Kolom

Spiritualitas Baru Perayaan Maulid Nabi

Abd Rohim Ghazali - detikNews
Kamis, 29 Okt 2020 14:00 WIB
Happy Mawlid al-Nabi Muhammad SAW greeting card
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Agus Supriyatna
Jakarta -

Islam menawarkan konsep teologi yang tidak berhenti pada ranah teori an sich, tapi harus ditransformasikan dalam karya-karya humanis-sosiologis. Landasan transformatif Islam ini antara lain ditegaskan dalam al-Quran bahwa Allah sangat membenci orang yang pandai berbicara (berteori), tapi miskin dalam aksi (QS 61:2-3).

Di samping itu banyak sekali ayat yang menunjuk keimanan yang integral dengan amal saleh. Artinya, aktivitas spiritual Islam tidak semata berorientasi pada dirinya sendiri, tapi yang penting adakah dampaknya bagi transformasi masyarakat dan perbaikan kondisi lingkungan. Dalam sejarahnya, Nabi SAW pernah menegur seorang sahabat yang hanya berzikir dan berdoa (i'tikaf) di dalam masjid, sementara keluarga dan masyarakatnya tidak diperhatikan.

Bagaimana spiritualitas Islam tampil dalam sejarah kemanusiaan secara komprehensif, diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian Nabi SAW. Beliau adalah sosok historis Islam yang paripurna, dengan hiasan akhlak yang agung dan patut menjadi teladan segenap umat manusia. Signifikansi akhlak beliau diakui bukan sebatas di kalangan dunia Islam, tapi juga dunia umumnya.

Fenomena Maulid

Bagaimana bentuk aktual spiritualitas Islam di kalangan umat sekarang antara lain terlihat dalam bentuk perayaan Maulid (kelahiran) Nabi yang pada hakikatnya merupakan upaya mengingat kembali sosok dan perilaku (akhlak) beliau yang mulia dan agung itu. Perayaan ini sebenarnya tidak ditemukan pada tradisi Islam awal, tapi baru muncul kemudian; keabsahan hukumnya masih menjadi perdebatan sampai sekarang (Kaptain, 1994).

Sejarah perayaan Maulid Nabi SAW yang populer di kalangan umat Islam adalah yang dilakukan Salahuddin al-Ayyubi, panglima pasukan Islam pada Perang Salib, yang dimaksudkan untuk mengembalikan semangat da vitalitas umat Islam untuk berjuang (jihad) di jalan kebenaran. Dan terbukti bahwa dengan upaya "menghadirkan kembali" sejarah kehidupan Nabi SAW tersebut, semangat kejuangan pasukan Islam kembali tumbuh dan berhasil menaklukkan musuh.

Maka kalau perayaan Maulid Nabi SAW di kalangan mazhab sunni seperti di Indonesia tidak banyak dipersoalkan keabsahan hukumnya, tentu karena kegiatan ini dinilai dapat membawa hikmah berupa pembangkitan semangat baru umat dalam upaya rekonstruksi sejarah dan aktualisasi ajaran-ajaran yang dibawa Nabi SAW. Atau dalam terminologi hukum Islam disebut sebagai kreativitas baru ibadah aktual (ghairu-mahdhah) yang baik dan positif (bid'ah hasanah). Meskipun dalam hal ini, masih sedikit dipersoalkan oleh kelompok puritan seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam.

Penyimpangan?

Terlepas dari kontroversi di sekitar pijakan hukum keabsahan perayaan Maulid Nabi SAW, satu hal yang perlu dikritisi adalah bagaimana praktik perayaan yang sudah mentradisi di Indonesia. Di tempat-tempat tertentu, terutama yang dianggap keramat, praktik Maulid Nabi SAW sudah banyak yang melenceng dari ajaran Islam. Misalnya dengan dibumbui nuansa spiritual yang tidak rasional, penuh mistik, dan cenderung menjebak umat kepada sistem kepercayaan animisme atau dinamisme, yakni dengan mengakui kekuatan magis benda-benda tertentu seperti keris, binatang, kuburan, dan sebagainya.

Secara sosiologis bisa saja hal itu disebut sebagai bagian dari ekspresi budaya lokal. Tapi secara teologis sulit untuk tidak mengatakan bahwa spiritualitas semacam itu bertentangan dengan konsep tauhid yang diajarkan Nabi SAW, karena selain tidak manusiawi juga bisa memalingkan umat dari kepercayaan terhadap kekuasaan mutlak Tuhan.

Itu pada satu sisi, di sisi lain, di beberapa tempat --terutama di desa-desa muslim tradisionalis-- juga banyak dijumpai perayaan Maulid yang dilakukan dengan kenduri bersama, diiringi bacaan syair-syair berbahasa Arab (barjanzi) --dengan para pelaku umumnya tidak memahami kandungan syair yang dibaca-- yang isinya terlampau melebih-lebihkan Nabi SAW sehingga terasa sangat tidak rasional.

Seperti ungkapan bahwa ketika kelahiran Nabi SAW ditandai dengan kegoncangan singgasana Kaisar, berjatuhan berhala-berhala dan padamnya api-api yang disembah bangsa Parsi yang kala itu masih memeluk agama Majusi; ungkapan bahwa Nabi SAW adalah Rasul yang maha mulia melebihi kemuliaan Rasul-Rasul yang lain; dan ungkapan-ungkapan lain yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tampak sekali adanya sanjungan yang terlampau "manuhankan" Nabi SAW dan sedikit kurang penghargaan terhadap Nabi dan Rasul selain beliau, atau bahkan cenderung melecehkan umat pemeluk agama lain.

Padahal ada penegasan dalam al-Quran bahwa orang beriman yang dikehendaki Allah adalah yang tidak membedakan satu sama lain di antara Rasul-Rasul Allah (QS 2:285), dan ditegaskan bahwa Muhammad SAW adalah manusia biasa, hanya saja beliau mendapat kehormatan sebagai penerima wahyu dari Tuhan (QS 18:110) yang ditujukan untuk memperbaiki akhlak segenap umat manusia dan membawa rahmat bagi semesta (Rahmatan li al-'Alamin). Selain itu, al-Quran juga melarang dengan tegas pelecehan agama lain, apalagi dengan menghina Tuhan yang disembah umat lain (QS, 6:108).

Perayaan Maulid mungkin perlu untuk membangkitkan semangat kejuangan, tapi seharusnya tidak dengan cara-cara yang bertentangan dengan semangat spiritualitas Islam. Perayaan Maulid Nabi SAW bukan aksi penyimpangan Islam

Nuansa Baru

Menyikapi kondisi di atas, kiranya perlu adanya nuansa baru dalam memaknai aktivitas keagamaan --terutama yang berbentuk muamalah-- untuk tidak terjebak pada bentuk spiritualitas simbolis yang terkadang tidak senapas dengan misi aktual dari kehadiran Islam, selain perlu juga disadari bahwa dalam konteks kesejarahan, umat Islam di Indonesia hidup berdampingan dengan umat-umat pemeluk agama lain. Suatu situasi yang secara historis dialami pula oleh Nabi SAW sepanjang hidupnya baik ketika berada di Mekah (sebelum hijrah) maupun ketika menetap di Madinah (setelah hijrah).

Pada masa Nabi SAW, bangsa Arab masih menjadi pemeluk agama yang beragam. Memang, misi Nabi SAW adalah mengajak segenap umat agar mengikuti agama yang beliau bawa. Namun upaya tersebut tidak mencapai hasil seratus persen. Sampai hari wafatnya Nabi SAW, masih banyak penduduk Arab yang belum memeluk Islam, bahkan di antaranya ada yang termasuk keluarga dekat beliau.

Terhadap mereka, beliau tidak memusuhi, tapi bersahabat, saling membantu satu sama lain sebagaimana dijelaskan dalam "Piagam Madinah, sebuah memorandum of understanding (MoU) antara umat Islam dengan non-muslim yang menjadi konstitusi mengikat dan harus ditaati bersama. Pengingkaran terhadap konstutusi ini yang dilakukan kalangan musyrikin Quraisy telah menyebabkan terjadinya pertempuran antara mereka dengan kaum muslimin.

Sebenarnya, jauh sebelum MoU itu dibuat, dalam sejarah kehidupan (sirah) Nabi SAW, belum pernah sekalipun beliau menghina atau melecehkan umat pemeluk agama lain. Bahkan jika mereka menghina --pernah suatu ketika beliau diludahi-- dibalas dengan senyum manis, disertai iringan doa kebajikan agar mereka suatu saat mendapat petunjuk dari-Nya hingga bisa mengikuti jejak orang-orang muslim yang saleh.

Berkaca dari kehidupan Nabi SAW tersebut, dikaitkan dengan kenyataan adanya penyimpangan dalam aktivitas keagamaan, kiranya perlu dibangkitkan "spiritualitas baru", yakni pertama, setiap bentuk aktivitas keagamaan --dalam arti ibadah muamalah-- seyogianya dikembangkan dengan bertitik tolak dari kondisi objektif akhlak Nabi SAW sebagai pembawa sekaligus personifikasi misi Islam di pentas sejarah kemanusiaan.

Kedua, sebagai tindak lanjut dari yang pertama, dalam aktivitas keagamaan, perlu disertai kesadaran kolektif untuk mengaktualisasikan akhlak Nabi SAW dalam realitas historis. Antara lain melalui kegiatan-kegiatan kultural yang bermanfaat bagi kemajuan bersama dengan melibatkan semua komponen umat beragama yang ada di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan spiritualitas yang tidak rasional, ahistoris, dan tidak sesuai dengan akhlak serta ajaran Nabi SAW dalam aktivitas keagamaan akan tergeser dengan spiritualitas baru yang lebih rasional, aktual, dan humanis.

(mmu/mmu)