Kolom

Perkembangan Pencarian Obat Covid-19

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 11:00 WIB
Pengantar: Sebagai ahli paru, Prof Tjandra Yoga Aditama boleh jadi tak dimusuhi kalangan industri rokok karena gigih memerangi bahaya merokok.. Sejak awal Oktober dia pensiun dari WHO.
Prof Tjandra Yoga Aditama (ilustrasi: detikcom)
Jakarta -

Ada tiga aspek penting dalam penanganan suatu penyakit, yaitu bagaimana mencegahnya antara lain dengan vaksin, bagaimana melakukan tes untuk mendiagnosisnya dan bagaimana mengobatinya. Untuk COVID-19 kita tahu banyak sekali perkembangan dan berita tentang vaksin. Di pihak lain, walaupun tidak terlalu banyak, kita juga mendengar tentang perkembangan tes untuk memastikan penyakit ini.

Kalau di awal hanya pengambilan swab untuk diperiksa PCR (polymerase chain reaction), maka sejak September 2020 World Health Organization (WHO) juga merekomendasikan rapid test antigen. Ini bukan rapid test antibodi yang sudah dikenal luas dan digunakan tidak sepenuhnya pada tempatnya. Juga ada berbagai penelitian untuk diagnosis ini, seperti dengan uji tiup, pemeriksaan air liur, dan lain-lain, walau memang masih ditunggu bagaimana hasil ujinya nanti.

Nah, untuk pengobatan tampaknya relatif tidak banyak beritanya, padahal obat sama juga penting seperti halnya tes dan vaksin. WHO sejak awal sudah menyebutkan bahwa belum merekomendasikan obat antiviral apapun untuk pemakaian sehari-hari, walaupun disebut bahwa kalau akan digunakan sebaiknya dalam kerangka uji klinik. Rekomendasi WHO, 20 November, hanya menyebutkan tentang dua obat.

Isinya menyebutkan bahwa tidak merekomendasikan penggunaan Remdesivir pada pasien yang dirawat di rumah sakit, yang kurang lebih sejalan dengan hasil solidarity trial WHO yang diikuti banyak negara termasuk 20-an rumah sakit di Indonesia. Dalam dokumen 20 November ini WHO juga merekomendasikan penggunaan Kortikosteroid utamanya pada penyakit yang berat dan dapat juga dipertimbangkan pada kasus yang tidak berat.

Penggunaan Antibodi

Perkembangan lain yang cukup penting adalah penggunaan antibodi sebagai obat. Selama ini kita tahu bahwa kalau orang disuntik vaksin, maka dalam tubuhnya akan terbentuk antibodi sehingga orang itu dapat kebal terhadap penyakit. Di sisi lain, perkembangan teknologi memungkinkan antibodi secara langsung diformulasikan dalam bentuk obat. Pada 21 Novembe, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengeluarkan emergency use of authorization pada obat campuran antibodi.

Obat yang dibuat oleh Regeneron Pharmaceuticals itu dimaksudkan untuk mencegah seseorang yang sudah terinfeksi agar penyakitnya tidak jadi berat. Obat Regeneron ini adalah campuran (cocktail) dari dua antibodi monoklonal, yaitu Casirivimab dan Imdevimab. FDA menyatakan bahwa campuran ini mungkin dapat bermanfaat pada COVID-19 yang ringan dan sedang dan khususnya diindikasikan pada mereka yang risiko tinggi untuk penyakit menjadi berat.

Campuran obat itulah yang diberikan pada Presiden Donald Trump ketika dikabarkan positif COVID-19 beberapa waktu yang lalu, yang secara luas diliput media dunia. Waktu itu penelitian masih berjalan dan belum ada izin edar. Proses perizinan yang dipakai waktu itu adalah compassionate-use yang pada dasarnya memperbolehkan seorang pasien (dalam hal ini Presiden Amerika Serikat) mendapat obat yang belum mendapat izin edar baik penuh maupun sementara.

Dalam hal vaksin COVID-19 kita juga pernah mendengar kemungkinan istilah compassionate-use juga pernah disebut di negara kita walaupun bagusnya memang tidak terlalu dipilih sebagai opsi.

Sementara itu pada 9 November FDA juga telah mengeluarkan emergency use of authorization untuk obat sejenis, yaitu antibodi monoklonal juga yang bernama Bamlanivimab buatan Eli Lilly & Co. Izin sementara ini dikeluarkan sejalan dengan hasil penelitian pada 452 pasien yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional New England Journal of Medicine, Oktober. Disebutkan bahwa obat ini dapat menurunkan risiko dirawat di rumah sakit dan meringankan gejala pada kasus derajat ringan dan sedang.

Obat Lain

Obat lain yang sedang berproses untuk dilihat kemungkinan aktivitasnya untuk pengobatan COVID-19 adalah obat yang tadinya sudah dipakai untuk penyakit lain. Contoh jelasnya adalah obat malaria klorokuin dan hidroklorokuin, yang tadinya direkomendasikan untuk digunakan bagi COVID-19 tapi lalu rekomendasi ini dicabut, termasuk oleh Badan POM kita.

Obat lain adalah Tocilizumab, Sarilumab, dan penghambat Interleukin 6 (IL-6 inhibitors) lainnya, yang antara lain sudah dipakai sebagai obat peradangan sendi "rheumatoid arthritis" dan juvenile idiopathic arthritis. Obat jenis ini tadinya diharapkan dapat mengatasi badai sitokin, keadaan dalam COVID-19 yang menimbulkan keadaan sakit yang berat dan mungkin fatal. Hasil penelitian sejauh ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan, sehingga belum ada rekomendasi untuk penggunaan obat ini.

Ada juga obat penyakit gout yaitu Colchicine yang juga sedang dalam penelitian, tetapi belum memberi hasil yang jelas. Ada juga diteliti kemungkinan obat flu Tamiflu dan obat cacing Ivermectin untuk dapat mengobati COVID-19, walaupun sejauh ini belum terlalu jelas juga bukti ilmiahnya.

Dunia masih terus berupaya mencari obat COVID-19. Dalam hal ini ada tiga hal yang dapat kita lakukan di Indonesia. Pertama, dalam memberi obat pada pasien COVID-19, selalu berpegang pada hasil penelitian mutakhir dan/atau rekomendasi badan internasional. Artinya, kita harus terus mengikuti perkembangan ilmu yang ada, yang kini amat dinamis.

Kedua, akan amat baik kalau Indonesia juga melakukan berbagai penelitian terstruktur untuk juga mencari kemungkinan obat baru COVID-19, tentu harus berdasar kaidah ilmiah yang jelas dan valid. Ketiga, sebelum ada obat yang ampuh dan vaksin yang baik maka kita semua harus tetap menjaga protokol kesehatan untuk mencegah agar kita tidak tertular penyakit ini, jangan lelah dan jangan bosan.

Prof Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, mantan Direktur WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

(mmu/mmu)