Analisis Zuhairi Misrawi

Syari' Jokowi di Abu Dhabi

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 15:18 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Uni Emerat Arab (UAE) mengumumkan sebuah informasi penting perihal peresmian nama jalan (syari') Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi. Hal ini merupakan sebuah kabar yang menggambarkan tidak hanya bagi Presiden, melainkan juga bagi Indonesia. Pelan-pelan citra Indonesia di Timur-Tengah mengalami perubahan yang signifikan.

Saya kebetulan kuliah di Universitas al-Azhar, Mesir pada tahun 90-an. Pada masa itu, saya merasakan langsung betapa menyebut nama Indonesia masih terasa asing bagi orang-orang Mesir. Mereka lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia.

Tetapi istimewanya, saat disebut nama Sukarno, orang-orang Mesir langsung mengenalnya dengan baik. Jejak Sukarno di Mesir sangat mendalam dalam hati sanubari warga, karena Bapak Proklamator ini mempunyai hubungan yang baik dengan Presiden Gamal Abdul Nasser. Nama Sukarno diabadikan dengan nama jalan di kawasan el-Mohandessen, pemberian doctor honoris causa oleh Universitas al-Azhar, dan pertanian mangga harum manis yang merupakan simbol kerja sama Indonesia-Mesir.

Ketika mendapatkan kabar adanya Jalan Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi, saya termasuk orang yang berbahagia, karena pelan-pelan Indonesia mulai dikenal di seantero Timur-Tengah. Era kejayaan Sukarno di Timur-Tengah mulai terasa kembali. Indonesia kembali menjadi bahan perbincangan di seantero kawasan. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari diplomasi yang dilakukan Kementerian Luar Negeri dalam enam tahun terakhir.

Dulu, nama Sukarno begitu dielu-elukan di Timur-Tengah karena menjadi inspirasi bagi kemerdekaan berbagai negara yang masih berada di bawah bayang-bayang penjajahan. Konferensi Asi-Afrika pada 1955 telah membuka kesadaran kolektif kaum terjajah untuk bangkit melawan penjajah. Bahkan dikisahkan para pemimpin Timur-Tengah selalu melakukan perjumpaan dengan Sukarno untuk menimba inspirasi perihal jalan menuju kemerdekaan.

Sebab itu, hampir di seantero Timur-Tengah ada nama jalan Sukarno. Bahkan di Aljazair baru-baru ini dibangun tugu monumen Sukarno sebagai tonggak diplomasi dan kehadiran Indonesia di seantero kawasan Timur-Tengah dan Afrika Utara.

Jalan Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi membangkitkan kembali kecemerlangan diplomasi di masa lampau, sebagaimana telah dilakukan oleh Sukarno. Tentu saja, strategi dan polanya berbeda antara Sukarno dan Jokowi. Tetapi keduanya sama dalam hal menghadirkan Indonesia sebagai "sahabat" bagi negara-negara Timur-Tengah.

Di seantero Timur-Tengah, Indonesia dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Warga Indonesia dikenal sebagai warga yang lemah-lembut dan ulet dalam bekerja. Mereka melihat Indonesia dengan penuh nuansa positif. Lebih-lebih setelah era Reformasi yang ditandai dengan kebangkitan dan kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan.

Saya sendiri menyaksikan bagaimana orang-orang Timur-Tengah terheran-terheran melihat kemajuan negeri ini. Beberapa media Arab menyebut Indonesia sebagai sebongkah surga di muka bumi (qith'atun minal jannah 'alal ardhi). Mereka sebelumnya membayangkan Indonesia masih terbelakang. Namun, saat mereka mendarat di Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya, mereka bisa menikmati keindahan alam, keramahtamahan warga, dan kekayaan khazanah budayanya.

Saat berjumpa dengan rombongan Imam Besar al-Azhar di Jakarta dalam kunjungan ke Jakarta dan beberapa daerah di Tanah Air, mereka juga menyampaikan pertumbuhan dan perkembangan Indonesia yang sangat pesat. Bahkan, kemajuan negeri ini bisa melampaui beberapa negara di Timur-Tengah dan Afrika Utara yang masih dirundung konflik politik tak kunjung usai.

Biasanya yang menjadi perbincangan warga Timur-Tengah saat ini perihal keberhasilan demokrasi kita. Meskipun ada kekurangan dalam berbagai aspek, tetapi demokrasi yang berlangsung secara damai dan bersih dalam dua puluh tahun terakhir telah membentangkan harapan. Yang membuat Timur-Tengah terheran-heran di antaranya perihal demokrasi yang membentangkan karpet merah bagi warga biasa, khususnya Jokowi untuk menjadi orang nomor satu di sebuah negara yang penduduknya 250 juta.

Beberapa media Timur-Tengah mencatat, "Jokowi adalah anak tukang kayu dari sebuah daerah terpencil, tetapi berhasil memimpin Indonesia. Ia adalah sosok bersih yang dikenal luas karena suka blusukan."

Sejak 2015 hingga sekarang, sebuah lembaga terhormat di Jordania menulis Jokowi sebagai sosok yang sangat berpengaruh di dunia Islam, karena mampu membangun infrastruktur dan membawa ekonomi Indonesia ke pertumbuhan yang sejajar dengan negara adidaya, seperti China, Amerika Serikat, dan India. Indonesia mengukuhkan dirinya masuk dalam jajaran elite dunia di G-20.

Pemandangan tersebut telah membuka mata hati UAE dan beberapa negara Arab lainnya untuk melakukan kerjasama seluas-luasnya dalam berbagai sektor kehidupan. Yang terutama dalam bidang ekonomi. Konon, jumlah investasi UAE di Tanah Air mencapai 22,89 miliar dolar AS atau sekitar 314,9 triliun rupiah.

Dalam kunjungan Putera Mahkota UAE, Mohamed bin Zayed ke Tanah Air ditandatangani 16 kesepakatan; 5 kerja sama di antara dua negara dan 11 kerja sama antara pelaku usaha di dunia negara. Kerja sama tersebut telah membangkitkan kerja sama yang lebih terbuka dan memantik negara-negara lain di seantero Timur-Tengah untuk membentangkan kerja sama serupa, di antaranya Qatar, Turki, Mesir, Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lain-lain.

Dengan demikian, adanya Jalan Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi, UAE sebenarnya dapat memantik kepercayaan diri di dalam negeri, bahwa kita mulai dipercaya oleh dunia, khususnya Timur-Tengah. Kita dapat berperan dalam konteks yang lebih luas yang saling menguntungkan dan saling menghormati. Era kejayaan Sukarno di masa lampau akan terulang lagi karena hakikatnya kita adalah negara besar dengan sumber daya yang luar biasa pula.

Zuhairi Misrawi cendekiawan muslim, analis pemikiran politik dan Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)