Kolom

Terperdaya Penjual "Masa Depan"

Raflidila Azhar - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 13:53 WIB
ilustrasi investasi
Foto: iStock
Jakarta -

"Biaya persalinan sampai Rp 88 juta?" adalah pertanyaan yang banyak muncul sebagai respon atas posting-an akun financial planner Jouska yang melakukan perhitungan bagi siapa saja yang ingin atau sedang merencanakan untuk mempunyai momongan. Sebagai generasi milenial yang gagap hal begitu, apalagi jomblo, tentu saya agak shock dan berpikir sebegitu beratnya urusan keuangan sebuah keluarga.

Belum lagi urusan tetek bengek lainnya seperti pendidikan, kesehatan, sandang-papan, dan lain-lain. Seketika itu saya berpikir bahwa berkeluarga itu menakutkan. Setelah saya tanya ibu saya, dia hanya tertawa dan bilang bahwa mungkin hitung-hitungan yang diajukan Juoska punya variabel berbeda untuk kalangan yang berbeda pula. Ibu saya lalu menceritakan kelahiran saya dan adik saya yang jika ditotal biayanya kurang dari setengah total yang di-posting oleh Jouska di akun Instagram-nya.

Lalu kami berdua ngobrol perihal tersebut dan masalah perencanaan keuangan keluarga, sambil ibu saya memberi sedikit gambaran. Dan, ternyata ketika saya telusuri, apa yang dibilang oleh ibu benar. "Rp 88 juta" itu ternyata meliputi hal-hal seremonial dan hal-hal yang sebenarnya bisa diganti oleh "level" yang lebih murah dan optimal, sesuai bujet sendiri.

Namun polemik kadung tersebar luas, dan mungkin sudah banyak orang-orang seumuran saya yang mempunyai pikiran yang sama. Yang sudah menikah tiba-tiba menunda untuk memiliki momongan karena belum mampu untuk mengestimasi biaya persalinan yang sedemikian besar itu.

Belum lagi lingkungan di Twitter yang tidak jarang justru membuat pendapat seperti itu terkesan benar, yang notabene banyak diisi pendapat orang-orang kelas menengah ke atas yang terdengar aneh bagi saya yang masuk di golongan ke bawah. Seperti ada akun yang komen sambil marah-marah, "Kalau gak mampu, gak usah punya anak banyak," kepada posting-an seseorang lainnya yang menggambarkan kegiatan ketiga anaknya sedang belajar online.

Menyebarkan Ketakutan

Ketakutan-ketakutan yang diproduksi oleh perusahaan keuangan dan investasi macam Jouska justru menyebarkan limbah-limbah negatif, alih-alih membuat orang sadar pentingnya berinvestasi. Limbah-limbah negatif itu salah satunya adalah menyebarkan ketakutan akan masa depan; menyebar dengan cepat dan menghantui anak-anak milenial seperti saya.

Berapa banyak kaum milenial yang akhirnya terperdaya oleh institusi-institusi penjual masa depan, sehingga mereka berlomba-lomba untuk berinvestasi pada para penyebar ketakutan ini?

Memang, tujuan dari produksi besar-besaran ketakutan ini adalah untuk mengeruk pundi-pundi para korban agar masuk kepada dompet institusi keuangan tersebut, sehingga menambah keuntungan mereka. Dengan berlagak bak penyelamat masa depan orang lain, sebagai lentera yang akan menaungi masa depan orang lain, perusahaan keuangan dan investasi ini menjadi benalu yang hidup dari inang-inangnya, orang-orang yang berinvestasi pada mereka.

Dengan tidak menyebut semua produk investasi seperti itu, namun acapkali terdengar kasus-kasus serupa. Yang terhangat, sebuah posting-an di Twitter yang viral menyebutkan bahwa Jouska, salah satu institusi keuangan yang sebelumnya disebutkan, melakukan investasi saham pada produk saham LUCK menggunakan dana dari nasabah mereka dengan tanpa berkoordinasi dengan para nasabah terlebih dahulu.

Padahal sebagai institusi perencana keuangan, seharusnya fungsi Jouska hanya sebagai advisor, bukan eksekutor. Dan, ternyata memang benar, seperti dilansir oleh OJK, Jouska tidak punya izin untuk mengelola dana nasabah. Nahasnya, investasi yang dilakukan oleh Jouska jatuh dan membuat para nasabahnya merugi sampai ratusan juta rupiah.

Bahkan sekelas perusahaan asuransi plat merah macam Jiwasraya, yang iklannya sampai menggandeng Manchester City itu, telah dicap gagal bayar kepada nasabahnya. Kasus Jiwasraya, yang mempunyai motif yang sama dengan Jouska yakni berinvestasi pada saham gorengan yang tidak jelas keadaan keuangannya, masih berlarut-larut proses penyelesaiannya di pengadilan.

Hal ini seharusnya menjadi tamparan keras para pelaku industri investasi, khususnya asuransi, di tengah menjamurnya fintech yang mengakomodasi objek yang sama. Alih-alih menjadi solusi masa depan masyarakat, justru industri ini membunuh masa depan masyarakat secara perlahan.

Dengan tanpa tendensi menjatuhkan sektor investasi ini, hal tersebut seharusnya dapat dievaluasi oleh para pelaku industri ini. Karena hal ini dapat menyebabkan mereka kehilangan kepercayaan orang-orang dan mencoreng sektor industri ini. Bahkan, seharusnya lembaga macam OJK yang mempunyai fungsi sebagai pengawas dapat melakukan fungsinya sebaik mungkin.

Kalau bisa, di tengah maraknya jargon "investasikan masa depanmu", OJK seharusnya melakukan sosialisasi perihal seperti apa investasi yang baik dan sehat. Toh masih banyak produk-produk investasi yang aman, sehat, dan jelas yang beredar saat ini, dari mulai skala nasional macam obligasi sampai crowd funding lokal yang menjangkau tidak hanya saham namun produk investasi pada industri UMKM dan pinjaman petani, peternak, dan sejenisnya.

Walaupun, sektor-sektor tersebut memang masih prematur dan perlu dilakukan kajian-kajian oleh para pengawasnya guna menghindari kasus-kasus yang serupa terjadi. Alih-alih menjadi proyeksi bagus di masa depan, sektor ini justru mengubur dirinya sendiri tanpa bisa sampai pada masa depan yang mereka janjikan.

Terakhir, orang-orang yang ingin terjun pada produk investasi juga perlu belajar dan banyak membaca ketentuan yang berlaku di produk tersebut. Bisa jadi kerugian yang diderita bukan karena kesalahan pelaku industrinya, tapi memang daya baca orang-orang tersebut yang ogah membaca huruf-huruf kecil di bagian syarat dan ketentuan serta langsung "main tanda tangan". Jangan sampai justru malah terlihat bodoh ketika menuntut kerugian, karena kemalasan membaca dan asal tanda tangan tersebut.

(mmu/mmu)