Kolom

Realitas yang Diimajinasikan Pasca-Pandemi

Liseh - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 13:34 WIB
Pemerintah menyiapkan langkah menerapkan new normal di tengah pandemi Corona. Warga diimbau memakai masker hingga rajin cuci tangan di kehidupan normal baru.
New normal segera diterapkan (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Lebaran kali ini menjadi berbeda. Covid-19 telah merombak seluruh tatanan kehidupan. Momen mudik setahun sekali yang dulunya dinanti dengan suka cita, tahun ini berubah menjadi drama kejar-kejaran. Bagaimana tidak, kebijakan pemerintah yang berubah-ubah seolah menjadi bumerang. Belum selesai publik dibingungkan antara frasa "pulang kampung" dan "mudik", muncul lagi frasa "perang melawan Covid-19" atau "berdamai dengan Covid-19".

Mudik dan lebaran memang sulit dipisahkan, ibarat tali pusar yang selalu terikat dengan tanah kelahiran. Memutusnya sama dengan mengiris urat nadi, sakitnya tak kepalang perih. Perubahan kebijakan yang terlihat kurang harmonis antara pusat dan daerah menambah kebingungan masyarakat. Satu sisi pemerintah menyerukan untuk tidak mudik, namun moda transportasi tetap dibuka. Seperti di Bodetabek yang mengusulkan penghentian KRL, namun Menhub menentang.

Maka khalayak semakin bingung tak kepalang tanggung, apakah pemerintah tetap memberlakukan larangan mudik atau melonggarkannya? Sehingga mobilitas besar-besaran tetap terjadi, kerumunan tak terhindarkan, akhir Ramadhan kemarin publik dikejutkan dengan temuan hampir seribu kasus positif baru dalam sehari.

Memang, krisis ini masih dalam tahap pengenalan dan trial and error kebijakan. SARS CoV-2 merupakan jenis virus baru. Awalnya ahli menduga gejalanya meliputi batuk kering, flu, dan sesak napas. Sehingga pemerintah menganjurkan memakai masker yang sakit saja, yang sehat tidak perlu. Saat ditemukan penderita positif namun tidak menunjukkan gejala atau OTG (Orang Tanpa Gejala), pemerintah mengharuskan semua pakai masker.

Ketika kasus positif dan korban meninggal semakin melonjak, PSBB menjadi pilihan. Perubahan terus-menerus dan cepat ini melahirkan kritikan dari masyarakat yang panik dan menilai pemerintah inkonsisten. Secara fitrah, manusia memang tidak siap menerima situasi yang penuh ketidakpastian ditambah lagi kebijakan yang berubah dengan cepat. Namun, jika ingin survive kita harus siap beradaptasi, meskipun dipaksakan. Sebab perubahan yang menjadi keharusan akan melahirkan pembiasaan.

Begitu beberapa mulai menerapkan, banyak lainnya akan ikut terbiasa, membentuk pengikut setia yang disepakati sebagai kebiasaan. Sehingga akan diterima menjadi kultur atau budaya baru, lalu menjadi kebutuhan dan tak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Inilah yang disebut the new normal. Atau jika meminjam istilah Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens, inilah sebuah tatanan realitas yang diimajinasikan.

Rahasia kesuksesan Homo sapien adalah kemampuannya beradaptasi dengan habitat asing, menciptakan perubahan sosial, dan teknologi baru yang dipelihara dengan kekerasan (otoritas militer). Sehingga tatanan baru ini akan terjaga dalam kepala manusia bahwa Covid-19 mematikan. Perilaku hidup bersih dan sehat akan menjadi keniscayaan. Tidak menutup kemungkinan pula pembatasan sosial saat ini akan menjadi kebiasaan.

Covid-19 yang awalnya pendatang dapat saja menjadi penghuni tetap selayaknya kita terbiasa hidup di tengah penyakit menular lainnya seperti TBC, influenza, campak, dan lain-lain. Ketika kolera mewabah karena sanitasi yang buruk, kini punya jamban dan septic tank adalah hal yang biasa. Pandemi pes atau black death yang menghantui Eropa pada abad ke-14 ditengarai sebagai faktor kunci berakhirnya feodalisme, mengubur struktur sosial Eropa yang mengakar berabad-abad.

Begitu pula pada 1918 saat Flu Spanyol berhasil menginfeksi 500 juta orang dan menewaskan sedikitnya 50 juta orang, negara seluruh dunia mulai membangun proteksi kesehatan masyarakatnya atau universal health care, seperti asuransi BPJS di Indonesia. Kiranya, Covid-19 juga akan mengambil peran sebagai faktor kunci sebuah tatanan realitas baru. Seolah Covid-19 sedang menantang penguasa untuk berani berpihak pada kesejahteraan rakyat banyak; seberapa cakap kepemimpinannya memproteksi negara dari serangan pandemi, meminimalisasi korban jiwa, dan menarik diri dari jurang keterpurukan perekonomian.

Dengan semangat kemenangan Idul Fitrih ini semoga Bangsa Indonesia senantiasa menjaga optimismenya. Kita sebagai bagian dari masyarakat dunia wajib mengambil peran aktif untuk memutus rantai penularan. Pemerintah harus mengambil langkah berani untuk membenahi sistem layanan kesehatan dan kesejahteraan sosial masyarakatnya. Pasalnya, Indonesia sempat memiliki rapor merah sebagai negara dengan pengujian tes Covid-19 terendah setelah Ethiopia.

Data per 7/4, baru 13.186 pengujian dari total 270 juta penduduknya. Angka mortalitas kematian sempat lebih dari 9 persen, sementara rata-rata dunia di bawah 5 persen. Faktor fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang belum mencukupi menjadi sorotan. Rasio rumah sakit (RS) di Indonesia juga masih rendah, yaitu 1,04 RS/1000 orang. Sementara rasio RS terbaik dipegang oleh Jepang dengan 13,4/1000 orang. Jumlah dokter pun masih jauh dari standar. Rasio dokter dan pasien di Indonesia 1:6.250 dan 60 persen berdomisili di Jawa, sementara rekomendasi WHO adalah 1:600.

Masih rendahnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis membuat pandemi ini sulit ditangani dengan baik. Ditambah lagi larangan berkerumun dan bepergian tidak diindahkan saat memasuki Ramadhan dan Lebaran ini. Tagar "Indonesia Terserah" di media sosial menjadi ekspresi kekecewaan tenaga medis, garda terdepan yang minus senjata. Jika Lebaran adalah momen kebersamaan yang sudah mendarah daging dalam kultur masyarakat Indonesia, maka pandemi ini harusnya juga dapat memanggil kepedulian seluruh elemen masyarakat untuk turut serta mengakhiri pandemi. Sebab kunci pengendalian Covid-19 adalah kedisiplinan kolektif.

Liseh alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya

(mmu/mmu)