Kolom

Distribusi Informasi di Masa Pandemi

Gading Ekapuja Aurizki - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 11:34 WIB
WhatsApp dan YouTube Batasi Peredaran Informasi Tidak Benar Soal Virus Corona
Foto: ABC Australia
Jakarta -

"Ibuku mendapat gelar Doktor Virus Corona dari Universitas WhatsApp," begitu bunyi sebuah meme yang beredar di media sosial selama masa pandemi. Meme tersebut merupakan guyonan sekaligus sindiran halus untuk orang yang merasa mengetahui segala hal tentang Coronavirus disease 2019 (Covid-19) hanya dengan membaca berita atau artikel di media. Mengapa mereka ada, apa dampaknya, dan bagaimana kita menyikapinya di tengah situasi pandemi?

Tidak Terbendung

Fenomena di atas bisa disebut efek Dunning-Krugger, yakni kecenderungan orang awam untuk menilai terlalu tinggi apa yang dia ketahui tanpa disertai kemampuan mengenali yang tidak dia ketahui. Akibatnya, dia tidak tahu kalau pengetahuannya masih sangat terbatas. Keberadaan "Doktor Virus Corona" dadakan seperti itu tidak lepas dari persebaran informasi tentang situasi pandemi yang semakin tidak terbendung.

Di era teknologi informasi seperti sekarang, hampir tidak ada jarak antara terjadinya sebuah peristiwa dengan berita yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Saya yang tinggal di Manchester, Inggris bisa langsung tahu secara real time apa yang terjadi di sebuah klinik di Surabaya tempat istri saya bekerja sebagai dokter gigi. Begitu pun dengan orang lain yang bisa mengakses setiap informasi yang beredar hanya dari layar gawai mereka.

Pemberitaan Covid-19 yang semakin masif membuat beberapa istilah yang selama ini hanya akrab di kalangan para ahli mulai dikenali orang awam. Sebagai contoh, masyarakat mulai ramai menggunakan kata lockdown setelah China dan Italia menerapkannya sebagai strategi untuk memutus mata rantai penularan virus. Begitu juga dengan beberapa kata lain yang semakin populer seperti karantina, isolasi mandiri, rapid testing, chloroquine, case fatality rate, sampai herd immunity.

Tanpa memandang profesi, pendidikan, dan status sosial, setiap orang tidak mau ketinggalan untuk berpendapat; kebanyakan berdasarkan pemahaman dari media. Dalam proses pengungkapan pendapat tersebut, tidak jarang terjadi diskusi hangat hingga perdebatan sengit.

Di satu sisi, dialektika seperti ini baik untuk membangun pengetahuan kolektif kita sebagai sebuah bangsa, bahkan ras manusia. Namun, arus informasi yang tidak terkontrol bisa membuat masyarakat kesulitan menyaring mana yang mencerahkan dan mana yang justru menyesatkan.

Sains yang Buruk

Di tengah situasi pandemi, wajar jika masyarakat ingin tahu apa itu Covid-19, bagaimana penularan, pencegahannya, respons pemerintah, serta informasi lain yang dianggap relevan lewat kanal-kanal informasi yang mereka miliki.

Dulu sebelum ilmu pengetahuan berkembang, orang menganggap wabah sebagai manifestasi dari kemarahan dewa-dewa, sehingga penanganannya harus dengan mengirim sesajen, pengorbanan, dan hal-hal mistis lainnya. Seiring perkembangan zaman, orang mulai terbuka dengan ilmu pengetahuan atau sains. Meskipun masih ada masyarakat yang percaya takhayul, sebagian besar lebih percaya argumentasi ilmiah.

Sayangnya, ekspektasi dan antusiasme yang tinggi terhadap sains seringkali tidak dibarengi dengan sikap kritis dan minat baca yang tinggi. Ada kecenderungan masyarakat untuk "asal comot" informasi, atau dalam dunia akademik disebut cherry-picking.

Cherry-picking dapat menyebabkan distorsi pengetahuan karena adanya bias dalam pemilihan sumber informasi. Hal ini dapat membuat orang terjebak pada sains yang buruk (bad science), meminjam istilah Ben Goldacre, atau sains semu (pseudoscience). Baik bad science maupun pseudoscience adalah informasi yang terdengar ilmiah tapi sebenarnya bukan, atau memiliki landasan ilmiah tapi diinterpretasikan secara serampangan.

Selama masa pandemi, banyak sekali informasi dan analisis yang terdengar ilmiah berseliweran. Sebagian masyarakat bahkan percaya. Beberapa contohnya adalah interpretasi case fatality rate (CFR) yang rendah, klaim ramuan tradisional sebagai pencegah Covid-19, sampai wacana strategi herd immunity.

Dengan CFR yang rendah, Covid-19 dianggap tidak berbahaya, bahkan ada yang menyamakannya dengan flu biasa. Namun, alih-alih mirip flu biasa, Covid-19 justru dikhawatirkan berdampak seperti pandemi flu 1918 yang menelan sekitar 17-50 juta jiwa di seluruh dunia karena penyebarannya yang sangat cepat.

Selain itu, ketika wabah Covid-19 belum terdeteksi di Indonesia, muncul pandangan bahwa orang Indonesia kebal virus corona karena diet yang banyak mengandung rempah-rempah. Beberapa peneliti bahkan memanfaatkan momen tersebut untuk mempromosikan temuan mereka soal bahan yang bisa menangkal virus corona dengan meningkatkan sistem imun (immunostimulan).

Namun, sejauh ini belum ada publikasi soal hasil pengujian bahan tersebut spesifik untuk pasien Covid-19, serta seberapa besar efek yang ditimbulkannya jika dibandingkan dengan bahan lain yang sudah ada. Jadi, klaim tersebut baru sebatas klaim.

Selain CFR dan bahan penangkal Covid-19, banyak masyarakat yang terperangkap wacana herd immunity atau imunitas kelompok. Wacana ini bermula dari Pemerintah Inggris yang ingin mencoba herd immunity dengan tidak segera menetapkan lockdown agar masyarakat lebih kuat menghadapi wabah serupa di masa depan.

Banyak yang mengkritik wacana itu karena dianggap membahayakan. Akhirnya Pemerintah Inggris mengakui kalau keputusan itu sangat berisiko dan bisa memakan banyak korban. Setelah Inggris batal, entah bagaimana ceritanya wacana tersebut menyebar di Indonesia dan dianggap sebagai alternatif untuk menangani pandemi Covid-19.

Sangat Dinamis

Di era teknologi informasi seperti sekarang, sebagian besar masyarakat sudah mentas dari takhayul. Sehingga tidak terlihat pertentangan antara sains dan pandangan mistis selama masa pandemi. Yang mengkhawatirkan saat ini justru bad science atau pseudoscience.

Dalam konteks pandemi Covid-19, interpretasi case fatality rate yang rendah, maupun istilah immunostimulan dan herd immunity memang memiliki landasan dalam sains. Namun, ketika dibaca secara parsial atau diletakkan dalam konteks yang tidak tepat, pengetahuan tersebut bisa menyesatkan.

Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise menulis bahwa seseorang tidak akan bisa menjadi pakar hanya dengan banyak membaca. Tanpa memiliki metode analisis yang tepat, orang awam tidak akan mampu memproses informasi menjadi pengetahuan. Itulah mengapa, setiap informasi yang beredar harus bersumber dari pakar di bidangnya.

Covid-19 adalah penyakit baru yang pengetahuan tentangnya masih terbatas. Bahkan dalam beberapa aspek masih ada perbedaan di antara para pakar. Hal itu membuat informasi yang beredar di masyarakat akan sangat dinamis. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus update dengan informasi terbaru dari sumber terpercaya, serta melakukan crosscheck ke sumber lain sebelum mengambil kesimpulan.

Gading Ekapuja Aurizki mahasiswa Master Advanced Leadership for Professional Practice (Nursing) The University of Manchester, Inggris; staf Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Surabaya

(mmu/mmu)