Kolom

George Floyd dan Mimpi King yang Belum Terwujud

Harison Ompusunggu - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 13:51 WIB
Demonstran Black Lives Matter blokir jalan ke Bandara Heathrow London. (Twitter/Black Lives Matter UK)
Demonstrasi juga terjadi di luar AS, antara lain di London (Foto: Twitter/Black Lives Matter UK)
Jakarta -

Kematian George Floyd, pria kulit hitam yang tewas di tangan Derek Chauvin, seorang polisi kulit putih di Minneapolis, AS menarik perhatian dunia. George Floyd diadukan oleh pemilik toko kelontong kepada polisi dengan tuduhan transaksi uang palsu sebesar 20 dolar. Dan Chauvin bersama tiga teman lainnya segera menangkap Floyd, memborgolnya, dan menjatuhkannya ke tanah. Lalu Chauvin menindih leher Floyd dengan lutut sekitar 8 menit hingga Floyd kesulitan bernapas --sekalipun ia telah diborgol, tidak melawan, dan tanpa senjata.

Meski Floyd sudah berkata bahwa ia tidak bisa bernapas, Chauvin tidak menggubrisnya. Dan ketika Floyd disuruh berdiri, ia sudah terlalu lemas untuk bangun. Maka ia segera dibawa ke rumah sakit. Tetapi nahas, nyawanya tak tertolong. Keempat polisi tersebut kemudian dipecat dari dinas kepolisian, dan Chauvin diseret ke penjara dengan penjagaan maksimum.

Kematian Floyd segera menuai banyak protes dan aksi demonstrasi yang merebak di sejumlah kota di Amerika Serikat bahkan hingga memakan korban jiwa. Demonstrasi juga terjadi di luar Amerika, seperti di Inggris, Belanda, Kanada, Jerman, dan Israel. Apalagi setelah melihat video ketika leher Floyd ditindih lutut Chauvin, di mana suara Floyd terdengar lirih, "Saya tidak bisa bernapas" (I Can't Breathe). Tulisan "I Can't Breathe" kemudian terpampang di poster-poster para demonstran.

Aksi protes dan demonstrasi ini semakin meluas akibat disulut oleh pernyataan Presiden Trump yang dinilai rasis. Trump menyebut para demonstran sebagai para berandalan dan bahwa kepolisian berwenang untuk menembaki mereka. Pernyataan Trump ini dipandang sebagai sebuah sikap yang lebih mengutamakan ketertiban tanpa demonstrasi ketimbang keadilan bagi George Floyd yang tewas secara tidak adil di tangan polisi. Itulah sebabnya Trump juga menjadi sasaran demonstrasi di Gedung Putih.

Para demonstran ini bukan hanya mereka yang berkulit hitam, tetapi juga yang berkulit putih, yang turut prihatin dengan diskriminasi rasial terhadap orang-orang berkulit hitam. Mereka tidak ingin seseorang diperlakukan karena warna kulitnya. Sejumlah tokoh berpengaruh juga ikut mendukung aksi protes, seperti mantan presiden Barack Obama, mantan wakil presiden Joe Biden, sekaligus capres penantang Donald Trump di pilpres November mendatang, dan mantan menlu Hillary Clinton. Ketiga tokoh tersebut mengkritik pernyataan Trump dan sikapnya yang dinilai berlebihan dalam menangani para demonstran.

Kematian Floyd bagi banyak orang bukan kematian biasa atau kematian seorang kriminal di tangan polisi. Tetapi kematian seorang warga Amerika berkulit hitam di tangan seorang polisi Amerika berkulit putih. Maknanya adalah penindasan warga kulit hitam oleh warga kulit putih. Dengan kata lain diskrimanasi rasial terhadap warga kulit hitam. Memang sulit untuk tidak mengaitkan kematian Floyd ini dengan sentimen rasial. Sulit dipercaya bahwa Floyd akan menemui ajalnya di tangan Chauvin andai saja Floyd warga berkulit putih. Wali Kota Minneapolis sendiri, Jacob Frey, yang bukan kulit hitam, menegaskan bahwa kematian Floyd disebabkan oleh sentimen ras.

Dan hal seperti ini bukan terjadi baru kali ini saja. Banyak warga kulit hitam yang tewas sia-sia di tangan polisi. Menurut surat kabar Washington Post, pada 2019 saja ada 1.014 warga sipil yang tewas di tangan polisi, di mana dua pertiga di antaranya adalah kulit hitam.

Sejarah Panjang

Diskriminasi rasial di AS memiliki sejarah panjang yang kelam. Hal tersebut sudah berlangsung sangat lama, bahkan sejak zaman kolonial Inggris, sebelum Republik Amerika Serikat merdeka.

Diskriminasi rasial di AS bermula dari sistem perbudakan, yang menurut sejarawan David Brion Davis terjadi pertama kali pada zaman kolonisasi Inggris di Virginia pada 1607. Orang-orang kulit hitam dari Afrika umumnya menjadi budak bagi orang-orang kulit putih dari Eropa, meskipun ada juga kulit hitam yang memperbudak sesama kulit hitam. Para budak ini umumnya dipekerjakan di perkebunan-perkebunan khususnya di bagian selatan Amerika yang dikenal sebagai lumbung pertanian/perkebunan. Dengan sistem perbudakan ini maka orang kulit hitam yang menjadi budak sudah dipandang inferior terhadap kulit putih.

Perbudakan terus berlanjut, bahkan secara legal, setelah Amerika Serikat merdeka pada 1776. Sistem perbudakan ini baru secara resmi dihapus pada masa Presiden Abraham Lincoln, usai perang saudara yang dimenangi pihak anti perbudakan pimpinan Lincoln pada 1865. Sebelumnya terjadi perang saudara di AS antara negara Federal yang anti perbudakan, yang sebagian besar terdiri dari negara bagian-negara bagian di utara AS dengan pihak Konfederasi yang pro perbudakan yang sebagian besar terdiri dari negara bagian-negara bagian di selatan AS. Perang tersebut terjadi selama empat tahun dan memakan korban jiwa lebih dari 500 ribu orang.

Meski demikian, dalam perjalanan selanjutnya diskriminasi rasial masih terus terjadi di Amerika. Bahkan melahirkan para rasis yang lebih radikal. Hal ini misalnya tampak dalam kelompok Ku Klux Klan (KKK) yang lahir pada 1865 dan masih eksis hingga kini walau secara rahasia dan dalam jumlah yang lebih kecil.

KKK adalah kelompok radikal yang mengagungkan supremasi kulit putih Protestan atas warga Amerika lainnya. Sasaran utama mereka adalah kulit hitam, meski mereka juga membenci kelompok lain, seperti para imigran, Yahudi, dan Katolik. Mereka bahkan tidak segan untuk membunuh orang-orang kulit hitam. Selain itu, KKK juga mengajarkan anak-anak mereka sejak kecil untuk membenci orang-orang kulit hitam. Kisah kejam KKK dalam menghabisi musuhnya terdokumentasi dengan baik lewat film berjudul Mississippi Burning. Satu ucapan terkenal di film itu yang sering dikutip adalah: "Kebencian tidak dilahirkan tetapi diajarkan."

Sejumlah Aktivis

Diskriminasi rasial yang masih terus terjadi di Amerika Serikat melahirkan sejumlah aktivis yang memperjuangkan hak-hak sipil kulit hitam, khususnya pada abad ke-20. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Martin Luther King Jr, mungkin tokoh anti diskriminasi paling berpengaruh setelah era Abraham Lincoln.

Pada masanya diskriminasi terhadap kulit hitam dilegalkan lewat segregasi, khususnya di beberapa negara bagian, di bagian selatan AS. Ada pemisahan antara warga kulit putih dengan warga kulit hitam di sekolah, di dalam bus, di toilet, dan di tempat-tempat umum lainnya. Selain itu akses politik dan ekonomi warga kulit hitam sangat dibatasi, seperti tidak diikutkan dalam pemilu.

Martin Luther King Jr, di usianya yang masih muda memiliki karisma dan kemampuan yang luar biasa dalam berorasi, memimpin organisasi, dan menggerakkan massa. King, selain seorang pejuang hak-hak sipil, juga seorang pendeta gereja Baptis, yang meraih gelar doktor teologi dari Boston University pada usia 26 tahun. King melakukan perlawanan terhadap diskriminasi rasial secara damai, terinspirasi dari cara yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi di India. Karena caranya ini, banyak di antara pengikutnya yang meninggalkannya; mereka menginginkan cara-cara yang lebih keras. Bahkan Malcolm X, aktivis kulit hitam berpengaruh tetapi berhaluan keras, mencela cara berjuang King.

King mulai populer ketika memimpin perlawanan di Montgomery yang dikenal sebagai "Pemboikotan Bus Montgomery" pada 1955-1956. Peristiwa itu diawali oleh insiden ketika Rosa Parks, seorang perempuan kulit hitam, dihukum karena tidak memberikan tempat duduknya di dalam bus kepada seorang penumpang kulit putih. Hal ini sesuai dengan hukum segregasi dalam angkutan umum di negara bagian Alabama. Tetapi, sebagai hasil aksi pemboikotan bus di Montgomery selama setahun, negara federal Amerika Serikat akhirnya menetapkan bahwa aturan segregasi di Alabama tersebut sebagai inkonstitusional.

King kemudian menjadi pemimpin pertama dari The Southern Christian Leadership Conference (SCLC), sebuah organisasi hak-hak sipil kulit hitam Amerika, dan memimpin perjuangan melawan segregasi di Albany, Georgia pada 1962. King juga membantu mengorganisasi sebuah aksi tanpa kekerasan di Birmingham, Alabama pada 1963, yang mengakibatkan ia sempat dipenjarakan.

Puncak aksi King yang membuat namanya dikenang adalah ketika ia, bersama sejumlah sejawatnya, memimpin pawai bersejarah di Washington, DC, pada 28 Agustus 1963. Pada saat itu, di hadapan 250 ribu massa yang memadati Lincoln Memorial, King menyampaikan pidatonya yang terkenal, "I have a dream." Pidato King, yang oleh Encyclopaedia Britannica dianggap sebagai salah satu pidato paling ikonik dalam sejarah Amerika, bertemakan pentingnya kesetaraan dan penghapusan diskriminasi rasial di AS. Pidato yang disampaikan King di usianya yang ke-34 tersebut hanya berdurasi 17 menit, tetapi punya makna yang sangat dalam.

Pidato King menarik bukan hanya karena cara penyampaiannya yang memukau, tetapi juga karena isinya yang luar biasa, yang merupakan mimpi dan cita-cita besar King bagi masa depan bangsanya. Atas pidatonya tersebut dan atas kepemimpinannya dalam pawai damai di Washington DC, King menjadi Person of the Year Majalah Time 1963 serta meraih hadiah Nobel Perdamaian 1964.

Sebagian isi pidato King tersebut berbunyi:

Saya bermimpi bahwa suatu hari bangsa ini akan bangkit dan menghayati makna sebenarnya dari pengakuan: Kami menganggap kebenaran ini terbukti sendiri: bahwa semua manusia diciptakan setara."

Saya bermimpi bahwa suatu hari di bukit merah Georgia, putra-putra mantan budak dan putra-putra mantan pemilik budak akan dapat duduk bersama di meja persaudaraan.

Saya bermimpi bahwa suatu hari nanti bahkan negara bagian Mississippi, negara yang terik dengan panasnya ketidakadilan, yang terik dengan panasnya penindasan, akan diubah menjadi sebuah oasis kebebasan dan keadilan.

Saya bermimpi bahwa empat anak kecil saya, suatu hari akan hidup di sebuah negara di mana mereka tidak akan dihakimi oleh warna kulit mereka tetapi oleh isi karakter mereka.

Saya bermimpi bahwa suatu hari di Alabama, dengan para rasis yang kejam, dengan gubernur yang bibirnya meneteskan kata-kata interposisi dan pembatalan; suatu hari nanti di Alabama, laki-laki kecil dan perempuan kecil kulit hitam akan dapat bergandengan tangan dengan laki-laki kecil dan perempuan kecil kulit putih sebagai saudara perempuan dan laki-laki.

Setelah melakukan sejumlah aksi lain terkait diskriminasi rasial, Martin Luther King kemudian dibunuh di Memphis, Tennessee, pada 4 April 1968. King ditembak mati oleh James Earl Ray di balkon motel tempat ia menginap. King meninggal pada usia yang cukup muda, 39 tahun.

Terus Berlanjut

Mimpi King sebagian sudah terwujud pada masa hidupnya. Sebab Presiden John Kennedy kemudian mengundang para pemimpin Pawai Washington ke Gedung Putih untuk berdiskusi tentang hak-hak sipil warga kulit hitam. Sebagian hasil diskusi ini kemudian tertuang dalam Undang-Undang Hak Sipil 1964, yang berisi hak-hak sipil dan hukum perburuhan di Amerika Serikat tanpa adanya diskriminasi ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal negara.

Dan setelah kematiannya, mimpi King lebih banyak lagi yang terwujud. Salah satunya, bahkan yang mungkin melebihi mimpi King, adalah naiknya Barack Obama ke tampuk kepemimpinan politik dan menjadikannya sebagai presiden keturunan kulit hitam pertama di Amerika Serikat. Hal ini terwujud lebih dari 50 tahun setelah pidato King tentang mimpinya bagi Amerika yang tanpa diskriminasi.

Kendati demikian, diskriminasi rasial masih terus berlanjut di AS. Orang kulit hitam masih sering diperlakukan secara berbeda. Bahkan pada masa kepresidenan Obama sendiri, yang notabene keturunan kulit hitam, warga kulit hitam masih sering diperlakukan secara tidak adil. Demikian juga hingga saat ini. Kisah kematian George Floyd yang baru saja terjadi serta sikap rasis Trump dalam menanggapi aksi protes kematian Floyd adalah contoh nyata dari hal tersebut. Dan boleh jadi diskriminasi seperti ini masih akan terus membayangi Amerika.

Mimpi Martin Luther King belum sepenuhnya terwujud. Dan mimpi King akan terus tinggal mimpi jika orang-orang kulit putih Amerika belum mau menerima sepenuhnya orang-orang kulit hitam; dan jika para pemimpin rasis seperti Trump masih terus berkuasa di negara adidaya tersebut.

(mmu/mmu)