Indonesia Raya Tanah Merdeka Sejuta Pulau Seribu Volkano

Ishadi SK - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2020 07:10 WIB
ishadi sk
Ishadi SK
Jakarta -

Mengapa di awal kemerdekaan semangat begitu tinggi untuk merdeka setelah 350 tahun dijajah bangsa Eropa, Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugal. 350 tahun lamanya tanpa henti. Tanpa percaya bahwa suatu ketika kelak Indonesia akan merdeka. Perang Dunia Pertama (1914 - 1918) yang berkecamuk di Eropa tak sedikit pun menggoyahkan Indonesia untuk menjadi merdeka. Perang Dunia Kedua (1940 - 1945) menggentarkan seluruh dunia. Eropa, Afrika dan Asia. Perang di ribuan pulau di lautan Hindia hingga Pasifik tidak pernah memimpikan bahwa Kekaisaran Jepang yang menguasai wilayah Asia dan Pasifik selama lima tahun akan berakhir. Sampai dua bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima. Memorak-porandakan pusat kehormatan dan kejayaan Kekaisaran Jepang.

Sementara itu mengikuti kilas perjuangan bawah tanah seabad sebelum Perang Dunia Kedua, perlawanan Pangeran Diponegoro (1825 - 1830) tidak terpikiran bahwa masih ada harapan untuk mengusir para penjajah Eropa. Balik ke perjuangan kemerdekaan, pertanyaan mendasar waktu itu adalah mengapa pergerakan Islam untuk memerdekakan Indonesia sedemikian kuat. Pastinya karena ada pesan dalam Al-Qur'an Surah Al Hijr (19):

"Dan Kami menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran."

Pesan inilah sesungguhnya yang mendorong bangkitnya organisasi masyarakat Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Dari ketiga organisasi Islam tersebut kedekatan Soekarno lebih kepada organisasi Syarikat Islam dan Muhammadiyah. Setelah menyelesaikan Pendidikan dasar tinggi (HBS), Soekemi ayah Soekarno menitipkan anaknya ke Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Yang terkenal sebagai Orator ulung pemimpin organisasi Syarikat Islam.

Soekarno tinggal di rumah Tjokroaminoto dan ikut serta dalam kegiatan pergerakan Islam dalam politik. Soekarno juga "mengguru" kepada K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Soekarno amat "kepincut" pada kemampuan ceramah, pidato serta menulis pergerakan massa. Soekarno juga mengenal tokoh-tokoh pergerakan Islam Abdul Muis, H. Agus Salim, serta teman seusianya Semaun, Kartosuwiryo, Alimin dan Darsono. Mereka belajar organisasi, politik, orasi dan juga pendalaman berbagai pemikiran Islam.

Pada tahun 1921, Soekarno berangkat ke Bandung untuk kuliah di Technische Hoogeschool (sekarang ITB). Selama kuliah Soekarno tinggal di rumah H. Sanoesi yang juga sebagai pengurus Syarikat Islam di Bandung. Selama kuliah Soekarno mengenal tokoh-tokoh pergerakan dr. Tjipto Mangunkusumo, Dowes Dekker dan Muhammad Natsir.

Itulah yang menurut Cindy Adams - penulis buku "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia", yang menyebabkan Soekarno aktif berbicara dan menulis tentang kemerdekaan Indonesia.

Tanpa henti Soekarno selama kuliah maupun setelah selesai senantiasa aktif dalam berbagai kegiatan politik. Berulang Soekarno dipenjarakan Belanda. Di Ende (1934 - 1938), Bengkulu (1938 - 1942), dan terakhir di Bangka (1949) setelah menjadi Presiden RI diculik di Yogyakarta bersamaan dengan Agresi Militer II.

Pada 4 Juli 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai isyarat Soekarno akan memimpin Bangsa Indonesia secara resmi memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur politik resmi.`

Selama Perang Dunia Kedua (1940 -1945), Ir. Soekarno berkat pengalaman politik yang panjang memahami bahwa Kekaisaran Jepang akan dikalahkan Amerika Serikat dan sekutu-kutunya. Soekarno melihat kesempatan emas jika pada akhirnya Jepang ditundukkan dan akan ada peluang besar untuk segera menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada pertengahan Agustus 1945, terdapat gerakan massif para tokoh pejuang untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Itulah sebetulnya yang menjadi kekuatan dan semangat untuk menjadikan Indonesia tanah merdeka. Bersyukur bangsa Indonesia waktu itu di akhir perang Pasifik antara Jepang dan Amerika Serikat tampil keberanian Ir. Soekarno dan pemimpin lainnya seperti Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Agus Salim serta pemimpin bangsa lainnya yang sejak muda telah menulis catatan-catatan dalam berbagai buku yang intinya adalah suatu ketika kelak Indonesia menjadi merdeka dan berdaulat.

Tanggal 6 Agustus 1945 bom atom dijatuhkan di Hiroshima. Tanggal 9 Agustus 1945 Nagasaki luluh lantak diserang bom atom. Senjata pamungkas yang tidak pernah terpikirkan dan diizinkan untuk digunakan karena bertentangan dengan hak asasi kemanusiaan.

Pertempuran di Lautan Pasifik memang tidak mengenal batas, cara dan warna pertempuran. Bung Karno dan Bung Hatta telah terpikirkan dan bahkan teragendakan kapan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dicanangkan. Ada kesempatan emas karena pasukan Jepang setelah dua bom atom dijatuhkan menyatakan diri kalah perang.

Pada dini hari 16 Agustus 1945, Chairul Saleh, Sukarni dan Wikana beserta sekelompok pemuda, menculik Soekarno dan Hatta karena menganggap Bung Karno dan Bung Hatta lambat dalam menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta disekap pemuda PETA hingga 16 Agustus malam sampai ditemukan kembali oleh Achmad Soebardjo dan Soediro untuk dibawa ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Soekarno mengadakan rapat persiapan di rumah kediaman Laksamana Maeda - pejabat tinggi Jepang di Jakarta yang mewakili sekutu di Indonesia, di Jl. Imam Bonjol Jakarta. Soekarno dan Mohammad Hatta serta Achmad Soebardjo merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, baris demi baris dari pukul 02.00 hingga 04.00 WIB pagi hari.

Sementara itu Ibu Hj. Fatmawati Soekarno semalaman menjahit dengan tangan, bendera merah putih berukuran 276 x 200 cm untuk dikibarkan pada waktunya di tiang bendera rumah kediaman Ir. Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No: 56, Jakarta.

Tepat pukul 10.00 WIB, Ir. Soekarno didampingi oleh Hj. Fatmawati Soekarno dan Mohammad Hatta disaksikan Soewirjo, Wilopo, Sayuti Melik (pengetik naskah Proklamasi) membacakan naskah Proklamasi Republik Indonesia dihadiri 500 orang pemuda bersenjata bambu runcing hingga senapan sitaan serdadu Jepang.

"Kami bangsa Indonesia, dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '45
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno - Hatta."

Pada kesempatan yang istimewa itu, Frans S. Mendur - wartawan foto Indonesia mengambil gambar peristiwa kemerdekaan Indonesia dan menjadi satu-satunya dokumentasi yang dimiliki oleh negara Republik Indonesia pada masa itu. Pada kesempatan tersebut, Joesoef Ronodipoero yang sewaktu itu bekerja sebagai penyiar radio Bataviase Radio Vereniging (BRV) secara diam-diam merekam dan menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan RI lewat jaringan PTT Posts Telegraaf end Telefoon Dienst milik Belanda yang diinisiasi oleh pegawai Indonesia yang bekerja di tempat itu, menyiarkan naskah Proklamasi Kemerdekaan ke seluruh Indonesia khususnya Medan dan sekitarnya. Secara berangkai lewat jaringan komunikasi Belanda, Proklamasi Kemerdekaan RI didengar dan disambut dengan gegap gempita di seluruh Indonesia.

Setelah Proklamasi, perjalanan untuk diakui sebagai sebuah Negara Merdeka tidak mudah. Khususnya dari sisi pemerintah negeri Belanda yang tidak merelakan Kemerdekaan Republik Indonesia tanpa persetujuan mereka. Pada tanggal 25 Oktober 1945 hanya dalam waktu dua bulan setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, Tentara Sekutu disertai pasukan elite NICA melakukan penyerangan tiba-tiba ke Surabaya didukung oleh kapal perang dan pesawat tempur. Hanya dalam waktu lima hari setelah menyerang Surabaya, tanggal 30 Oktober 1945 Brigadir Jendral Aubertin Mallaby - Kepala Staff pasukan Sekutu tewas di tangan Laskar Pemuda Indonesia. Puncak pertempuran terjadi pada tanggal 10 November 1945 pada waktu itu tercatat 20.000 pejuang Indonesia gugur sementara 1500 pasukan Sekutu tewas.

Tanggal 28 November atas desakan DK PBB, seluruh Pasukan Sekutu diminta mundur dari wilayah Surabaya. Pemerintah Belanda tidak henti-hentinya mencoba untuk tidak mengakui secara de Facto Kemerdekaan Republik Indonesia. Diluar Pasukan Sekutu, Belanda melakukan serangan Agresi Militer I tanggal 21 Juli 1947 ke berbagai lokasi strategis di Jakarta dan Semarang. Presiden Soekarno kemudian memindahkan Pimpinan Pemerintahan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan serangan Agresi Militer II dengan mengerahkan pesawat tempur dan pasukan komando. Mereka kemudian menyerbu Istana Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan segenap Menteri Kabinet RI dengan tujuan mengambil alih kekuasaan negara Republik Indonesia. Sebelumnya, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta melakukan sidang kabinet mendadak. Dua keputusan strategis dibuat: (1). Presiden dan Wakil Presiden, dan anggota kabinet tetap bertahan di Yogyakarta, (2). Presiden memberi kuasa kepada Menteri Kemakmuran Syafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi untuk mengambil alih Pemerintah Pusat dengan nama "Pemerintahan Darurat Republik Indonesia". Sementara itu, Jendral Sudirman bersama dokter pribadinya melakukan perlawanan gerilya selama enam bulan diantaranya memberi komando dari kedalaman kegiatan serangan umum 1 Maret 1949.

Lewat dukungan diplomasi negara-negara tetangga Republik Indonesia diantaranya India, Pakistan, Birma dan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa lainnya, Dewan Keamanan akhirnya memerintahkan seluruh pasukan Belanda ditarik mundur dari segenap wilayah Republik Indonesia.

Indonesia menjadi negara berdaulat. Indonesia secara resmi diakui seluruh dunia sebagai sebuah negara yang Merdeka dan Berdaulat.

Karawang - Bekasi

Chairil Anwar

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang dan Bekasi

Jakarta, 13 Agustus 2020

Ishadi SK
Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)