Kolom

Krisis dan Kisah Yusuf

Aris Anwaril Muttaqin - detikNews
Sabtu, 28 Nov 2020 11:05 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya tidak hanya mengakibatkan resesi, melainkan juga berpotensi menjadi krisis, sebagaimana yang digambarkan dalam kisah Nabi Yusuf.

Indonesia baru saja masuk jurang resesi setelah berturut-turut mengalami minus pertumbuhan ekonomi sebesar -5,32 % pada Kuartal II-2020 dan -3,49 % pada Kuartal III-2020. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, tanpa ada upaya bersama baik dari pemerintah maupun masyarakat, maka ancaman terjadi krisis ekonomi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

Untuk menghindari terjadinya krisis ekonomi dan memulihkan kembali perekonomian bangsa, kisah Nabi Yusuf merupakan salah satu yang bisa dipetik menjadi pelajaran.

Kisah Yusuf diabadikan dalam al-Quran pada surat yang ke-111. Tidak hanya karena di dalamnya terdapat kisah Yusuf, melainkan pada surat yang ke-111 ini, memang Yusuf menjadi nama surat itu sendiri dan menjadi satu-satunya nama dari surat tersebut. Pakar Tafsir al-Quran M. Quraish Syihab menilai kisah yang diceritakan di dalam Surat Yusuf adalah ahsanul qashsos (sebaik-baik kisah). Selain kandungannya yang kaya dengan pelajaran, tuntunan, dan hikmah, kisah ini juga mengandung imajinasi, bahkan memberi aneka informasi tersurat dan tersirat tentang sejarah masa silam.

Kisah mengenai krisis dalam Surat Yusuf secara khusus dipaparkan pada ayat 43-53. Bermula dari mimpi seorang raja yang melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh yang kurus-kurus. Sang raja menceritakan mimpinya ini kepada para pemuka pemerintahannya dan cendekiawan yang dikenal mengetahui tafsir tentang mimpi dan sihir. Mereka diharapkan mampu memberi pencerahan atas mimpi yang dialami sang raja.

Tetapi, tak satu pun dari mereka yang mengetahui, bahkan menganggap bahwa mimpi itu hanya mimpi kosong belaka. Hingga pada akhirnya, salah seorang pemuka pemerintahan yang pernah diprediksi oleh Yusuf selamat dari hukuman menceritakan kehebatannya kepada sang Raja. Setelah dipersilakan sang Raja, Yusuf menafsirkan mimpinya bahwa supaya pemerintah mengambil kebijakan untuk berinvestasi dalam rangka menghadapi krisis yang akan terjadi di negaranya.

Krisis itu diperkirakan terjadi selama tujuh tahun, sehingga selama tujuh tahun sebelum krisis dianjurkan untuk menyiapkan ketahanan pangan secara maksimal.

Kesamaan

Situasi krisis yang diceritakan dalam Surat Yusuf memiliki kesamaan dengan potensi krisis yang dihadapi berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, sekarang. Setidaknya terdapat tiga kesamaan yang bisa diambil pelajaran, yaitu: sumber krisis ekonomi, peranan otoritas fiskal negara, dan tanggung jawab ulama dan umara.

Pertama, sumber krisis ekonomi. Sumber yang berpotensi menyebabkan krisis ekonomi baik pada masa Yusuf maupun sekarang berasal dari bencana alam. Pada masa Yusuf, bencana alam itu berupa kemarau panjang yang kemudian mengakibatkan paceklik bertahun-tahun. Sedangkan pada masa sekarang, bencana itu berupa penyebaran Covid-19 yang memaksa banyak aktivitas ekonomi berhenti karena kebijakan social distancing.

Baik bencana kemarau panjang maupun penyebaran Covid-19 keduanya sama-sama berpotensi menyebabkan krisis ekonomi bagi sebuah negara. Untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut, maka langkah pertama yang perlu diambil adalah mengatasi sumber permasalahan. Investasi jangka panjang dan penghematan konsumsi merupakan strategi yang diambil pada masa Yusuf untuk menghadapi krisis.

Sementara pada masa pandemi Covid-19 sekarang, strategi pertama yang diambil banyak negara, termasuk Indonesia, adalah penanganan Covid-19, yaitu dari sisi kesehatan dan pengendalian penyebarannya. Dengan demikian, strategi pertama untuk menghadapi krisis ekonomi yang dilakukan pada masa sekarang dengan periode Yusuf tidak jauh berbeda, yaitu dengan mengatasi sumber permasalahan krisis yang ada.

Kedua, peran otoritas fiskal negara. Otoritas fiskal memiliki peranan penting dalam mengendalikan kebijakan menghadapi krisis baik pada masa Yusuf maupun sekarang. Ketika Yusuf dipercaya oleh raja untuk masuk dalam pemerintahan, dia memilih untuk dijadikan sebagai bendahari negara (khozainil ardh) yang bertugas mengelola keuangan negara. Hal ini menunjukkan urgensi otoritas fiskal pada saat itu dalam menghadapi krisis yang terjadi.

Dalam negara modern sekarang, otoritas fiskal juga memiliki peran krusial dalam mengalokasikan anggaran untuk menghadapi pandemi Covid-19. Secara garis besar, otoritas fiskal di Indonesia telah mengalokasikan anggaran belanja untuk tiga program yaitu penanganan Covid-19, jaring pengaman sosial, dan pemulihan ekonomi nasional.

Ketiga, tanggung jawab ulama dan umara. Sinergi antara ulama dan umara adalah hal mutlak yang diperlukan untuk menghadapi ancaman krisis. Yusuf merupakan simbol dari sosok ulama, sedangkan sang Raja merupakan simbol dari sosok umara. Dalam Surat Yusuf digambarkan, hubungan antara keduanya sangat proporsional sesuai tanggung jawab masing-masing. Hal ini tampak dari perilaku Yusuf yang senantiasa takut kepada Tuhan, rela mempertahankan kebenaran walau harus masuk penjara, hingga dipercaya menjadi pembantu raja. Sementara tanggung jawab raja bisa dilihat dari sikap adil dalam membuat keputusan meski menyangkut keluarga sendiri, memilih orang-orang terpercaya dalam pemerintahan, hingga memelihara kepercayaan rakyat atas pemerintahannya.

Ulama dalam konteks negara modern seperti Indonesia tidak hanya terbatas pada pakar agama, melainkan juga berbagai pakar yang lain, seperti kedokteran, ekonomi, politik, dan lain-lain. Setiap pakar memiliki tanggung jawab untuk menghadapi pandemi Covid-19 sesuai keahlian masing-masing. Pemerintah tidak bisa membuat kebijakan yang kontradiktif dengan temuan-temuan pakar jika ingin dampak pandemi Covid-19 segera teratasi. Dengan kata lain, sinergi antara pemerintah dan para pakar sangat menentukan keberhasilan dalam mengatasi krisis yang sedang mengancam.

Kunci Keberhasilan

Situasi krisis yang mengancam saat ini mirip seperti krisis yang terjadi pada masa Yusuf. Quraish Shihab menyebut ada dua kunci keberhasilan yang bisa diambil pelajaran dari kisah Yusuf, yaitu kesabaran dan istikamah. Keduanya merupakan pesan penting bagi pemerintah, pakar, dan masyarakat untuk menghindarkan Indonesia dari ancaman krisis ekonomi.

Pemerintah harus bersabar dan konsisten menjalankan strategi keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi, sebagaimana pernah disampaikan Presiden Joko Widodo di akun Instagram-nya. Para pakar harus bersabar dan konsisten melakukan riset untuk menemukan solusi atas pandemi yang terjadi. Dan, semua masyarakat perlu bersabar dan istikamah melakukan aktivitas sehari-hari dengan protokol kesehatan yang sesuai. Jika hal ini bisa dilakukan bersama-sama, atas pertolongan Tuhan, krisis ekonomi yang sedang mengancam akan terhindarkan.

Aris Anwaril Muttaqin dosen Ekonomi Islam Undip, PhD student bidang Islamic Studies di The National University of Malaysia

(mmu/mmu)