Kolom

Merefleksikan (Kembali) "Indonesia Raya"

Anas Syahrul Alimi - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 15:20 WIB
Wage Rudolf (WR) Soepratman dimakamkan di Jalan Kenjeran, Surabaya. Hingga kini komplek makam WR Soepratman sering dikunjungi orang yang ingin berwisata hingga berziarah.
Makam Wage Rudolf Soepratman di Surabaya (Foto: Michelle Alda Gunawan)
Jakarta -

Kata mereka yang berkecimpung di dunia bahasa, Oktober bulan bahasa. Yang musik, silakan ke pekan awal Maret. Namun, yang sering dilupakan, justru lagu Indonesia Raya berkumandang pertama kali dari biola anak muda 25 tahun bernama Wage Rudolf Soepratman pada Oktober. Tepatnya, 28 Oktober, yang peringatannya "dimonopoli" tema bahasa.

Juga, di tempat dan kota yang sama di mana bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan, lagu Indonesia Raya diperkenalkan. Artinya, proyek persatuan bahasa nasional dan musik itu berada dalam satu waktu.

Pada masanya, Indonesia Raya merupakan lagu radikal dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Selangkah lagi subversif. Di liriknya ada kata "Indonesia", ada kata "merdeka". Kata "merdeka" adalah bahasa anak-anak muda pemimpi pembebasan.

Lewat lagu, mimpi itu ditebarkan. Lewat bahasa musik, seruan radikalisme itu digaungkan. Bahasa musik anak muda yang satu barisan dengan Wage adalah tinju untuk kolonialisme. Bahasa musik Wage satu tarikan dengan bahasa agitasi persatuan Sukarno. Juga, satu buhul dengan sumpah dalam kerapatan pemuda di Batavia yang kemudian dengan Ikrar '28.

Karena dianggap subversif, lirik Indonesia Raya tidak saja disensor polisi kolonial, tetapi juga dilarang untuk diperdengarkan. Jika pun dinyanyikan, cukup musiknya saja, cukup instrumentalianya saja. Padahal, para panduwati sudah bersiap, sudah berbaris untuk menyanyikannya.

Indonesia Raya tanpa lirik kehilangan gregetnya. Padahal, perpaduan bahasa teks (lirik) dan bahasa musik (komposisi nada) itulah gubahan Wage ini menjadi lagu subversif.

Bahasa atau lirik musik yang kita jadikan sebagai "monumen musik nasional" adalah sebuah ikrar anak-anak muda. Tentang penderitaan, tentang harapan persatuan, tentang bentang nation dan kejayaan, sekaligus tentang impian pembebasan nasional.

Dan, bahasa (lirik) seperti itu kemudian digubah musisi jaz bernama Wage. Ia musisi jaz, tumbuh dari kafe ke kafe bersama grupnya Black and White, dari Makassar hingga Bandung. Jaz yang berciri improvisasi di tangan Wage menjadi sebuah mars pembangkit semangat, penggugat rasa kesetiakawanan nasional, dan penyeru kemerdekaan.
Bahasa musik Wage adalah perayaan kemerdekaan. Di titik inilah kemudian musik nasional tidak terpisah dengan pembentukan bahasa.

Kita tahu, musik dan bahasa kita lebih dahulu ada ketimbang postur negara. Musik dan bahasa lebih tua ketimbang Republik Indonesia. Ada bentang jarak 17 tahun usia musik dan bahasa kita dari usia negara. Dan, keduanya adalah entitas yang berbeda. Negara adalah struktur, pembungkus luar, pelindung bahasa dan musik agar keduanya tetap sehat walafiat.

Jika di bawah lindungan negara musik dan bahasa tidak sehat, kerdil, dan malah membusuk, ada yang keliru dengan pembungkus dan pelindungnya. Kita mesti mempertanyakan mengapa. Kongres Musik di Ambon dua tahun silam yang dikonduktori musisi Glen Fredly adalah aksi bertanya tentang mengapa ini, mengapa itu. Sudah sampai di mana musik kita hari ini dan seharmonis apa hubungan antara negara dan musik.

Betul, pada 9 Maret kita merefleksikan musik sebagai entitas bangsa. Pada 28 Oktober, kita melihat kembali secara kritis, bagaimana musik dalam kerangka negara. Termasuk, hubungan musik dan negara yang kerap tegang. Musik bertanya kepada negara, apa kabar penegakan hak cipta. Musik bertanya kepada negara tentang infrastruktur konser yang begitu-begitu saja. Musik juga bertanya tentang pajak. Dan, lain-lain.

Momen bulan (bahasa) musik, sekali lagi, kita pergunakan sebaik-baiknya untuk merefleksikan relasi musik dengan negara. Termasuk, bagaimana musik menemani anak-anak muda berjuang di jalan pembebasan nasional.

Di era angkatan Sukarno, Indonesia Raya gubahan Wage adalah musik pembakar semangat anti-kolonialisme.

Di era milenial angkatan Reformasi, Darah Juang gubahan John Tobing masih menjadi mantra terkuat di panggung-panggung protes.

Kedua lagu itu adalah gambaran bahwa musik kita tidak kalis dari aksi-aksi pernyataan sikap pembebasan, baik "bebas dari" maupun "bebas untuk". Mari kita terus merawat bahasa musik kita agar selalu sehat berhubungan dengan negara sebagai jaket pelindungnya.

Anas Syahrul Alimi promotor musik, Ketua APMI, CEO Prambanan Jazz Festival

(mmu/mmu)