang meluluhlantakkan perekonomian.

Dari sisi supply, pandemi menghancurkan rantai produksi global maupun domestik. Sementara dari sisi demand, pandemi menurunkan penurunan pendapatan masyarakat sebagai dampak terbatasnya mobilitas dan turunnya kegiatan ekonomi.

Di tengah pandemi yang tak kunjung berakhir, resesi kemudian menjadi sebuah kewajaran baru. Hampir semua negara mengalami resesi, termasuk Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul, kapan pandemi berakhir? Kapan perekonomian akan pulih? Dihadapkan dengan pertanyaan ini, bisa dipastikan pandangan kita akan berbeda-beda.

Beberapa pengamat dan pelaku ekonomi tidak berani untuk optimis bahwa perekonomian Indonesia akan segera membaik pada tahun 2021. Mereka meyakini pandemi belum akan berakhir pada tahun ini. Demikian juga dengan resesi ekonomi. Butuh waktu yang lebih lama untuk pandemi berakhir dan ekonomi kembali pulih.

Di sisi lain, beberapa pihak justru menunjukkan harapan dan optimisme yang tinggi. Tahun ini perekonomian dunia termasuk Indonesia akan kembali pulih. Setidaknya ada dua alasan untuk optimis.

Pertama, sudah ada vaksin dan beberapa negara sudah melakukan vaksinasi. Indonesia adalah salah satu negara yang sudah melakukan vaksinasi kepada penduduknya. Vaksin diyakini akan menjadi game changer yang akan mempercepat terjadinya herd immunity sekaligus menghentikan pandemi.

Kedua, terus optimis adalah kondisi ekonomi kita yang masih bisa bertahan di tengah pandemi. Sendi-sendi perekonomian kita masih cukup kokoh untuk bisa segera bangkit. Salah satunya adalah industri keuangan. Di tengah turbulensi ekonomi yang akibat pandemi, industri keuangan masih kokoh dan stabil. Setidaknya hal itu ditunjukkan oleh beberapa indikator.

Sektor Perbankan

Di sektor perbankan, meskipun pandemi menghantam telak perekonomian, menyebabkan ribuan perusahaan mengurangi produksi atau bahkan tidak beroperasi, tidak ada satu bank umum yang kolaps. Pertumbuhan kredit memang turun drastis, tetapi kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) terjaga rendah di kisaran 3 persen. Bandingkan dengan krisis pada 1998/1999; Ketika itu NPL perbankan melonjak hingga 50 persen.

Dengan kualitas kredit yang masih relatif baik, perbankan juga masih mampu untuk mendapatkan keuntungan. Walaupun harus diakui terjadi penurunan yang cukup dalam di beberapa bank kecil, tetapi secara keseluruhan perbankan masih mampu mempertahankan kinerjanya mencetak laba.

Kemampuan perbankan mempertahankan kualitas kredit untuk kemudian masih mendapatkan keuntungan berujung kepada tetap terjaganya permodalan perbankan di kisaran 23 persen. Jauh di atas batas aman yang disyaratkan oleh Basel. Perbankan Indonesia terbukti mampu bertahan di tengah menurunnya perekonomian akibat pandemi.

Bertahannya industri perbankan tidak terlepas dari kecepatan dan ketepatan OJK mengantisipasi dan merespons dampak pandemi Covid-19. Sejak awal pandemi, OJK sudah mengambil kebijakan memudahkan restrukturisasi kredit, menyederhanakan penilaian kualitas kredit (satu pilar), menunda penerapan Basel III, dan melonggarkan pemenuhan indikator likuiditas serta indikator permodalan. Tanpa kebijakan-kebijakan ini sulit membayangkan bank-bank bisa menghindari lonjakan NPL yang berpotensi menggerogoti laba dan modal bank.

Pasar Modal

Kinerja sektor pasar modal tidak kalah menggembirakan. Meskipun sempat terpuruk di awal pandemi, pasar modal Indonesia bisa dengan cepat bangkit. Pada 23 Maret 2020 IHSG terjun bebas ke level terendah di angka 3.937. Pada akhir 2020, Pasar Modal Indonesia ditutup dengan IHSG mencapai 5.979.

Optimisime pelaku pasar bahwa perekonomian akan segera pulih bahkan mendorong IHSG untuk meningkat lebih cepat pada awal 2021. Hanya dalam dua minggu, IHSG mengalami kenaikan hampir 400 poin atau sekitar 6 persen.

Quick recovery yang terjadi di pasar modal juga tidak bisa lepas dari kebijakan OJK. Untuk menurunkan votalitas pasar sekaligus mengembalikan kepercayaan investor di pasar modal, OJK melarang transaksi short selling untuk sementara waktu, mengubah batasan auto rejection, dan menghentikan perdagangan selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 5 %. Selain itu OJK juga meniadakan perdagangan sesi pre-opening, dan mengizinkan emiten melakukan buyback saham tanpa melalui RUPS.

Kebijakan-kebijakan tersebut tidak hanya efektif menurunkan votalitas pasar, tetapi sekaligus juga mengembalikan kepercayaan investor. Pulihnya kepercayaan investor bahkan diikuti oleh peningkatan jumlah investor ritel yang luar biasa.

Pada 2019 jumlah investor pasar modal sebanyak 2,48 juta. Sementara pada 2020, jumlah investor meningkat signifikan menjadi 3,88 juta atau naik 56 persen. Hadirnya investor baru ini mampu dengan cepat menggantikan investor asing yang keluar di awal pandemi, untuk kemudian mengembalikan dan menjaga stabilitas harga saham.

Keuangan Non Bank

Di tengah tekanan yang begitu besar akibat pandemi, Kinerja Industri Keuangan Non Bank (IKNB) yang mungkin tidak terlalu baik. Meskipun tidak bisa juga dikatakan sangat buruk. Intermediasi IKNB mengalami penurunan. Premi Asuransi Komersial terkontraksi cukup dalam sebesar -7,34% yoy, sementara Piutang Pembiayaan terkontraksi sebesar -17,1% yoy.

Meskipun begitu, profil risiko IKNB masih terjaga dalam level yang manageable. Permodalan lembaga sampai saat ini relatif terjaga pada level yang memadai. Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 540% dan 354%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Demikian juga dengan Gearing Ratio Perusahaan Pembiayaan yang tercatat sebesar 2,19%, jauh di bawah angka maksimum 10%.

Reformasi IKNB memang masih belum selesai. Masih dibutuhkan berbagai kebijakan untuk memperkuat pengelolaan risiko dan good corporate governance. Kebijakan-kebijakan ini adalah bagian dari agenda reformasi IKNB secara bertahap dengan mempertimbangkan dampak pro-cyclical terhadap perekonomian.

Harapan Pemulihan

Industri keuangan yang sehat dan stabil adalah harapan pemulihan ekonomi nasional. OJK tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi yang sudah berjalan baik dengan pemerintah dan Bank Indonesia harus terus dilakukan bahkan ditingkatkan. Hanya dengan bekerja sama kita bisa menjaga industri keuangan tetap sehat dan stabil, mengakhiri pandemi, dan memulihkan perekonomian nasional.

Piter Abdullah Redjalam Direktur Riset CORE Indonesia

(mmu/mmu)