Kolom

Sosialisasi Covid-19 yang Spesifik untuk Pedagang Pasar

Sri Budiarti - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 12:14 WIB
Pandemi Corona membuat omzet pedagang di Pasar Kemiri Muka, Depok, Jawa Barat, turun drastis. Pedagang mengeluhkan sepinya para pembeli yang dayang.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
"Corona-ne niku teng mriki ming liwat, Bu." (Corona-nya di sini cuma lewat, Bu), demikian jawaban Simbah, pedagang pasar yang sudah belasan tahun menjadi tempat langganan belanja ketika saya bertanya mengapa maskernya tidak dipakai.

"Lha enggih, Bu sakniki Corona-ne pun bablas tekan segoro kidul."
(Iya, Bu sekarang Corona-nya sudah bablas sampai Laut Selatan-Samudera Hindia), Budhe pedagang yang kiosnya di sebelah Simbah ikut menimpali.

Saya jelas sungkan untuk membalas apalagi menjelaskan kepada mereka pentingnya protokol kesehatan yang beribu kali ditekankan pemerintah. Biar ngomong sampai berbusa juga tak akan didengar.

Di sekitar tempat tinggal, ada beberapa pasar tradisional yang biasa saya kunjungi secara bergantian. Dari semua pasar itu, rata-rata pedagang tidak menerapkan protokol kesehatan selama mereka berjualan atau melakukan aktivitas lain di pasar. Hampir tidak ada yang menggunakan masker.

Maka tidak heran bila pasar tradisional menjadi salah satu kluster penyebaran Covid-19. DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menyebutkan bahwa sampai dengan 13 Juli 2020, sebanyak 1053 kasus positif telah ditemukan di 190 pasar di 26 Provinsi, 35 orang di antaranya meninggal dunia.

Kasus positif baru yang berasal dari pasar tradisional diperkirakan masih akan terus bertambah karena sulitnya menerapkan protokol kesehatan secara disiplin terutama kepada para pedagang. Sedangkan berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk tetap menjadikan pasar sebagai roda penggerak ekonomi masyarakat sekaligus mencegah pasar tradisional sebagai salah satu pusat transmisi lokal penyebaran Covid-19.

Simbah dan Budhe yang berdagang di salah satu pasar tradisional itu menjadi bukti sulitnya memberi pemahaman kepada pedagang tentang bahayanya Covid 19. Mungkin perlu dilakukan pendekatan dengan metode yang berbeda agar para pedagang ini bersedia menjadikan protokol kesehatan sebagai bagian dari aktivitas keseharian mereka selama berdagang di pasar. Pihak terkait mungkin perlu memahami kondisi psikologis mereka agar metode yang berbeda ini berhasil digunakan untuk memberi pemahaman secara efektif.

Para pedagang itu, seperti halnya Simbah dan Budhe sudah melakukan pekerjaan jual beli dan semua aktivitas yang berhubungan dengannya sejak puluhan tahun yang lalu. Mereka bangun dini hari, segera bergegas ke pasar induk untuk kulakan, kemudian langsung berangkat untuk membuka kios dan berdagang di pasar tradisional. Dan selanjutnya larut dalam aktivitas jual-beli dengan para pelanggan. Seperti itu setiap pagi sampai siang hari. Sebagian pedagang bahkan berjualan sampai sore hari ketika pasar akan ditutup.

Begitu pulang, setumpuk pekerjaan lain sudah menunggu di rumah. Begitulah kegiatan mereka; setiap pagi, setiap hari sepanjang waktu, selama puluhan tahun. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh, terbiasa menghadapi dan mengatasi kesulitan. Begitu tegarnya sehingga penyakit-penyakit ringan seperti masuk angin, demam, flu, pilek tidak akan mampu menghentikan tekat perempuan-perempuan tangguh itu untuk tetap beraktivitas di pasar.

Jadi sosialisasi yang standar tidak mempan untuk para perempuan perkasa tersebut. Yang dipahami adalah, Covid-19 bergejala ringan seperti, demam, flu, batuk, sesak napas --penyakit biasa yang akrab dengan keseharian mereka; jadi di mana bahayanya?

Sedangkan menghidupi keluarga adalah ikhtiar yang harus mereka lakukan apapun rintangannya. Menutup pasar yang sudah terindikasi positif hanya akan membuat mereka semakin "antipati" dengan upaya pemerintah mencegah penyebaran Covid-19. Siapa yang akan menanggung hidup keluarga jika tidak berjualan? Lha wong pemerintah juga tidak menanggung biaya hidup selama mereka tidak berdagang.

Begitu pula melakukan pembatasan dengan mengurangi durasi jam berdagang di pasar, hanya akan membuat pedagang dan pembeli semakin berjubel dan semakin sulit menjaga jarak aman. Pedagang mana paham dengan teori penularan Covid-19 yang dihasilkan dari probabilitas penularan (Rt) dikalikan dengan contact rate dan dikalikan dengan duration of illness.

Di samping itu bangunan pasar memang tidak dikondisikan untuk mengantisipasi bencana pandemi seperti saat ini. Disaster management di pasar hanya menyediakan petunjuk "Jalur Evakuasi" bila terjadi kebakaran atau gempa. Lorong yang sempit, kios yang berukuran kecil, dan perputaran udara yang kurang baik menyebabkan pedagang cepat merasa gerah bila harus memakai masker dan face shield.

Lagi pula, Lurah Pasar kalem-kalem saja melihat warganya tidak memakai masker. Tentu saja menegur pedagang yang tidak menerapkan protokol kesehatan bukan tupoksinya. Itu kewajiban Tim Gugus Tugas Covid-19. Tugas Lurah Pasar memungut uang retribusi dari pedagang sesuai target dan segera menyetor ke Dinas Pengelolaan Pasar.

Para pedagang yang merasa dirinya sebagai wong cilik paling enggan bahkan sedikit alergi bila berhadapan dengan segala tetek bengek yang berkaitan dengan birokrasi dan sejenisnya. Barangkali inilah yang seringkali menyebabkan penolakan apabila akan dilakukan rapid test di pasar tempat mereka berdagang.

Dalam bayangan mereka, mengikuti rapid test itu ribet dan urusannya panjang. Kekhawatiran bahwa hasil rapid test-nya positif dan kemudian mendapat stigma, juga ketakutan tidak akan bisa berdagang selama waktu tertentu. Padahal para pedagang ini keinginannya sederhana, yaitu bisa tetap berdagang setiap hari karena itulah mata pencaharian mereka.

Alasan lain adalah kurang dipahaminya perbedaan rapid test, swab test, dan metode PCR (Polymerase Chain Reaction), serta istilah ODP, PDP, Suspect, dan OTG, yang kemungkinan juga menjadi penyebab sulitnya melakukan rapid test secara massal kepada pedagang di pasar tradisional. Dan sekarang, Tim Gugus Tugas Covid-19 merilis istilah-istilah baru untuk mengganti istilah-istilah di atas yang sebenarnya memiliki arti yang hampir sama. Tentu masyarakat bertambah bingung; yang kurang paham menjadi semakin gagal paham, yang sudah paham bisa jadi sekarang merasa jengkel karena harus memahami dan menghafal istilah baru.

Metode standar dan seragam yang selama ini diberlakukan untuk semua orang terbukti sangat kecil tingkat keberhasilannya. Karena masyarakat yang disasar sangat beragam, maka strategi dan penerapan metode sosialisasi yang standar dan seragam dapat menimbulkan potensi disinformasi yang sangat besar. Akibatnya salah paham dan gagal paham seringkali dialami masyarakat yang berakibat masyarakat abai terhadap bahaya Covid-19. Akhirnya masyarakat bersikap tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Indikasinya dapat dilihat dengan masih tingginya peningkatan jumlah mereka yang terpapar.

Pasar tradisional yang letaknya di daerah memiliki karakter kultural yang identik dengan lokasi pasar itu berada. Dalam melakukan sosialisasi, metode penyampaian hendaknya disesuaikan dengan budaya setempat, meskipun materi pokoknya tetap baku dan standar. Antara lain penggunaan bahasa daerah, penyampaian dengan cara yang lebih rileks, juga pendekatan psikologis yang lebih intens dengan membuang jarak antara petugas dan para pedagang.

Advokasi juga perlu dilakukan dengan melibatkan tokoh yang ada di pasar tradisional, seperti ketua asosiasi pedagang, ketua paguyuban, atau mereka yang "dituakan". Penggunaan aparat secara represif seyogianya dihindari karena pada dasarnya kesadaran tidak bisa dipaksakan.

Dibutuhkan kesabaran dalam memberi edukasi bahayanya Covid-19 kepada para pedagang. Mereka juga butuh waktu untuk beradaptasi dengan kelaziman baru yang isu utamanya adalah penerapan protokol kesehatan. Di saat yang sama, mereka juga perlu ditenangkan dengan kepastian keberlangsungan berdagang sebagai mata pencaharian mereka.

Tim Gugus Tugas Covid-19 di daerah hendaklah diberi otoritas untuk melakukan modifikasi dan penyesuaian dalam melakukan sosialisasi, edukasi, dan advokasi. Diperlukan strategi dan metode yang spesifik untuk masing-masing komunitas atau kelompok masyarakat yang berbeda. Yaitu strategi dan metode yang mengedepankan pendekatan kultural yang melebur dengan kondisi psikologis para pedagang di pasar tradisional.

(mmu/mmu)