Kolom: Hari AIDS Sedunia 2020

HIV/AIDS dan Prasangka-Prasangka Kita

Sudirman Nasir - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 14:22 WIB
Sejumlah aktivis memperingati Hari AIDS Sedunia di kawasan Car Free Day, Bundaran HI, Jakarta, Minggu (1/12/2019). Mereka juga membagikan bungan dan poster kepada warga.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Tanggal 1 Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Hari ketika banyak orang di banyak kota di dunia secara bersama memikirkan apa yang telah maupun belum dicapai dalam upaya melawan salah satu gangguan kesehatan yang telah menjadi masalah global ini. Masalah kesehatan global yang juga menuntut tanggapan terpadu pada skala lokal.

HIV/AIDS memang salah satu masalah kesehatan yang penyebarannya melintasi batas-batas geografis negara-bangsa (pandemi). Hari AIDS Sedunia tahun ini menjadi berbeda karena bertepatan juga dengan pandemi Covid-19. Dua pandemi bertemu dan saling memperparah. Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) mengalami penurunan ketahanan tubuh dan karena itu rentan aneka penyakit/kuman termasuk Covid-19 dan SARS-CoV-2.

Covid-19 juga memberi aneka dampak berat, khususnya pada kalangan rentan, termasuk ODHA.

Memang telah banyak kemajuan teknologi pencegahan, deteksi, pengobatan maupun upaya kesehatan masyarakat dalam menghadapi HIV/AIDS. Puncak penyebaran HIV telah dilewati dan masalah ini tak lagi semenakutkan dibanding satu atau dua dasawarsa lalu. Namun masih terdapat pula masalah yang belum kita atasi. Salah satunya adalah mitos dan parasangka kita sendiri terhadap HIv dan orang yang hidup dengan HIV.

Menyentak Kesadaran

Charlize Theron, aktivis HIV/AIDS dan aktris kenamaan Hollywood pemenang Piala Oscar dalam pembukaan Konferensi AIDS Internasional di Durban, Afrika Selatan beberapa tahun lalu menyentak kesadaran banyak orang. Ia tegas berkata bahwa "kita belum sepenuhnya berhasil mengalahkan HIV terutama karena kita memperlakukan dan menghargai orang secara berbeda-beda. Kita seringkali membedakan perlakuan dan penghargaan kita pada orang-orang berdasarkan jenis kelamin, warna kulit ataupun orientasi seksual."

Theron membuat peserta konferensi itu termenung. Tidak mudah merangkum salah satu aspek penting HIV dalam pernyataan kuat, menyentuh, namun ringkas seperti di atas. Secara lebih rinci, Theron melanjutkan bahwa kita seringkali merendahkan atau memperlakukan buruk kalangan perempuan, kalangan berkulit hitam dan berwarna, atau kalangan homoseksual. Padahal atas dasar apa laki-laki lebih berharga daripada perempuan, kulit putih lebih bernilai dibanding kulit berwarna, kalangan heteroseksual lebih tinggi dari kalangan homoseksual, gugat Theron.

Senada dengan banyak penelitian mengenai HIV, kita memang mendapati betapa seksisme, rasisme, dan juga homofobia menghalangi upaya kita memenangkan pertarungan dengan HIV. Pernyataan Theron itu menyentak kesadaran kita dan membuat data-data statistik tentang HIV menjadi lebih hidup. Betapa kalangan perempuan, kalangan berkulit hitam dan berwarna, atau kalangan homoseksual lebih rentan terinfeksi atau terdampak HIV (juga banyak kuman dan penyakit lainnya) karena faktor-faktor sosial dan ekonomi yang berada di luar kontrol mereka.

Kerentanan mereka, ironisnya, masih terus berlanjut bahkan ketika teknologi pencegahan dan pengobatan sudah mengalami banyak kemajuan. HIV pada akhirnya memang bukan sekadar masalah virus atau masalah kesehatan belaka, namun juga mengenai masalah sosial-ekonomi dan politik yang timpang.

Kita tahu bahwa kalangan perempuan lebih rentan terpapar HIV bukan hanya karena struktur anatomis mereka seperti ketika terjadi hubungan seksual akan jauh lebih banyak cairan dari tubuh laki-laki yang masuk ke dalam tubuh perempuan dibanding sebaliknya. Ketika sang laki-laki terinfeksi HIV, dengan demikian cairan mani yang mengandung kuman tersebut akan lebih banyak memapar tubuh perempuan dan memperbesar peluang infeksi.

Namun, selain aspek biologis tersebut, ketimpangan gender dan lemahnya daya tawar banyak perempuan untuk memastikan terjadinya hubungan seksual yang aman (sehingga infeksi HIV bisa dicegah) memperparah kerentanan biologis semacam itu. Kerentanan biologis dan sosial-ekonomi akibat perlakuan berbeda terhadap perempuan (seksisme) akhirnya menyatu dan membuat secara rata-rata perempuan menjadi jauh lebih rentan menghadapi pewabahan HIV ini.

Dalam mekanisme yang tidak jauh berbeda, rasisme juga memperparah pewabahan HIV. Diskriminasi rasial menghalangi akses banyak orang berkulita hitam dan berwarna, khususnya mereka yang miskin dan tak berdaya, pada teknologi pencegahan seperti kondom atau jarum suntik steril. Begitu pula akses pada teknologi pengobatan seperti ARV (obat antitertoviral untuk menekan perkembangbiakan HIV dalam tubuh sehingga orang dengan HIV bisa tetap hidup sehat).

Kita pun tahu rasisme bertali-temali dengan kemiskinan dan kesenjangan sosial sehingga akses pada teknologi pencegahan dan pengobatan di atas makin terhambat di kalangan banyak orang berkulit hitam dan berwarna ataupun pada kelompok minoritas seperti suku-suku asli.

Homofobia atau ketakutan dan kebencian terhadap kalangan homoseksual turut pula menyumbang banyak bagi penyebaran HIV. Stigma, perlakuan diskriminatif bahkan kekerasan fisik yang telanjang seringkali terjadi pada kalangan ini dan membuat mereka rentan. Padahal sudah tersedia teknologi pencegahan untuk membuat mereka bisa menghindarkan diri dari infeksi HIV atau kalau sudah terinfeksi bisa membuat mereka tetap sehat dan memiliki kualitas hidup yang terjaga.

Seksisme, rasisme, dan homofobia pada akhirnya adalah kuman-kuman yang sama bahayanya bahkan mungkin lebih berbahaya daripada HIV. HIV sekali lagi bukan hanya masalah kuman (virus), tetapi juga karena ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Sedihnya, akar ketimpangan dan ketidakadilan sosial itu seringkali kita pelihara dalam otak kita atau bahkan kita sebarkan ke banyak orang tanpa rasa bersalah.

Sudirman Nasir peneliti/pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(mmu/mmu)