Mimbar Mahasiswa

Menilik Investasi Huawei ke Rusia

Weinton Verko - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 11:02 WIB
BARCELONA, SPAIN - MARCH 03:  A logo sits illuminated outside the Huawei pavilion during the second day of the Mobile World Congress 2015 at the Fira Gran Via complex on March 3, 2015 in Barcelona, Spain. The annual Mobile World Congress hosts some of the wolds largest communication companies, with many unveiling their latest phones and wearables gadgets.  (Photo by David Ramos/Getty Images)
Foto: Gettyimages
Jakarta -
Perusahaan telekomunikasi raksasa Tiongkok Huawei Company pada Mei 2019 telah berhasil mengakuisisi Vocord Company, sebuah perusahaan pengembangan teknologi pengenalan wajah yang berkedudukan di Moskow, Rusia. Akuisisi senilai 50 juta dolar AS tersebut mencakup penerimaan keseluruhan hak paten atas teknologi perusahaan Vocord beserta dengan talenta-talenta dari perusahaan tersebut.

Keputusan Huawei atas investasinya di perusahaan Vocord berlangsung pada momentum kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jin Ping dalam St. Petersburg International Economic Forum, Juni 2019 di Rusia. Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhang Han Hui menyampaikan, "Agenda ini sebagai bentuk komitmen antara pemerintah Tiongkok dan pemerintah Rusia untuk terus meningkatkan kerja sama dalam menghadapi ketidakpastian dampak dari perang dagang AS-Tiongkok."

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam kesempatan tersebut juga dengan keras mengecam tindakan Amerika Serikat yang memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan seolah-olah memaksa Huawei untuk keluar dari persaingan pasar global.

Vocord Company didirikan pada 1999 oleh Aleksey Kadeishvili dan Vyacheslav Kuzmichev yang bermarkas di Moskow, berisikan 120 orang profesional di bidang matematika, pengembangan teknologi, serta insinyur teknik. Selain mengembangkan sistem pengenalan wajah, perusahaan ini juga mengantongi sistem pengawasan video, analisis arus lalu lintas, rekaman audio, kamera pengatur lalu lintas.

Produk teknologi Vocord telah dikomersialisasikan dan difungsikan pada beberapa organisasi pemerintah Rusia sebanyak 2000 proyek. Sistem Vocord juga telah diterapkan di 70 kota dengan status Safe City di Rusia, bahkan menjangkau luar negeri.

Setelah akuisisi Huawei, sebagian besar pekerja profesional yang dahulunya terlibat dalam pengembangan algoritme pengenalan wajah Vocord di Vocord Softlab pindah ke perusahaan baru mereka Igl Softlab. Igl Softlab merupakan perusahaan yang dimiliki bersama oleh anak perusahaan Huawei di Rusia dengan Huawei Digital Technology Co., Ltd yang berbasis di Hong Kong. Keseluruhan kekayaan intelektual dari teknologi Vocord juga menjadi kepemilikan dari Igl Softlab yang berbasis di Moskow.

Kehadiran pertama Huawei yang beroperasi di Rusia sejatinya telah berlangsung sejak 2012. Banyak program yang juga diluncurkan Huawei di Rusia mencakup Seeds for the Future di Rusia dengan pembekalan terhadap 9 mahasiswa terpilih dari Universitas Teknik dan Informatika Moskow selama dua minggu pada tahun pertama operasinya.

Pada 2014, program yang sama juga diselenggarakan dengan mengundang 10 orang mahasiswa dari Tomsk State University dan Universitas Teknik dan Informatika Moskow untuk mengikuti study tour di Huawei Company dan kunjugan ke laboratorium Huawei.

Investasi Huawei Company di Rusia dapat berjalan mulus salah satunya didukung kiat perusahaan telekomunikasi raksasa Tiongkok tersebut dalam melaksanakan transfer teknologi serta pengetahuan pada rentang tahun yang sudah lama.

Huawei sesungguhnya juga memiliki algoritme dalam teknologi pengenalan wajah, tetapi para pakar teknologi Huawei sangat mengagumi komponen kamera HD pada sistem teknologi pengenalan wajah Vocord yang dikemas dalam smart system. Sejumlah pencapaian juga diperoleh dari algoritme pengenalan wajah Vocord di antaranya penobatan sebagai sistem pengenalan wajah terbaik di dunia pada 2016.

Identifikasi wajah dari teknologi Vocord tersebut mampu menghasilkan ketepatan 75,127% dari 1 juta objek distraksi. Selain itu, ketertarikan juga datang dari pendiri Huawei Ren Zheng Fei kepada para ekspertis Rusia di bidang teknologi terutama ketekunan dan sikap inovatif personalnya. Dilatarbelakangi oleh seorang ahli matematika asal Rusia yang telah mengabdi di Huawei dalam rangka turut mengembangkan terobosan perusahaan dari teknoogi 2G menuju 3G..

Faktor Geopolitik


Momentum pertemuan kenegaraan antara pemerintah Rusia dan Tiongkok yang berlangsung di sela pengucuran dana 50 juta dolar AS dari Huawei ke perusahaan Vocord menunjukkan ada implikasi dari situasi geopolitik yang terjadi. Amerika Serikat yang melihat besarnya pengaruh Huawei dalam perdagangan global serta tuduhannya terkait ancaman keamanan nasional menjadi landasan perusahaan tersebut dimasukkan dalam daftar hitam.

Kesuksesan Huawei dapat ditunjukkan dengan penjualan global perusahaan mencapai 858,8 miliar RMB, naik 19,1% dari tahun sebelumnya (Huawei 2019 Annual Report). Huawei juga mencatatkan laba bersih senilai 62,7 miliar RMB.

Pada 2019, Huawei berhasil mengembangkan produk komersial jaringan 5G. Dengan pangkalan stasiun RuralStar Huawei, perusahaan tersebut mampu menyediakan internet seluler kepada 40 juta orang yang tinggal di daerah terpencil. Secara global pada 2019, Huawei sudah hadir di 700 kota dan bekerja sama dengan 228 perusahaan dari daftar Fortune Global 500 pada 2019.

Huawei yang dimasukkan dalam black list perdagangan dengan kecurigaan dapat mengancam keamanan AS juga berimplikasi pada pelarangan beberapa perusahaan besar teknologi AS seperti Google dan Amazon untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Tiongkok tersebut. Huawei juga dituduh oleh pemerintahan Trump atas pencurian kekayaan intelektual serta hubungan erat Huawei dengan kemiliteran Tiongkok menunjukkan adanya upaya untuk melemahkan keamanan nasional AS.

Pelarangan terhadap Huawei oleh AS kemudian membuat Huawei harus menggeser investasi teknologinya ke Rusia. Rusia yang juga sampai sekarang masih ditangguhkan haknya sebagai pembicara di forum G7 oleh negara-negara anggota G7 termasuk Amerika Serikat atas aneksasi Krimea pada 2014, kemudian melihat fenomena tersebut sebagai peluang untuk membentuk aliansi atau kerja sama dengan Tiongkok.

Sehingga sikap Amerika Serikat dalam menekan geopolitik terhadap Tiongkok dan Rusia menimbulkan arah kerja sama kedua negara yang tidak lagi hanya menjangkau bidang militer, melainkan mencakup hubungan ekonomi yang kemudian bergeser pada kemitraan teknologi tinggi, telekomunikasi, kecerdasan buatan, bioteknologi, ekonomi digital serta beberapa penelitian keilmuan terbarukan.

Weinton Verko mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana

(mmu/mmu)