Kolom

Siswa Angkatan Corona

Erni Juliana - detikNews
Rabu, 17 Jun 2020 11:17 WIB
MOSCOW, RUSSIA - MARCH 20, 2020: Recording an online lecture for students of the Russian University of Transport. The universitys rector Alexander Klimov ordered to shift the secondary vocational education programs to online learning amid the COVID-19 coronavirus pandemic, starting from March 23, 2020. Sergei Savostyanov/TASS (Photo by Sergei SavostyanovTASS via Getty Images)
Potret pembelajaran jarak jauh di berbagai negata (Foto ilustrasi: pool)
Jakarta -

Undangan pengumuman kelulusan siswa kelas VI sebuah sekolah dasar di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, 13 Juni 2020 membuat saya termenung. Antara senang dan cemas berbaur menjadi satu. Senang karena anak bungsu saya akan mengakhiri masa pendidikannya di sekolah dasar yang menjadi basis dan ikut menentukan pendidikan selanjutnya. Senang karena inilah pendidikan paling krusial dalam hidupnya, dan alhamdulillah telah dilewatinya dengan baik, dengan prestasi yang cukup memuaskan.

Tapi saya juga was-was karena acara pengumuman yang berarti menandai perpisahannya dengan sekolah, juga dengan teman-temannya selama enam tahun, di tengah pandemi wabah Covid-19. Cemas karena tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anak saya. Walau dia tampak baik-baik saja, tetap tersenyum, tapi saya gagal menangkap perasaan apa yang menyelinap di balik senyumnya itu. Mungkin, ada banyak orangtua, ribuan, bahkan jutaan, yang memiliki perasaan yang sama.

Dari awal, saat memasuki kelas VI, sudah tersusun jadwal kegiatan apa saja yang harus dilakukan oleh anak kelas akhir, mulai dari persiapan menghadapi UN (Ujian Nasional) dengan pelajaran tambahan, sejumlah try out plus kursus-kursus yang dilakukan di luar sekolah secara mandiri. Semua diniatkan agar lulus UN --dan ini hal yang biasa. Setiap tahun, untuk semua siswa kelas VI, sekolah ini mengagendakan hal yang serupa.

Sekolah juga sudah menjadwalkan rangkaian acara seremoni yang harus diikuti anak kelas VI, seperti persiapan performance kelas dan angkatan, sesi foto kelas yang kadang kala harus menyewa baju yang tidak murah untuk menyesuaikan tema yang ditentukan sekolah, sesi foto ijazah, kegiatan perpisahan, penyiapan bingkisan dan sebagainya yang sebetulnya hal tersebut hanyalah aksesoris agar ada yang bisa dikenang setelah berpisah nanti.

Bukan esensi dari pembelajaran, tapi sudah menjadi tradisi yang terus dilaksanakan oleh pihak sekolah. Sejujurnya saya termasuk orangtua yang kurang menyukai seremoni seperti itu, di samping masalah biaya yang menambah beban orangtua, juga karena perjalanan pendidikan anak kelas VI SD ini masih panjang. Di sekolah dasar, menurut saya, belum tepat bila dilakukan prosesi seperti itu.

Kemudian, Covid-19 mewabah di Indonesia. Dunia pendidikan harus beradaptasi dengan kebijakan dan protokol penanganan Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah. Dalam rangka memutus penularan Covid-19, kegiatan belajar mengajar disesuaikan. Aktivitas belajar mengajar dipindahkan ke rumah, dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan pendekatan dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring).

Pada awalnya kita berharap ini tidak akan lama. Hanya dua pekan sesuai yang ditetapkan pemerintah. Tapi ternyata, karena keadaan belum kunjung membaik, PJJ diperpanjang dan sudah berlangsung selama tiga bulan. Bahkan pemerintah berencana memperpanjang sampai awal 2021. Itu berarti siswa kelulusan angkatan tahun 2020 harus mengakhiri perjuangan panjangnya selama ini dengan mengikuti protokol Covid-19. Di samping tanpa UN, juga tanpa seremoni wisuda dan perpisahan berikut pernak-perniknya. Bahkan kesempatan datang ke sekolah untuk sekadar tatap muka lagi dengan teman-teman dan guru-guru mereka pun ditiadakan.

Rangkaian jadwal yang sudah dirancang sedemikian rupa semua batal dilaksanakan. Dan pada Sabtu (13/6), pengumuman kelulusan mereka dilakukan melalui media conference. Inilah angkatan "corona" yang akan tercatat dalam sejarah sebagai angkatan yang tidak biasa, angkatan yang tangguh, angkatan pejuang, karena harus melewati sebuah tantangan yang tidak hanya dipaksa harus melek teknologi, juga harus berjuang untuk tetap dapat bertahan melakukan aktivitas pembelajaran hanya dari rumah saja secara mandiri.

Saya bersyukur di tengah pandemi Covid-19 masih bisa melihat anak-anak mengikuti pelajaran jarak jauh. Pada awal-awal tidaklah mudah, baik siswa, orangtua, maupun gurunya masih gamang, bagaimana harus melaluinya; tidak ada persiapan apalagi pelatihan sebelumnya, langsung terjun. Setelah berjalan sampai tiga kali baru bisa memahami bagaimana PJJ ini harus dilakukan. Anak-anak sebagai generasi yang lahir di era gadget terlihat cukup mudah untuk beradaptasi, guru dan orangtua pun dipaksa untuk bisa menyesuaikan dengan cepat.

Namun demikian banyak juga kendala yang terjadi karena ternyata tidak semua anak bisa beradaptasi dengan cepat; tidak semua anak memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menyesuaikan diri dengan metode yang baru. Itu misalnya terjadi pada anak saya yang lain sehingga membuat kami sangat khawatir. Sempat "mogok" mulai PJJ e-learning pertama, tapi alhamdulillah di ujung masa pembelajaran bisa juga menyelesaikan tahap-tahap penilaian akhir dari sekolahnya.

Di sisi orangtua juga juga demikian. Banyak orangtua yang tidak bisa mendampingi anak-anaknya dengan baik karena keterbatasan pengetahuan, keterbatasan sarana dan prasarana seperti smartphone yang memadai, laptop, koneksi internet, bahkan ruangan yang memungkinkan untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Apalagi dalam satu keluarga yang melakukan PJJ secara bersamaan dengan saudaranya maupun dengan orangtuanya yang juga sedang dalam kondisi work from home (WFH), tentu diperlukan sikap toleransi dan saling menghargai yang tinggi dalam keluarga tersebut agar satu sama lain tidak terganggu.

Di samping itu orangtua juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk kebutuhan penunjang PPJ. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 1 Juni, terjadi peningkatan pada beberapa pengeluaran rumah tangga selama pandemi Covid-19 seperti biaya untuk pulsa/paket data meningkat sebesar 14%. Bertambah banyaknya aktivitas di rumah pada siang hari yang menggunakan aliran listrik menyebabkan kenaikan biaya listrik sebesar 3%. WFH juga mengakibatkan belanja bahan makanan meningkat 51%, belanja produk kesehatan meningkat 20% dan biaya makanan/minuman jadi meningkat 8% dari keadaan sebelumnya.

Sementara dari pihak tenaga pengajar juga tidak sedikit masalah yang dihadapi. Anggapan bahwa dengan diterapkannya PPJ guru bisa santai bahkan libur, sama sekali tidak benar. PPJ menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pengajar. Guru harus tetap berkomunikasi dengan orangtua siswa, membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan minat siswa, menyiapkan materi, memastikan persiapan untuk peserta didik, melakukan refleksi dengan peserta didik serta memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik.

Angkatan 2020 menjadi sangat istimewa karena menjadi generasi yang sudah terlatih, lebih tegar dan kuat dalam menghadapi perubahan, melek terhadap science, dan "dipaksa" menjadi lebih kreatif dan inovatif. Anak-anak kita yang ketepatan menjadi siswa "angkatan corona" bukan hanya tanpa "drama" perpisahan dari sekolahnya yang lama, tapi juga tanpa menjadi "kelinci percobaan" orientasi --yang kerap menjadi pelampiasan dendam senior-- saat memasuki sekolahnya yang baru.

Mungkin ini juga pelajaran bahwa seremoni perpisahan dan pertemuan semacam itu tidaklah penting bagi dunia pendidikan kita. Kita hanya terjebak pada tradisi sia-sia yang kita ciptakan sendiri, sampai datang pendemi yang memaksa kita berhenti. Harapan kita, semoga "angkatan corona" menjadi generasi yang kelak akan lebih memahami secara hakiki apa artinya syahdu saat bertemu, dan rindu saat tak lagi bersatu.

Sebagai catatan akhir, yang menjadi pelajaran penting, ternyata kita sebagai manusia bisa beradaptasi dengan segala kondisi. Ini menjadi bekal penting saat harus menghadapi situasi new normal yang dalam konteks Indonesia sejatinya belum ada persiapan yang memadai. Pra kondisi new normal yang disyaratkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum sepenuhnya kita jalani. Tapi, sebagai makhluk sosial yang terus bergerak, the show must go on.

New normal harus kita lalui dengan atau tanpa persiapan. Kita belum tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Satu hal yang harus kita yakini, tantangan sebesar apa pun, dengan optimisme, dan saling membantu satu sama lain, pasti akan bisa kita lalui.

Erni Juliana Al Hasanah Nasution dosen Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

(mmu/mmu)