Pustaka

Melawan Pandemi, Mengulang Sejarah

Wahyu Susilo - detikNews
Sabtu, 05 Des 2020 10:25 WIB
perang
Jakarta -

Judul Buku: Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919; Penulis: Ravando; Penerbit: Kompas, 2020; Tebal: xxxv + 467 halaman

Dalam menyambut Maulid Nabi, biasanya Kraton Surakarta dan Yogyakarta menyelenggarakan pasar malam Sekaten dan Grebeg Maulud. Kegiatan ini menjadi salah satu kalender tahunan yang sudah berlangsung berabad-abad. Namun di tahun ini, dua kegiatan yang mampu menyedot kehadiran ribuan pengunjung ditiadakan karena pandemik COVID-19.

Pembatalan serupa juga terjadi lebih dari seabad yang lalu, tepatnya Desember 1918, penyelenggaraan pasar malam Sekaten dan Grebeg Maulud di Kraton Surakarta dan Yogyakarta ditiadakan karena pandemi Flu Spanyol terus menelan banyak korban. Berdasar sumber surat kabar Darmo Kondho dan Sin Po, walau perayaan itu dilarang, masih banyak pedagang terutama dari luar kota nekat berjualan di alun-alun utara Kraton Surakarta dan kerumunan orang banyak pun tetap terjadi. Hal ini terjadi karena ada keterlambatan pemberitahuan dan hanya melalui pengumuman di surat kabar.

Cuplikan sejarah pembatalan perayaan Sekaten dan Grebeg Maulud karena pandemi Flu Spanyol yang dituliskan dalam buku ini adalah sebagian dari peristiwa dan perilaku masyarakat yang berulang kembali terjadi seabad kemudian ketika pandemik COVID-19 berkecamuk. Adanya "kesamaan peristiwa dan perilaku masyarakat" merupakan salah satu keunggulan dari buku yang ditulis sejarawan muda Ravando mengenai kecamuk Flu Spanyol di Indonesia pada masa kolonial dan upaya penanggulangannya.

Dalam tiga bab pertama buku ini, Ravando menuliskan kilasan sejarah penyebaran Flu Spanyol dan respons politisi dan pemimpin dunia kala itu. Penggambaran situasi pandemi di lima benua memperlihatkan keseriusan penulis buku ini mencari sumber-sumber sejarah, terutama surat kabar yang terbit sezaman. Tentu bukan hal yang mudah, apalagi pada saat yang sama ketika pandemi ini berlangsung juga berkecamuk Perang Dunia I.

Penanganan pandemi Flu Spanyol secara langsung terhambat akibat Perang Dunia I; ini terkait dengan keterbukaan data tentang korban yang meninggal dunia. Dalam situasi perang, apalagi bagi negara yang terlibat, data demografi apalagi data kematian penduduk yang eskalatif menjadi rahasia negara yang tabu untuk dibuka. Inilah yang menyebabkan adanya keterlambatan penanganan pandemi Flu Spanyol hingga akhirnya meluas ke seluruh muka bumi. Penanganan pandemi memerlukan akurasi data morbiditas dan mortalitas, namun atas nama Perang Dunia I data-data tersebut ditutup-tutupi.

Dalam bagian ini, bersumber dari pemberitaan surat kabar Eropa saat itu, Ravando menuliskan bahwa yang sering dituding sebagai penyebab pandemi ini adalah kaum pekerja migran; mereka digambarkan sebagai manusia pembawa penyakit. Ini juga memiliki kesamaan pada masa pandemi COVID-19 ini; terjadi stigmatisasi terhadap kaum pekerja migran maupun mobilitas pekerja urban yang selalu distigma sebagai pembawa virus Korona.

Ravando juga mengutip artikel yang ditulis oleh James J King dalam jurnal Medical Record yang terbit di New York, 12 Oktober 1918 bahwa gejala pneumonik yang dibawa oleh kuli-kuli Tiongkok ke Prancis memiliki kemiripan dengan wabah sebelumnya di Harbin, Tiongkok pada tahun 1910 (hal. 34) yang kemudian dikenal sebagai Manchurian Plague.

Dalam pembahasan penyebaran pandemi Flu Spanyol di tanah jajahan Hindia Belanda (penulis lebih suka menyebut sebagai Indonesia Kolonial), mobilitas kaum pekerja juga kerap dituding menjadi sasaran sebagai pembawa virus. Sumber-sumber sejarah berupa surat kabar sezaman dan catatan pemerintah kolonial menyebut bahwa penyebaran Flu Spanyol di kawasan perkebunan Sumatera Timur bersumber dari kedatangan pekerja dari India dan Tiongkok. Sementara pekerja sektor kelautan disebutkan sebagai sumber pembawa virus untuk kota-kota pelabuhan, misalnya Surabaya atau wilayah-wilayah luar Jawa semisal Makassar, Bali, dan Lombok.

Kendati demikian, pemerintah kolonial tidak terlihat memiliki keseriusan untuk melakukan pencegahan dan penanganan Flu Spanyol di kalangan kaum pekerja meski mereka menyadari bahwa kaum pekerja inilah yang menggerakkan sumber ekonomi mereka dari industri perkebunan.

Di bab-bab selanjutnya, uraian panjang mengenai pandemi Flu Spanyol di Indonesia Kolonial dalam dua gelombang penularan juga memperlihatkan pengulangan sejarah dan kemiripan-kemiripan seperti yang terjadi saat ini ketika pandemi COVID-19 masih berkecamuk.

Pengabaian dan penyangkalan terhadap masuknya wabah bukan hanya dilakukan pada masa COVID-19 awal 2020 yang lalu. Dalam pandemi Flu Spanyol, penyangkalan ini semula juga yang dilakukan oleh semua pemerintahan masa itu, termasuk juga pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Sebenarnya sejak pertengahan 1918, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendapat berbagai informasi tentang masuknya penyakit ini ke wilayah koloninya, namun perhatian pemerintah kolonial terhadap masalah kesehatan saat itu lebih banyak terfokus pada penyakit-penyakit kronis semisal malaria, kolera, pes, cacar, atau disentri yang dianggap lebih berbahaya dan terbukti menelan banyak korban di Hindia Belanda. Pada awalnya, pemerintah kolonial juga beranggapan bahwa pemberitaan yang berlebihan mengenai pandemi Flu Spanyol bisa berakibat buruk bagi gerak ekonomi Hindia Belanda.

Sejarawan Andi Achdian (2020) menduga bahwa keterlambatan penanganan pandemi (baik pada masa Flu Spanyol maupun COVID-19) disebabkan oleh kuatnya pengaruh kaum pebisnis. Merekalah yang terus-menerus mendesak pemerintah untuk tetap memprioritaskan kebijakan ekonomi, karena jika perhatian pemerintah beralih fokus pada masalah kesehatan, maka kondisi perekonomian akan merosot. Pada masa Flu Spanyol, kawasan perkebunan yang merupakan tulang punggung ekonomi pemerintahan kolonial merupakan kawasan yang terdampak cukup signifikan.

Bab yang menarik dalam buku ini yang juga memiliki kemiripan dan pengulangan sejarah bagaimana negara dan masyarakat merespons pandemi adalah uraian mengenai penyebaran kabar bohong (hoaks), takhayul, dan obat-obatan anti influenza. Bagian ini sangat terkait dengan penyikapan negara dan masyarakat mengenai bagaimana ilmu pengetahuan semestinya dipakai sebagai landasan kebijakan dan bagaimana informasi yang akurat mengenai pandemi dikelola dan didistribusikan. Sementara itu respons masyarakat juga menarik untuk diperbandingkan dalam dua kali pandemi berjarak satu abad ini. Bagaimana agama, kepercayaan, dan tradisi bisa menjadi pisau bermata dua dalam merespons pandemi.

Sebagai karya sejarah, tentu buku ini tak lepas dari kekurangan. Meski di bab pembuka Ravando mengurai mengenai perdebatan di Volksraad antara Dr Rivai dan pihak pemerintah kolonial dan pendukungnya, namun sayang kontestasi gagasan politik mengenai penanganan pandemi Flu Spanyol tidak dilanjutkan secara khusus di bab-bab pembahasan pandemi di Indonesia Kolonial. Padahal menurut historiografi sejarah Indonesia, durasi waktu kecamuk Flu Spanyol pada 1918-1919 adalah masa pertumbuhan pergerakan politik anti-kolonial. Takashi Siraishi (1990) menyebutnya sebagai Zaman Bergerak. Akan makin lengkap buku ini jika disajikan perdebatan atau respons kaum pergerakan atas pandemi Flu Spanyol ini.

Secara umum, buku ini sangat bermanfaat dan penting untuk dibaca dan menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk melihat kinerja pemerintah dan respons masyarakat menangani pandemi. Buku ini menjadi cermin sejarah bahwa kita pernah melalui masa-masa sulit menghadapi pandemi dan itu berulang lagi. Buku ini juga menjadi bukti bahwa ilmu sejarah (sebagai bagian dari ilmu pengetahuan) juga mempunyai kontribusi yang signifikan dalam penanganan krisis kesehatan.

Wahyu Susilo sejarawan dan Direktur Eksekutif Migrant CARE

(mmu/mmu)