Kolom

"New Normal" = Jarak + Kecurigaan

Hudjolly - detikNews
Minggu, 21 Jun 2020 12:07 WIB
Kawasan Gelora Bung Karno ramai dikunjungi warga untuk berolahraga di Minggu pagi. Protokol kesehatan pun diterapkan oleh masyarakat guna cegah COVID-19.
Berolah raga sambil tetap jaga jarak (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Dalam berkendara kata "jaga jarak" cukup ampuh dipatuhi antarkendaraan, tak satu pun kendaraan di jalan tol, di jalanan yang sudi berdekatan lekat menipiskan jarak sedekat mungkin. Tidak berjarak alias dekat berarti bersiap dengan masalah yang mengintai. Di jalan tol selalu terpampang rambu pengingat di tepian railguard agar selalu menjaga jarak. Truk-truk besar juga kerap menuliskan "jaga jarak" di bagian spakbor roda belakang, di bumper belakang truk. Kendaraan-kendaraan kecil, kendaraan pribadi dengan suka hati mengindahkan peringatan itu, menjaga jarak dari truk besar.

Kebiasaan jaga jarak dalam berkendaraan itu kini harus menjadi bagian dari keseharian kita, bukan hanya di jalan raya saat berkendara, tetapi dalam setiap aktivitas luar rumah. Setiap individu diminta menjaga jarak dengan individu lainnya. Jaga jarak dalam makna yang sesungguhnya, membuat jeda, spasi antarpersonal, tak boleh ada saling bersentuhan tangan, jabat tangan, peluk-kecup akrab, jadi bukan sekedar menjaga jarak seperti kendaraan di jalan raya.

Tidak menjaga jarak di jalan raya berarti meningkatkan ancaman maut, membangun jarak dalam perilaku keseharian berarti meningkatkan peluang hidup. Jaga jarak di jalan raya memberi manfaat bagi para pihak, depan dan belakang, membangun jarak antarpribadi di masa pandemi sekarang ini memberi manfaat bagi kehidupan banyak pihak. Tetapi mengapa menjaga jarak di jalan raya lebih dipatuhi? Bahkan tanpa pengawasan pun semua sepakat. Karena rasionalitas jaga jarak di jalan raya bersifat kontan, risiko crush dan benturan langsung, kontan di depan mata saat tidak mau menjaga jarak berkendara.

Mengapa dalam keseharian imbauan jaga jarak susah dipatuhi? Karena rasionalitasnya bersifat hipotetis-deduktif. Eksistensi di luar diri adalah "ancaman", tetangga adalah ancaman, teman kerja yang biasa berbagi makanan dan minum di gelas yang sama adalah ancaman. Karena semua orang, di luar sana, dihipotesiskan sebagai pembawa maut. Sekalipun kita mengenalnya dalam keseharian, partner kerja, mahasiswa-siswa kita, guru-dosen kita, kepada mereka semua diwajibkan untuk meletakkan kecurigaan, deduksikan bahwa semua kontak dengan mereka itulah yang membawa pandemi masuk dalam tubuh. Ancaman maut.

Begitu kecurigaan dibangkitkan dalam komunitas manusia, kita tergradasi dari segi humanitas. Sejarah mengajarkan kecurigaan sebagai antinomi dari hasrat untuk bertahan hidup. Di alam liar, ketika kelinci melihat serigala, kelinci menaruh kecurigaan bahwa serigala akan memangsanya, maka kelinci harus curiga pada semua serigala. Demikian pula si tikus curiga pada semua kucing, bahkan kucing angora yang tak bisa memanjat pohon pun harus tetap dicurigai "akan menerkam" tikus.

Tetangga yang bepergian dari Jakarta dan hendak kembali ke kampung halaman itu seperti "serigala" dan "kucing" yang akan memangsa warga melalui virus-virus yang entah menempel sungguh-sungguh pada mereka atau sekedar diasumsikan menempel. Tidak perlu dibuktikan soal menempel atau tidak menempel, carrier atau tidak, yang jelas, curiga adalah kewajiban baru, karena denyut bertahan hidup sedang berdegup lebih kencang dengan syarat lekat: kecurigaan. Lalu dengan kecurigaan yang besar itu, dapat diambil keputusan-keputusan besar by pass, tanpa konformitas atas nama: mengantisipasi kecurigaan.

Dahulu, ada Von Uexkuhl (1894-1944 M) seorang biologis yang menggemari filsafat, menyelidiki dorongan hidup binatang-binatang. Seekor kutu kambing, ketika siap berkembang biak, ia menjatuhkan diri di tanah lalu merayap mencari batang pohon, naik untuk bersiap di sejulur ranting. Kutu akan menanti kambing yang melintas di bawah ranting itu. Kucing, kerbau, serigala melintas tapi kutu tak mau menjatuhkan diri, kutu hanya mau menjatuhkan diri pada kambing saja, tidak yang lain.

Tentu saja virus itu bukanlah si kutu yang dapat memilih inangnya. Virus hanya seikat RNA yang dibungkus lemak. Ketika lemak terurai oleh suhu panas, oleh sabun, tinggallah RNA yang terdiri dari beberapa pilin rantai protein, terurai lalu tak lagi bisa menggandakan diri. Tapi, kisah binatang rendah si kutu memberi pesan bahwa mereka punya suatu "nilai" yang menjadikannya hidup. Jika dorongan sekadar hidup saja, semua hewan berbulu yang melintas cukuplah dijadikan sekedar inang sementara sambil mencari kambing sebagai inang yang tepat. Kutu memiliki "nilai" orientasi yang dengannya ia hidup atau tanpanya tidak hidup.

Dalam rasio kecurigaan, "nilai" dihancurkan, karena yang terpenting adalah diri ini hidup, eksisten lain adalah ancaman, jika perlu ambil langkah isolasi diri, selamatkan diri, tak usah memikirkan yang lain. Padahal manusia menjadi manusia ketika ia berinteraksi, martabat dan status dirinya ditentukan nilai yang dianut dalam interaksinya. Bayangkan manusia tanpa nilai, buang air kecil di ruang tamu, tak peduli ada orang lain atau tidak. Tetapi itu tidak akan dilakukan, demi nilai, manusia membuat adab, dimana air kecil layak dibuang, makan di mana, dan bereproduksi di mana, tak bisa di sembarang tempat.

Kecurigaan telah memberi contoh luar biasa dalam peradaban, kecurigaan pada ras lain menghasilkan putusan genosida, kecurigaan pada negara tetangga membuat belanja militer ditingkatkan, kecurigaan di pasar bursa membuat point melorot turun. Kecurigaan sebagai instrumen dasar bagi tikus bertahan dari kepunahan menghadapi predatornya. Kecurigaan kita ke tetangga, pada orang sekitar membawa kita pada naluri purba, naluri dasar tanpa nilai, ah satu lagi: tanpa rasio, yang penting hidup. Bahkan pada mayat pun curiga, sampai menolak memakamkan mayat yang biasanya kita sambut sebagai kewajiban kemanusiaan disertai lantunan doa dan sungkawa.

Bukankah rasionalitas selalu menghadirkan opsi alias pilihan alternatif? Kutu tidak memiliki rasionalitas pilihan, hidup berakhir jika tidak menemukan kambing. Kini, untuk bertahan hidup apakah tiada opsi selain menjaga jarak? Dan meletakkan kecurigaan pada semua hal di luar kita ? Bukankah metode mengajarkan pada kita untuk mengukur reaksi berdasarkan aksi yang muncul?

Riset epidemiologi memberi analisis tentang tahapan yang dapat diambil. Opsi harus dicari sedangkan saat ini, opsi yang ada hanyalah yang disuguhkan: curigai sesama Anda, jaga jarak maka Anda akan selamat; tingkatkan imunitas tubuh maka anda akan selamat. Tetapi imunitas saja tidak cukup karena memiliki imunitas tangguh pun tetap tidak bisa mengelak dari stempel dicurigai sebagai carrier.

Dalam komunikasi dunia timur kata "curiga" dikemas secara eufemisme: "mungkin dan berpeluang". Dengan kemasan kosa kata ini nampaklah persoalan probabilitas sebagai dasar kecurigaan. Sikap jaga jarak berarti meningkatkan probabilitas hidup, tidak jaga jarak berarti meningkatkan probabilitas menjadi inang virus. Yang terjangkit pun harus berhitung probabilitas sembuh atau mati. Jarak diperlukan karena faktor "probabilitas tak terduga" orang di sekitar kita menjadi inang.

Sayangnya probabilitas terhadap adanya opsi menghadapi pandemi dianggap tidak ada, kecuali ya jaga jarak itu. Dengan opsi jaga jarak, probabilitas manusia yang memegang "nilai" jelas menyusut drastis, karena para survivor berkorelasi dengan individualitas. Sebagaimana di jalan raya, jaga jarak saja tidak cukup tanpa disertai kesiapan dan kolektivitas. Satu kendaraan yang terlampau menjaga jarak justru memicu delay perjalanan bagi kendaraan lainnya.

Kini, hidup berdenyut dalam delay, jarak bukanlah segalanya, tetapi kolektivitas kemanusiaanlah yang menjadikan kita tetap sebagai homo socius. Dalam analogi si tikus dan kelinci, survive berkat naluri kecurigaan, tetapi kita, justru harus berjarak sejauh mungkin dengan gaya spesies itu mengelola kecurigaan dalam mekanisme survival.

Gunakanlah rasio untuk memahami jarak, bukan dengan kecurigaan lalu membuat jarak, lalu jarak menjadi kejahatan berbuah pidana. Jika berpusat pada soal hidup atau tidak hidup, bukankah masih banyak probabilitas lain yang lebih tinggi yang mengancam hidup manusia ? Marilah kita survive dengan menunjukkan sikap-sikap yang adil sebagai manusia yang beradab.

Hudjolly beternak 6 ekor ayam, tinggal di Banten

(mmu/mmu)