Kolom Kang Hasan

Tradisi Pelonco yang Dikira Bermanfaat

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 09:27 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Kegiatan perpeloncoan secara resmi sudah dilarang di berbagai institusi pendidikan. Larangan itu sudah lama dikeluarkan. Tapi setiap tahun selalu saja ada kampus atau sekolah yang menyelenggarakan kegiatan ini. Minggu lalu perpeloncoan dalam jaringan (daring) yang dilakukan di Universitas Negeri Surabaya.

Perpeloncoan daring ini sebenarnya sungguh konyol. Senior membentak adik-adiknya, dengan harapan ada ketakutan atau ketegangan. Kalau kita pikir dengan logika, itu sama seperti berharap orang takut pada bentakan yang disuarakan dari layar TV. Alih-alih tegang, pelonco seperti ini lebih cenderung lucu.

Kenapa selalu saja ada mahasiswa dan pelajar yang mencuri-curi melakukan kegiatan perpeloncoan meski sudah dilarang? Kenapa dalam situasi pandemi yang memprihatinkan ini masih ada yang ngotot melakukannya? Jawabannya, karena perpeloncoan ini bagi sekelompok orang sudah menjadi semacam ritual. Ada sederet mitos yang mereka percayai, yang menjadi dasar untuk yakin bahwa perpeloncoan itu adalah kegiatan yang penting.

Mitos yang paling utama adalah bahwa kegiatan ini penting untuk melatih mental. Mental apa? Yang diyakini oleh para pelaku adalah, kalau terbiasa dibentak-bentak, orang akan jadi tangguh. Artinya, tidak akan grogi lagi kalau kelak dibentak-bentak orang dalam kehidupan. Mereka menganggap ketangguhan mental semacam itu sangat penting.

Apa pentingnya ketangguhan mental seperti itu? Entahlah. Sepanjang hidup saya yang sudah 50 tahun lebih ini saya belum pernah bertemu dengan situasi kehidupan di mana saya harus dibentak-bentak, dan harus bersabar menghadapinya. Dugaan saya, ini cuma salah kaprah. Salah memahami praktik sejenis di dunia militer.

Dalam pendidikan militer perlakuan seperti itu memang biasa. Sebabnya sederhana, itu memang dibutuhkan dalam profesi militer. Lebih penting lagi, dalam pendidikan militer latihan dirancang terintegrasi, tentu saja disusun berbasis pada suatu metode yang sahih. Perpeloncoan di kampus tidak dirancang dengan basis teori pendidikan tertentu, sekadar meniru saja. Artinya, bentakan-bentakan itu tidak akan membentuk mentalitas apapun.

Lebih penting dari itu, mentalitas militer tadi tidak diperlukan dalam dunia sipil. Dunia kerja profesional saat ini sedang bergerak ke arah nilai-nilai baru. Perusahaan-perusahaan besar sedang gencar mempromosikannya. Di antara nilai yang dipromosikan itu adalah penghormatan kepada hak-hal asasi manusia. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah dengan membangun komunikasi yang positif di dunia kerja.

Menegur dengan kasar, membentak, adalah tindakan komunikasi yang buruk. Itu bisa dianggap sebagai penyalahgunaan wewenang atau power harrasment. Di berbagai perusahaan besar hal semacam itu dilarang. Artinya, para mahasiswa itu sedang membangun mentalitas yang keliru, dengan metode yang keliru pula.

Sebenarnya mentalitas apa yang perlu dibangun untuk mahasiswa baru? Latihan apa yang lebih tepat untuk dilakukan dalam masa orientasi di kampus?

Dunia sekarang sedang berubah dengan cepat. Segala sesuatu cenderung bergeser ke dalam jaringan. Mulai dari interaksi sosial, bergeser dari interaksi di ruang nyata ke interaksi di ruang maya melalui berbagai platform media sosial. Demikian pula interaksi yang lebih substansial, seperti jual beli antarorang pribadi dan kegiatan bisnis.

Perubahan itu didorong secara lebih keras oleh adanya pandemi ini. Dorongannya sangat keras. Hal-hal yang tadinya belum dipikirkan untuk dilaksanakan dalam jaringan, seperti kegiatan perkuliahan di kampus, kini terpaksa dilakukan dalam jaringan. Dalam 2-3 tahun ke depan, kita akan menyaksikan perubahan-perubahan yang lebih dramatis terkait soal ini. Mentalitas apa yang harus dimiliki mahasiswa dalam situasi itu? Latihan apa yang mereka butuhkan untuk mendapatkannya?

Dalam situasi yang berubah cepat, hal yang paling penting adalah kemampuan beradaptasi. Adaptasi yang dibutuhkan bukan sekadar cukup untuk bertahan agar tidak binasa dimangsa perubahan. Lebih dari itu. Yang dibutuhkan adalah kemampuan beradaptasi yang akan membuat kita unggul dalam situasi yang berubah cepat ini.

Mahasiswa perlu mengembangkan practical intelligence, yaitu kemampuan mengumpulkan informasi, mengolahnya, dan mengaplikasikannya dalam berbagai aspek kehidupan. Rumusannya terdengar sederhana, tapi praktiknya sangat tidak sederhana.

Practical intelligence dimulai dari penetapan tujuan dan pengumpulan informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Seseorang harus tahu apa informasi yang dia butuhkan dan di mana ia harus memperolehnya. Lho, pentingkah soal itu di tengah berlimpahnya informasi seperti yang kita alami saat ini? Justru di tengah berlimpahnya informasi itu kemampuan memilah informasi, juga kemampuan mencari informasi yang tepat sangat penting.

Kalau seseorang ditanya, di mana tempat mencari informasi, jawabannya tentu saja di jaringan internet. Tapi benarkah setiap orang sanggup menggali informasi secara cerdas di internet? Saya masih sering mendapat pertanyaan, melalui internet tentu saja, soal bagaimana mencari beasiswa, khususnya bagi yang akan kuliah ke Jepang. Penanya, sekali lagi, memakai internet untuk menggali informasi. Tapi ia mencari dengan pola pikir yang keliru.

Ia menganggap saya sebagai sumber informasi yang valid. Padahal tidak. Saya memang pernah kuliah di Jepang dengan beasiswa. Tapi itu terjadi 25 tahun yang lalu. Informasi yang saya milik, tidak lagi akurat dan mutakhir. Artinya, masih sangat banyak orang yang belum cerdik menggali informasi.

Dengan menggunakan mesin pencari, apakah setiap orang akan menemukan informasi yang ia butuhkan? Tidak. Mesin pencari seperti Google adalah mesin yang pintar. Tapi hanya orang yang bisa memasukkan kata kunci yang tepatlah yang akan menemukan informasi yang dia inginkan.

Langkah berikutnya lebih rumit lagi, yaitu memilah informasi dan memakainya untuk keperluan kita sendiri. Informasi yang berlimpah sering kali jadi bumerang bagi pencari informasi, ketika si pencari tadi tidak sanggup memilah mana informasi yang relevan bagi mereka.

Practical intelligence bukan melulu soal informasi. Kuncinya adalah bagaimana merespons dan bertindak tepat terhadap suatu situasi. Kecerdasan jenis ini memerlukan latihan di berbagai bidang, seperti sikap terhadap informasi tadi, kemudian komunikasi efektif, problem solving, pembuatan keputusan, dan sebagainya.

Ringkasnya, kemampuan ini jauh lebih penting dan berharga daripada ketahanan mental berbasis mitos dan salah kaprah tadi. Inisiasi pembangunan kesadaran soal practical intelligence ini jauh lebih berharga untuk dilakukan dalam masa orientasi mahasiswa saat ini. Masalahnya, para perancang dan pengelola kegiatan orientasi di berbagai kampus mungkin banyak yang belum menyadarinya.

(mmu/mmu)