Kolom

Sentimen Anti-Asia di Amerika

Didik Atmaja - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 15:44 WIB
Covid 19 dan sentimen terhadap orang Asia di Amerika, mereka diludahi, dipukul dan dikata-katai selama pandemi
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Membaca salah satu portal berita online, perasaan ini kemudian bercampur. Terkejut, merasa sedih, miris, namun prihatin. Betapa tidak, efek pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir hingga saat ini menyebabkan banyak masyarakat Amerika Serikat dan belahan dunia Eropa melakukan perundungan, mencemooh, pelecehan sosial hingga tindak kekerasan verbal hingga fisik terhadap warga yang memiliki latar belakang sebagai bangsa keturunan Asia.

Memang tak semua orang Asia menjadi sasaran bully. Kasus perundungan dan pelecehan sosial secara khusus memang dilayangkan pada warga etnis China. Atau paling tidak kepada orang dengan bentuk fisik orang Asia, namun bermata sipit sebagaimana ciri khas keturunan Tionghoa. Tidak peduli apakah orang itu telah lama menjadi warga AS atau Eropa. Bukan urusan pula, apakah mereka sejatinya dari Vietnam, Singapura, Korea, Taiwan, atau bahkan Indonesia. Jika bertemu warga dengan fisik ala Asia, postur tubuh pendek, dan mata kesipit-sipitan sudah barang tentu menjadi sasaran pelecehan.

Gejala "anti-Asia" yang tumbuh di AS dan negara-negara Eropa karena disebabkan faktor penyebaran Covid-19 yang juga menjangkit di negara mereka. Virus yang terus mengancam itu menjadi momok dan terus menghantui kehidupan semua warga. Ada rasa takut yang mendalam, frustrasi yang luar biasa, bebal, hingga traumatik yang amat dalam. Terlebih, ratusan ribu orang di AS tewas akibat terjangkit Covid-19. Dan fenomena itu juga parah terjadi di Italia, Spanyol, Prancis, Inggris, dan negara Eropa lainnya.

Menuju Rasis?

Sentimen warga AS terhadap ras Asia sejatinya telah mengakar sejak lama. Orang Amerika menyebut warga ras Asia sebagai "orang asing". Padahal dalam realitanya, bisa saja orang ras Asia tersebut benar-benar telah menjadi warga negara dan berkebangsaan Amerika atau Eropa. Mereka lahir dari generasi etnis Asia yang memang telah tinggal lama, turun-temurun dan regenerasi.

Label dan stereotip "orang asing" terhadap ras Asia juga tidak secara khusus ditujukan pada warga keturunan Asia yang tinggal lama di AS. Bahkan, para wisatawan asal negara-negara Asia praktis mendapatkan sebutan yang sama. Toh, keasingan mereka dengan menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam sebetulnya hanya untuk kegiatan travelling. Bisa jadi, rasisme terhadap bangsa lain yang tak serumpun memang telah mengakar lama. Termasuk terhadap warga keturunan kulit hitam (Afrika) yang acap menjadi korbannya.

Coba kita tengok kasus-kasus kematian warga kulit hitam, yang hingga saat ini menyisakan sejarah kelam. Kendati bukan Covid-19 sebagai akar masalahnya, namun rasisme sistemik Amerika terhadap kehidupan warga kulit hitam selalu berbuntut pada kriminalisasi. Kasus Jesse Washington pada 1916 menjadi bukti nyata rekayasa aparat terhadap pembunuhan Lucy Fryer kala itu.

Jesse "dipaksa" mengakui membunuh Lucy, hingga akhirnya Pengadilan Wilayah McClennan menvonis hukuman mati. Tragisnya, segerombolan massa kemudian menangkap Jesse sesaat setelah sidang. Ia ditusuk, dimutilasi, digantung hingga akhirnya dibakar oleh ribuan massa. Kematian Jesse dikenal dengan insiden "Waco Horror". Kasus serupa yang masih hangat adalah kematian George Floyd yang tewas di tangan polisi baru-baru ini.

Menyorot rasis, Amerika di bawah kepemimpinan Obama mampu membuat media sosial meningkatkan kesadaran akan ketidakadilan terhadap bangsa kulit hitam. Di bawah Obama pula bahkan tercetus gerakan Black Lives Matter, tagar yang saat ini juga digaungkan atas kematian Floyd. Sayangnya, AS di bawah Donald Trump melukiskan gejala yang bertolak-belakang dari cara-cara Obama dalam membantu warga kulit hitam untuk mendapatkan hak yang sama sebagai bangsa Amerika.

Perihal sentimen terhadap orang-orang keturunan Asia belakangan ini, bisa jadi dipicu oleh pernyataan-pernyataan pejabat negara yang memprovokasi masyarakat. Presiden Trump, misalnya, seringkali menyebut Covid-19 sebagai "Virus China", "Virus Wuhan" atau "Kung-Flu". Kendati pernyataan itu bentuk kekesalan atas penyebaran Covid-19 yang berepidemi di Wuhan, China, namun bukan sikap elok seorang pemimpin membuat pernyataan provokasi.

AS sebagai negara besar yang matang akan nilai-nilai demokrasi sudah saatnya mengakhiri diskriminasi dan sikap sentimentil sosial yang bisa berkembang menjadi rasisme. Sesungguhnya perilaku saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan dapat menciptakan efek positif di masyarakat. Dengan kata lain, mereka memerlukan kesadaran akan nilai-nilai yang ada dalam diri mereka untuk menumbuhkan sikap toleran demi terwujudnya perdamaian dari beragam perbedaan baik budaya, etnis, ras serta agama.

Kita semua kesal atas Covid-19 yang tak sekadar menyerang kesehatan, namun memporak-porandakan perekonomian. Namun tak sepatutnya warga etnis China ataupun keturunan Asia lainnya di AS dan Eropa dijadikan korban atas pandemi ini. Toleransi sebagaimana Echols dan Shadily (1976) disebutkan sebagai sikap kesabaran dan kelapangdadaan harus dihayati pada setiap warga. Bukankah warga AS dikenal memiliki wawasan yang jauh lebih?

Didik T. Atmaja alumnus Ilmu Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang

(mmu/mmu)