Pustaka

Garin dan Jelajah Perfilman Indonesia

Muhammad Bahruddin - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 10:02 WIB
garin nugroho
Jakarta -

Judul Buku: Memoar Garin Nugroho: Era Emas Film Indonesia 1998-2019; Penulis: Garin Nugroho; Penerbit: Berdikari Book, Yogyakarta, 2020; Tebal: xvii+216 halaman

Ketika film dibedakan menjadi dua kutub, yaitu sebagai produk komersial dan produk idealis-estetik, Garin Nugroho berupaya memediasi keduanya. "Setiap film memiliki pasarnya sendiri," katanya dalam Kafein Talk "Bedah Buku Memoar Garin Nugroho: Era Emas Film Indonesia 1998-2019" pada 3 Oktober lalu.

Garin beralasan, setiap orang memiliki potensi dan wadahnya sendiri. Sebuah film tidak selalu memburu penonton banyak karena cerita yang dibangun memang hanya untuk dikonsumsi oleh pasar tertentu saja. Film Mata Tertutup misalnya, pasarnya anak sekolah. Dalam kasus ini, film adalah media publikasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kelompok radikal di Indonesia yang menyasar anak muda.

Dalam buku setebal 216 halaman ini, Garin meramu memoar-memoar yang disusun mulai 1998 hingga 2019 tanpa melupakan sejarahnya pada masa silam. Sebagaimana sebuah kisah film, buku ini mengajak pembaca menjelajah sejarah perfilman Indonesia pada masa kemerdekaan atau bahkan pra kemerdekaan. Inilah yang membuat sutradara yang memulai kariernya pada 1985 melalui film pendek Gerbong 1, 2, 3 itu terlihat bijak dan rendah hati dalam mengapresiasi para sineas dan siapapun yang terlibat dalam perfilman Indonesia.

Sikap ini terlihat ketika membaca pertumbuhan sutradara Indonesia pasca-Reformasi. Sebut saja Riri Reza, Rizal Mantovani, Rudi Soedjarwo, Nia Dinata, Nan T. Achnas, Ravi Bharwani, Aria Kusumadewa, Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Upi Avianto, Mouly Surya, Nurman Hakim, Kamila Andini, Angga Dwimas Sasongko, Edwin, Teddy Soeriaatmaja, Ifa Ifansyah, Djenar Maesa Ayu, Dirmawan Hatta, Richard Oh, The Mo Brothers, Yosep Anggi Noen, Ismail Basbeth, Paul Agusta, Eddie Cahyono, Djon De Rantau, Faozan Rizal, Anggy Umbara, Fajar Bustomi, Ernest Prakasa, Pritagita Arianegara, Ginatri S. Noer, Salman Aristo, Andri Chung, Lucky Kuswandi, Ody C.Harahap, hingga Fajar Bustomi. Bagi Garin, setiap sutradara memiliki keunikannya sendiri yang tak dimiliki oleh sutradara lain.

Sekalipun tidak semua sutradara tercakup dalam buku memoar Garin, misalnya Guntur Soehardjanto yang cukup produktif mengerjakan film-film berlatar belakang Islam atau Fajar Nugros yang banyak menyutradarai film bergenre drama dan komedi, namun apa yang ditulis Garin dalam buku ini cukup merepresentasikan potret perfilman Indonesia pasca-Reformasi.

Pengalaman Garin menyutradarai sekian banyak film sekaligus mendapat berbagai penghargaan lokal dan internasional tidak serta merta membuatnya pongah terhadap tumbuhnya sutradara-sutradara baru. Bahkan dengan kerendahan hatinya, dia selalu menemukan sekaligus mengakui bahwa ada potensi unik pada setiap sutradara. Sekadar menyebut contoh, Joko Anwar adalah sutradara yang mampu menggabungkan dua aspek sekaligus, yaitu film-film personal sekaligus box office atau selera pasar; Mouly Surya yang cukup selektif untuk mengejar kualitas film; atau Hanung Bramantyo, mahasiswanya yang diklaim sebagai penerus Teguh Karya namun dengan sentuhan lebih popular.

Di sisi lain, Garin juga angkat topi dengan eksistensi Deddy Mizwar yang ia sebut sebagai sutradara langka karena mampu hidup dan menghidupi dunia film di zaman baru secara konsisten. Apresiasi Garin pada siapapun yang menghidupkan perfilman Indonesia ini juga membawa ingatannya pada Lilik Sudijo, sutradara film Pahlawan Goa Selarong (1972), Gundala Putra Petir (1981), hingga Tarmina (1954) yang mencatatkan dirinya sebagai Sutradara Terbaik FFI 1955. Lilik Sudijo telah memproduksi 77 film sehingga mengusik Garin untuk menggali sejarahnya yang terkubur dalam perkembangan perfilman Indonesia.

Yang unik dalam buku ini, Garin selalu mengajak pembaca untuk menjelajah ke peristiwa yang related dengan masa silam, meskipun sejarah yang ditulis adalah perfilman Indonesia pasca-Reformasi. Misalnya, ketika menulis tentang Anggy Umbara dan Ernest Prakasa, Garin mengajak pembaca untuk mengingat sejarah sutradara Nya Abbas Akup yang disebut-sebut sebagai bapak komedi Indonesia. Ketika menyebut kebintangan Dian Sastro dan Nicholas Saputra, Garin mengajak pembaca untuk tidak melupakan big five era 80-90-an yang terdiri atas Yati Octavia, Roy Marten, Robby Sugara, Doris Callebaute, dan Yenny Rachman.

Demikian juga ketika melihat kesuksesan Fajar Bustomi yang mampu meraih lebih dari enam juta penonton melalui film Dilan, Garin mengajak pembaca untuk menelusuri sejarah Wim Umboh yang menyutradarai film film cinta melodrama seperti Pengantin Remaja (1971), Merpati Tak Pernah Ingkar Janji (1986), dan lain sebagainya.

Ada beberapa memoar yang kurang dieksplorasi Garin dalam buku ini, misalnya memoar film dan agama. Jika dibandingkan dengan buku dia sebelumnya, Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2015) yang ditulis bersama Dyan Herlina, buku ini hanya menggambarkan secara sekilas saja, terutama tentang rudungan kelompok radikal yang menganggap sejumlah film seperti Buruan Cium Gue (2004), Tanda Tanya (2011), Naura dan Genk Juara (2017), hingga Kucumbu Tubuh Indahku (2017) telah mendiskreditkan Islam dan dikhawatirkan merusak moral pemuda.

Meskipun, di sisi lain kekurangan ini justru menjadi pemicu bagi pembaca untuk memungut serpihan-serpihan memoar yang bisa dijadikan topik baru, kemudian ditulis dalam sebuah buku berikutnya. Selain itu, kekurangan ini sekaligus mendorong pembaca untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang sejarah perfilman Indonesia.

(mmu/mmu)