Kolom

Menanti Pernyataan Jokowi soal Teror di Sigi

Bene Dalupe - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 15:48 WIB
Ibadat pemakaman korban teror di Sigi (Foto: IG Birgaldo Sinaga)
Jakarta -

Tak lama lagi Tuhanku datanglah, bawa saya masuk sana. Tak lama lagi Tuhanku datanglah, bawa saya masuk sana....

Begitu sepenggal lirik lagu gereja yang dinyanyikan warga sambil berderai air mata di depan 4 peti jenazah berwarna putih. Seperti yang terlihat pada sebuah video pendek yang viral, ibadat penuh kesedihan mewarnai pemakaman 4 warga korban kekejian teroris di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Minggu (29/11) Tak terbayangkan betapa sedih, pilu, bercampur takut menghantui warga yang menjadi korban penyerangan. Apa salah mereka?

Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora diduga telah menjadi pelaku pembunuhan 4 warga biasa dan pembakaran sebuah rumah pelayanan umat Kristen pada Jumat (27/11). Sebagaimana dilaporkan cnnindonesia.com (28/11), para korban dieksekusi langsung oleh Ali Kalora, pimpinan MIT. Polisi dikabarkan masih menyelidiki motif sebenarnya dari penyerangan ini. Amat biadab bila ternyata itu dilakukan atas nama agama.

Saya pun bertambah sedih tak segera melihat pernyataan resmi langsung dari Presiden Jokowi soal insiden penyerangan itu. Saya menunggu Presiden dengan gagah dan wibawa akan berdiri di depan sebuah podium di Istana Negara, diapit oleh para bawahannya --Menkopolhukam, Kapolri, TNI, BIN. Lalu dengan raut wajah empati bercampur ketegasan berkata di hadapan publik Indonesia:

"Indonesia berduka atas kejadian ini dan saya atas nama negara dan pemerintah mengecam dan mengutuk keras aksi teror yang terjadi. Untuk itu saya perintahkan TNI dan Polri untuk sesegera mungkin menangkap para pelaku teror dan mengadili mereka sesuai hukum yang berlaku. Para ekstremis dan teroris, sekali lagi saya ulangi, para ekstremis dan teroris tak punya tempat di negara ini!"

Ya, kira-kira begitu sebuah respons tegas-langsung yang saya harapkan akan keluar dari pucuk pimpinan negara. Hal itu penting sebagai tanda jelas bahwa negara sungguh hadir dan melindungi warganya. Persis seperti ketika Presiden Jokowi dengan gagah dan tegas mengecam keras pidato Presiden Prancis Macron dari Istana Negara beberapa waktu lalu.

Barangkali juga seperti Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern ketika warga minoritas muslim menjadi korban penembakan massal pada Maret 2019. Ardern dengan sosok keibuannya datang memeluk keluarga korban dengan mengenakan simbol yang melekat dengan mereka. Ia berpidato secara live untuk menyatakan bahwa negara (pemerintah) hadir bersama mereka.

Tetapi ekspektasi serupa di atas tidak kunjung ada, dan tak mungkin lagi ada. Pemerintah sudah bersikap melalui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD secara virtual pada Minggu (29/11).

Isi pernyataan Menkopolhukam berupa kecaman, duka yang mendalam, dan upaya pemerintah memburu pelaku teror. Tetapi rasanya tak menggantikan ketika sikap seperti itu keluar dari mulut dan ekspresi wajah Presiden sendiri. Komunikasi publik seorang presiden mestinya sangat penting dan tak tergantikan saat situasi seperti ini. Pernyataan langsung presiden itu bernilai layaknya pelukan seorang ayah pada anaknya yang ditimpa musibah dan kesedihan yang mendalam.

Saya jadi bertanya-tanya mengapa Presiden tidak "ngegas" dalam kasus seperti ini, dengan korban dan latar belakang seperti mereka --kelompok minor di pelosok Sulawesi? Apakah untuk situasi semacam ini butuh prasyarat tekanan massa yang bernilai politis agar seorang pemimpin tertinggi merasa perlu bicara sendiri secara langsung?

Jika itu prasyarat kegentingan yang mengharuskan Presiden bicara secara langsung, maka keluarga korban di Lemba Tongoa tak mampu melakukannya. Sebagaimana juga pada kelompok-kelompok kecil di tempat lain di negara ini yang menjadi korban teror dan diskriminasi selama ini.

Tetapi rakyat dan korban harap maklum andaikata Presiden benar-benar tak punya waktu untuk merespons secara langsung dan cepat peristiwa di pelosok Sulawesi tersebut. Presiden, sebagaimana semangatnya "kerja, kerja, kerja" sedang fokus mengatasi masalah yang jauh lebih besar yaitu soal ekonomi dan pandemi.

Lalu sejauh mana kerja satuan tugas operasi Tinombala gabungan TNI dan Polri yang memang diperuntukkan untuk memburu para teroris MIT? Operasi 94 hari itu semestinya sudah selesai pada 30 September 2020 sejak dimulai pada 29 Juni, tetapi kini diperpanjang hingga 31 Desember 2020. Sebagaimana dilaporkan ,masih ada 13 orang terduga teroris yang masih harus diburu. Jika mereka masih bebas berkeliaran, tak menutup kemungkinan peristiwa serupa akan terjadi lagi.

Negara dengan segala kekuatannya tak boleh kalah dari belasan orang tersebut.

Rasanya tak kuat menjadi Ulin, perempuan dan seorang istri yang menyaksikan pembunuhan sadis terhadap suami dan ayahnya. Dalam ibadah pemakaman itu, Ulin memeluk erat peti jenazah dengan air mata yang tak henti mengalir. Di sekelilingnya ada isak tangis warga mengiringi. Dari hatinya yang sesak dan pilu keluar nyanyian:

Tak lama lagi Tuhanku datanglah, bawa saya masuk sana....

Bene Dalupe Program Studi Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

(mmu/mmu)