Kolom

Menjaga Ingatan untuk Kenormalan Baru

Ahmad Munji - detikNews
Jumat, 05 Jun 2020 14:15 WIB
Sejumlah mal dan pusat perbelanjaan di Jakarta bersiap hadapi new normal. Penerapan protokol kesehatan dilakukan guna cegah penyebaran COVID-19 di ruang publik.
Pusat perbelanjaan menuju "normalisasi" (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -
Bersama dengan diterapkannya kebijakan "normalisasi" di Indonesia, perdebatan tentang apakah kita siap untuk memulai normalisasi atau apakah masih terlalu dini juga berkembang di tengah para ahli. Sementara setiap negara mengadopsi normalisasi melalui fase dan langkah yang berbeda, Presiden Joko Widodo mengambil kebijakan untuk mengawal proses normalisasi dengan melibatkan TNI dan Polri.

Banyak yang berpendapat langkah normalisasi ini tidak akan mudah. Seandainya pun berhasil itu akan memakan waktu yang lama. Setidaknya butuh enam bulan untuk menyelesaikan proses ini. Tentu saja dengan potensi masalah yang kita hadapi.

Pertama adalah fakta bahwa durasi proses normalisasi tergantung pada kepatuhan terhadap aturan dan norma baru yang muncul pascawabah. Pembatasan sosial yang berkelanjutan tampaknya merupakan bagian dari tantangan ini untuk sementara waktu, dan selama proses normalisasi kita dituntut untuk tetap disiplin mengikuti protokol kesehatan. Selain itu, fokus yang lebih besar adalah pada kebersihan pribadi, pemakaian masker dan sarung tangan harus menjadi bagian dari kehidupan kita untuk mewujudkan proses normalisasi yang lancar.

Kedua, jadwal waktu yang diproyeksikan untuk proses normalisasi ini tergantung pada tidak ada atau adanya "gelombang kedua". Sejak awal wabah, banyak ilmuwan telah memperingatkan dunia tentang potensi gelombang kedua yang mungkin terjadi di paruh kedua tahun ini. Sejarah menunjukkan bahwa apa yang membuat flu Spanyol begitu mematikan adalah gelombang kedua ini.

Dua masalah tersebut menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati untuk tidak melupakan tiga bulan terakhir yang kita habiskan dalam karantina atau isolasi diri di rumah kita. Ketidakpatuhan publik dengan langkah-langkah pembatasan sosial dapat meningkatkan laju penyebaran penyakit, dan kemunculan kembali pandemi di paruh kedua tahun ini dan dapat menghasilkan situasi yang lebih berat untuk dihadapi.

Studi tentang pandemi dan epidemi menunjukkan bahwa melupakan wabah sebelumnya adalah salah satu faktor paling signifikan yang menentukan tingginya jumlah korban. Orang cenderung mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri dari terinfeksi virus ketika wabah terjadi; namun, mereka dengan cepat melupakannya begitu gelombang epidemi telah berlalu.

Amnesia Sosial

Frank Snowden mengangkat masalah amnesia sosial dalam bukunya Epidemics and Society: From the Black Death to the Present. Dalam pengantar barunya untuk buku yang diterbitkan setelah munculnya pandemi Covid-19, Snowden menulis: "Sayangnya, seiring dengan terjadiya wabah, pola amnesia sosial selalu berulang. Setiap tantangan mikroba telah dihadapi dengan skema yang baik di setiap tingkat, internasional dan nasional, tetapi diakhiri dengan kelupaan sosial."

Menurut Snowden, interval antara epidemi SARS dan Ebola adalah contoh utama dari "amnesia sosial." Setelah krisis SARS, baik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyiapkan manual dan peta jalan yang direncanakan untuk epidemi dan pandemi di masa depan. Selama wabah SARS misalnya, ada diskusi intens tentang wabah penyakit ini dan bagaimana cara menghentikannya.

Namun, kewaspadaan dan perhatian itu ternyata berumur pendek. Segera setelah bahaya mereda, sebagian besar rencana dan peta jalan tersebut diletakkan di rak, dan tidak ada banyak tindak lanjut mengenai implementasi langkah-langkah ini. Hidup kembali ke kebiasaan-kebiasaan pra-pandemi. Menurut Snowden, apa yang membuat krisis Covid-19 begitu kritis adalah tingkat kelupaan yang sama tentang wabah setelah krisis Ebola.

Sekarang di tengah krisis Covid-19, kita telah belajar bahwa amnesia sosial yang sama dapat menimbulkan risiko tinggi bagi kehidupan manusia bahkan sebelum pandemi ini berakhir. Proses normalisasi dapat menyebabkan amnesia pada gelombang kedua Covid-19, yang akan membuka jalan bagi perpanjangan krisis dan hilangnya lebih banyak nyawa. Selama proses normalisasi, semua orang perlu menjaga ingatan mereka tetap segar tentang apa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir dan apa yang bisa terjadi di masa depan.

Ahmad Munji mahasiswa doktor di Marmara University Istanbul, Ketua Tanfidziyah PCINU Turki

(mmu/mmu)