Literasi Pandemi

Sudirman Said - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 14:10 WIB
Sudirman Said saat hadiri Blak-blakan bersama detikcom.
Sudirman Said (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta -

Bangsa-bangsa di seluruh dunia kini, tengah memasuki suatu fase baru dalam penanganan Pandemi Global Covid-19 (pandemi), dengan dimulainya vaksinisasi. Lewat media massa dan atau laporan otoritas resmi, kita ketahui: Pertama, jumlah kasus yang terus meningkat, demikian pula dengan korbannya, di sisi lain kita juga bersyukur atas meningkatnya kemampuan penanganan sehingga jumlah yang selamat juga bertambah besar. Kedua, kendati kejadian berlangsung secara kasat mata, dan dengan korban yang sangat jelas, namun dalam kenyataan, masih saja berlangsung pro dan kontra, yang tidak mengarah pada pencanggihan penanganan, sebaliknya justru membuat ketergerusan kepercayaan publik. Padahal kita semua tahu bahwa untuk berhasilnya penanganan pandemi dibutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga setiap kebijakan publik dan implementasinya, dapat diselenggarakan secara optimal, karena penerimaan publik yang besar itu. Ketiga, dalam fase vaksinasi, sesungguhnya masih terdapat beberapa catatan yang amat perlu mendapatkan perhatian, tentu agar fase ini dapat berjalan lancar dan membawa dampak positif pada makin meningkatnya imunitas di kalangan warga, sehingga tingkat penyebaran virus dapat diturunkan, atau dikendalikan.

Dari ketiga hal tersebut, kita dapat menangkap dua aspek pokok, yakni: (1) berlangsungnya suatu keadaan yang mengancam (bahkan telah menimbulkan korban jiwa) kehidupan warga; dan (2) berlangsungnya upaya untuk dapat sesegera mungkin ke luar dari situasi tersebut. Pro dan kontra terhadap suatu peristiwa, pada dasarnya adalah reaksi berbeda untuk tujuan yang sama. Artinya, kesemuanya merupakan bagian dari sikap ingin menemukan jalan yang terbaik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada masalah yang sangat dasar, yang ikut memberi iuran pada pembentukan kompleksitas persoalan, yakni tentang pengetahuan. Apa artinya? Yakni bahwa jika pengetahuan tentang kepandemian telah menyebar secara baik dan merata, maka rasa-rasanya tidak perlu lagi sosialisasi massif dan lebih dari itu, tidak dibutuhkan suatu law enforcement. Mengapa? Karena seluruh warga dengan pengetahuannya akan bertindak secara benar, mengikuti standar kesehatan yang baku (protokol kesehatan). Kita juga akan dapat membayangkan bekerjanya suatu jaringan pengetahuan di kalangan warga. Oleh sebab warga, tidak menjadi konsumen pengetahuan yang diproduksi dari atas, melainkan juga menjadi produsen, yang didistribusikannya secara horisontal. Mengapa hal itu tidak atau belum berlangsung?

Literasi

Kalau mendengar istilah literasi, kita cenderung membayangkan sebagai keadaan atau upaya untuk adanya kemampuan untuk membaca, atau mudahnya melek huruf (aksara). Kini memang telah berkembang dalam pengertian. Konsep literasi telah memasuki pengertian yang lebih luas. Kendati demikian, kita dapat mengatakan bahwa kata kunci dari literasi adalah kemelekkan itu sendiri. Artinya, literasi bicara tentang keadaan melek, dan gerakan literasi secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sistematis untuk memuat agar subyek lebih melek, terhadap sesuatu yang menjadi pusat pembelajaran. Dalam batas tertentu, kita hendak menempatkan literasi sebagai suatu upaya yang kongruen dengan pendidikan.

Jika pengertian tersebut dapat digunakan, maka suatu tentu proses literasi pada dasarnya memuat tiga aspek pokok, yakni subyek (pembelajar), bahan atau materi (pembelajaran) dan metode (cara belajar mengajar). Dalam pengertian yang konvensional, sebagaimana lajimnya dalam sistem persekolahan, maka akan dapat dibedakan dengan sangat jelas, antara "produsen" dan "konsumen', yakni antara pendidik dan peserta didik. Kita ketahui bahwa dunia pendidikan terus melakukan evaluasi untuk menemukan metode terbaik, sehingga dari proses pendidikan, dapat lahir pribadi-pribadi yang tidak saja punya kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan afektif dan konatif, yang kesemuanya di dalam garis tujuan luhur bangsa. Namun demikian, ke semuanya itu, tetap di dalam formasi persekolahan, dengan seluruh mekanismenya.

Tentu pengertiannya literasi di sini tidak dalam makna persis sebagaimana cara kerja sistem persekolahan, kendati beberapa prinsip dasar tetap bekerja. Literasi dalam praksisnya, tentu merupakan kegiatan sosial, atau aktivitas pembelajaran yang tidak terkungkung dalam formasi ketentuan tertentu. Dalam suasana yang serba terbuka, setiap orang beroleh informasi dan pengetahuan secara mudah dan luas, boleh jadi kita perlu memaknai proses literasi secara berbeda dibandingkan di masa-masa lalu. Proses literasi yang dibayangkan di sini adalah proses yang berciri: Pertama, merupakan interaksi, yang tidak satu arah, namun juga tidak sekedar dua arah, melainkan ke segala arah, secara timbal balik. Tidak ada satu titik yang dapat dikatakan atau menyatakan diri sebagai pusat, karena semua titik dapat bertindak sebagai pusat. Kedua, tidak ada pihak yang dapat menyatakan diri sebagai produsen dan kemudian menentukan pihak lain sebagai konsumen. Dapat dikatakan bahwa semua adalah produsen dan semua adalah konsumen. Dan ketiga, metode pembelajaran yang berjalan, merupakan suatu cara yang tidak terpisah dari kegiatan kehidupan sehari-hari.

Dalam kerangka itulah kita hendak mengembangkan pemikiran literasi pandemi. Kita yakin bahwa gagasan bukan merupakan sesuatu yang baru. Namun, soal kita memang bukan terletak pada perkara kebaruan, melainkan kepada bagaimana agar gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk segera menemukan cara terbaik dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dengan menempatkan pandemi dalam kerangka literasi, maka kita akan punya sudut pandang lain, yang melengkapi sudut pandang yang kini telah bekerja. Lewat sudut ini, pandemi (dengan segala ikutannya) akan dilihat tadi lagi semata-mata sebagai hal yang sepenuhnya harus dihindari, melainkan juga sebagai hal yang harus dipelajari (bersama).

Pandemi

Jika pandemi merupakan bahan pembelajaran, lantas apa yang baik untuk menjadi perhatian kita bersama? Kita membayangkan ada tiga hal pokok: Pertama, dalam jangka dekat, kita perlu belajar bersama tentang bagaimana seharusnya menghentikan langkah virus, atau apa yang harus dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama untuk agar dapat mengendalikan penyebaran virus? Pertanyaan ini, sudah selayaknya menjadi diskusi publik. Barangkali kalangan akademi bisa menjadi fasilitatornya, agar berlangsung suatu diskusi publik yang intens. Adapun hal yang kita pandang layak untuk menjadi bahan kajian publik adalah: (a) sejauh mana pemahaman publik tentang pandemi itu sendiri. Penelusuran ini sangat penting, untuk agar dapat diketahui tingkat dan kualitas pemahaman publik. Dengan itu, akan diperoleh gambar yang lebih jelas tentang alam pikiran publik terkait pandemi; dan (b) sejauh mana publik memberikan respon atas protokol kesehatan dan bagaimana upaya publik dalam mengatasi penyebaran virus. Kajian ini lebih ingin melihat pengalaman publik dalam mengatasi pandemi. Dari diskusi tersebut diharapkan diperoleh himpunan pengalaman publik, baik pengalaman positif, atau berbagai tantangan yang muncul di lapangan.

Proses awal tersebut dapat dikatakan sebagai langkah pemetaan pengetahuan dan inisiatif yang diselenggarakan warga. Untuk agar dapat ditemukan metode publik dalam penanganan pandemi, tentu dibutuhkan diskusi lebih jauh, dimana informasi awal tersebut dapat menjadi bahan utamanya. Agar sampai kepada titik tersebut, perlu dikaji bersama: (a) Apakah mungkin publik, menjadi bagian dari produsen pengetahuan. Harus diakui bahwa dalam masa pandemi ini, pengetahuan menyebar secara satu arah. Informasi dan berbagai pengetahuan pendukung, datang dari otoritas resmi, dan masyarakat hanya bertindak sebagai konsumsen. Apa yang kerapkali menjadi masalah adalah manakala ada ketidakpercayaan yang berkembang di masyarakat. Situasi ini tentu akan membawa masalah tersendiri, karena informasi yang diproduksi menjadi sulit untuk didistribusikan. Oleh sebab itulah, sangat penting untuk dipikirkan suatu cara agar publik juga menjadi produsen pengetahuan dan informasi, sehingga pesan dapat bergerak secara horizontal, melengkapi pesan yang bersifat vertical. (b) Apakah mungkin pembatasan sosial datang dari warga, dan bukan berupa kebijakan, atau bahkan langkah koersi. Apa maksudnya? Yakni suatu upaya yang merupakan inisiatif warga, untuk agar di kalangan warga muncul keinsyafan bersama, bahwa mengatasi pandemi, hanya mungkin efektif, jika dan hanya jika, masyarakat sendirilah yang secara sengaja melakukan pembatasan. Model ini, dipandang akan lebih efektif, karena segala resiko atau akibat yang muncul, akan diatasi sendiri oleh masyarakat. Barangkali ini merupakan ujian terbesar bagi tradisi gotong royong. Saatnya masyarakat memperlihatkan kekuatan utamanya melalui gotong royong; dan (c) Suatu upaya terintegrasi yang dipelopori oleh warga, untuk secara bersama-sama dengan seluruh elemen yang ada, melakukan gerakan mandiri dalam pembatasan sosial. Kita akan segera membayangkan suatu langkah yang datang dari bawah, yang mendapatkan dukungan policy, serta bantuan dari privat sector. Kombinasi ini, akan menjadi formasi baru dalam menghadapi pandemi.

Kedua, dalam jangka menengah, berupa upaya mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh pandemi, terutama akibat ekonomi. Sebagai bangsa, kita rasanya membutuhkan kerjasama yang luas, yakni kerjasama yang disusun secara bersama, dengan arah "bersama memulihkan ekonomi bangsa". Kita berharap dunia akademi juga menjadi fasilitator proses dialog dan kerjasama tersebut. Adanya fasilitator tentu akan memudahkan dalam menentukan agenda dialog, dan pada akhirnya menjembatani para pihak. Dunia akademi sebagai pihak yang netral, tentu akan menjadi pihak yang dipercaya untuk menjadi motor dari keseluruhan proses. Adapun langkah yang perlu dilakukan: (i) pemetaan menyeluruh problem ekonomi yang ditimbulkan; (ii) melakukan semacam inventarisasi potensi, baik dari pemerintah maupun sektor swasa, dan juga dari kalangan warga sendiri; dan (iii) melakukan kajian publik tentang apa yang paling layak untuk dikerjakan, agar darisana diperoleh peta jalan bersama, untuk secara bersama-sama mengangkat kembali ekonomi bangsa.

Ketiga, dalam jangka Panjang, berupa upaya untuk melakukan pemulihan yang menyeluruh. Agenda ini tentu tidak dimaksudkan untuk pulang pada keadaan lama. Kita membayangkan suatu diskusi publik yang bersifat mendasar dan sekaligus strategis. Disebut mendasar, karena akan mempersoalkan tata hidup kita sekarang ini. Apakah tata hidup kita masuk dalam kategori sehat ataukah tidak. Disebut strategis, karena akan memikirkan masa depan yang jauh. Dengan itu, kita akan merumuskan masa depan seperti apa yang hendak dicapai paska pandemi. Masa depan kita tentu bukan masa lalu, melainkan keadaan baru, dimana kita masuk pada keadaan baru tersebut, tidak sekedar berbekal badan dan semangat, akan tetapi juga pengetahuan tentang seluruh langkah bangsa menghadapi pandemi. Artinya, semua pengetahuan yang diproduksi, termasuk pengetahuan untuk bangkit bersama, akan menjadi pegangan bangsa di masa depan. Kesemua itulah yang akan menjadi bahan pembelajaran dan pembentukan pengetahuan baru. Itulah inti sari dari literasi pandemi.

Sudirman Said, Ketua Institut Harkat Negeri

(mae/mae)