Kolom

Indonesia-Tiongkok: Harapan di Tengah Kecemasan

Lukmanul Khakim - detikNews
Jumat, 27 Mar 2020 14:50 WIB
DPP PKB segera menggelar Muktamar di Bali. Wasekjen PKB Lukmanul Khakim ditunjuk menjadi ketua panitia forum musyawarah tertinggi PKB itu.
Foto: dok. PKB
Jakarta -

Pandemi Covid-19 terus meluas. Virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina, pada akhir 2019 itu telah menyerang 198 negara (26 Maret). Di Indonesia per Maret 2020, jumlah orang yang terkena virus powerful ini kian bertambah: 790 kasus atau bertambah 105 orang dari hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 31 orang telah dinyatakan sembuh dan 58 lainnya meninggal.

Melihat meluasnya wabah virus corona ke antero dunia ini, ditambah melemahnya pertumbuhan ekonomi global, sejumlah pengamat ekonomi memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan mengalami defisit sepanjang tahun 2020 ini. Defisit neraca perdagangan itu sudah tampak pada Januari 2020. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) defisit perdagangan Indonesia pada bulan itu tercatat US$ 870 juta. Defisit tersebut disebabkan posisi neraca ekspor sebesar US$ 13,41 miliar, lebih rendah dari neraca impor yang mencapai US$ 14,28 miliar.

Data tersebut menunjukkan pula bahwa, ekspor nonmigas per Januari 2020 mencapai US$ 12,61 miliar atau turun 5,33 % dibandingkan Desember 2019. Jika mengacu pada periode yang sama tahun lalu, ekspor Januari 2020 turun sebesar 0,69 %. Sementara nilai impor Indonesia juga turun 1,6 % dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 14,51 miliar, pada periode yang sama, tahun sebelumnya Januari 2019, nilainya mencapai US$ 14,99 miliar, atau turun 4,78 %.

Indonesia tentu bukan perkecualian. Pada awal 2020 ekspor beberapa negara juga mengalami penurunan dibanding Januari 2019, di antaranya Brazil (20,2 %), Chile (0,7 %), Korea Selatan (6,1 %), Taiwan ( 7,6 %) dan Vietnam (5,9 %). Sedangkan impor di negaranegara tersebut juga mengalami penurunan dibanding Januari 2019, yakni Brazil (1,3 %), Chile (2,9 %), Korea Selatan (5,3 %),Taiwan (17,7 %),Vietnam (2,6 %).

Namun, di sela-sela ketidakpastian kapan pandemi corona akan berakhir dan prediksi yang suram tentang defisit neraca perdagangan RI sepanjang tahun 2020, pada Februari lalu neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus sebesar US$ 2,5 miliar. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia pada Februari 2020 tercatat US$ 13,9 miliar, meningkat 2,24 % dibanding bulan sebelumnya.

Peningkatan ini berkat naiknya ekspor nonmigas senilai 2,38 % dari Januari, atau 11 % dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2019. Sementara itu, impor menurun sampai 18,69% dibandingkan Januari 2020 menjadi US$ 11,6 miliar. Penurunan juga terjadi jika dibandingkan dengan Februari 2019 yang sebesar 5,1 dari US$ 12,2 miliar.

Apakah neraca perdagangan RI akan mengalami surplus seperti pada Februari di bulan bulan berikutnya? Melihat ketidakpastian kapan corona akan berakhir dan melambatnya perekonomian global, para ekonom memang telah memprediksi bahwa neraca perdagangan Indonesia akan mengalami defisit sepanjang tahun ini. Namun demikian, melihat surplus neraca perdagangan kita pada februari lalu, cukup beralasan bagi kita untuk bersikap optimistis.

Dampak Virus Corona dan Respon Negara Lain

Harus diakui, akibat virus corona Tiongkok akan mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi dari 5 sampai 0,5 % pada tahun ini. Padahal PDB negeri tirai bambu ini pada 2019 sudah mencapai US$ 14,6 triliun. Wuhan sendiri, yang kini praktis lumpuh, merupakan hub atau pusat kegiatan indusstri Tiongkok: 300 dari 500 perusahaan top dunia terdapat di sini.

Kini perusahaa-perusahaan multinasional, mulai dari perusahaan otomotif sampai makanan, telah menutup kantor dan pabriknya di Tiongkok. Betapapun, negeri berpenduduk paling besar di dunia itu merupakan satu dari tiga negara central dari Global Value Chain dunia selain Amerika Serikat dan Jerman. Maka, penghentian aktivitas produksi beberapa perusahaan multinasional yang berbasis di Tiongkok akan berdampak pada penghentian produksi dan perdagangan di negara yang terhubung dalam rantai produksi global tersebut.

Dampak penyebaran Covid-19 juga menyebabkan terhentinya aktivitas industri orientasi ekspor negaranegara lain. Contoh, pabrik perakitan mobil Nissan di Fukuoka, Jepang, untuk tujuan ekspor telah menyatakan akan memberhentikan produksi dikarenakan pasokan autoparts yang tidak mencukupi.

Selain itu, terhentinya industri elektronik dan semi konduktor di Filipina akibat kurangnya pasokan bahan baku dari Tiongkok. Sedangkan Hyundai motor company telah menangguhkan produksinya akibat tidak tersedianya bahan baku suku cadang yang selama ini berasal dari negeri tersebut. Ketergantungan kepada Tiongkok diperkirakan akan menurunkan ekspor manufaktur Korea Selatan.

Disisi lain, penyebaran virus corona memberikan potensi tersendiri bagi negara lain. Sebagai contoh, pembeli global yang sebelumnya membeli barang Tiongkok mengalihkan permintaannya ke India untuk produk keramik, peralatan rumah tanggga, barang-barang fashion dan gaya hidup, tekstil, barang-barang teknik dan furniture. Produsen dan eksportir barang-barang tersebut menerima peningkatan inquiry dari Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menggantikan Tiongkok sebagai pemasok. Beberapa negara seperti Vietnam dan Chile telah menginisiasikan diversifikasi ekspor dengan mencari pasar alternatif tujuan ekspor.

Vietnam bahkan telah menginstruksikan para perwakilan perdagangannya untuk aktif melakukan promosi dagang ke Amerika Serikat, Jepang, Brasil dan negara lainnya. Chile, misalnya, telah mengalihkan barang-barang ekspor yang sudah sampai atau dalam perjalanan ke Tiongkok untuk diusahakan dialihkan ke negara-negara lain seperti Timur Tengah dengan Dubai sebagai hub, serta negara-negara Afrika(Maroko, Tunisia, Mesir).

Tindakan serupa juga dilakukan oleh Jerman. Negara ini kehilangan sekitar 40% pasar VW dan 30 % pasar BMW ada di Tiongkok. Selain itu, industri kimia Jerman yang memiliki pabrik di Tiongkok, seperti BASF dan Evonik menghentikan produksiknya sementara. Sebelumnya pada November 2019 seperempat perusahaan Jerman yang berinvestasi di Tiongkok (total berjumlah 526 perusahaan) sudah merencanakan untuk mengalihkan investasinya ke tempat lain.

Mereka akan melakukan relokasi sebagian pabrik dan/atau rantai pasok bagi industrinya ke negara lain seperti India dan Asia Tenggara. Adapun untuk rantai pasok pada sektor pertanian dan perkebunan, pelaku usaha Jerman saat ini lebih fokus untuk pasar baru di Afrika dan Amerika Latin

Bagaimana Indonesia?

Tiongkok merupakan mitra dagang penting bagi Indoneia. Pada 2018, negara tersebut menempati urutan ke-1 sebagai negara tujuan ekspor dengan pangsa sebesar 16,6% dari total ekspor Indonesia. Sedangkan Indonesia menempati urutan ke-16 sebagai negara tujuan ekspor Tiongkok dengan pangsa sebesar 1,7 % dari total ekspor negeri itu. Sedangkan Tahun lalu total nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok mencapai US$ 72,82 miliar. Untuk meningkatkan hubungan perdagangan dengan negeri itu, Indonesia memiliki dua perwakilan perdagangan, yaitu Atase Perdagangan Beijing dan (IndonesiaTrade Promotion Center (ITPC) Shanghai.

Namun, menyusul kasus virus corona, pada 26 Januari 2020, pemerinta Tiongkok mengeluarkan pengumuman resmi pelarangan sementara perdagangan satwa liar. Pelarangan ini mencakup seluruh platform perdagangan, baik offline maupun online. Hal ini tentu saja berdampak terhadap terhadap terganggunya ekspor hewan ke negeri itu. Padahal potensinya cukup besar. Pada 2019, hewan yang diekspor Indonesia (termasuk ular dan kura-kura) ke Tiongkok meningkat secara signifikan yaitu 32 %.

Sejak penyebaran wabah Virus Corona terjadi, harga komoditas mengalami penurunan, seperti nikel dan aluminium. Ekspor komoditas masih menjadi andalan Indonesia, sehingga kemungkinan ekspor komoditas nikel dan aluminium yang berkontribusi cukup besar dari ekspor Indonesia ke Tiongkok akan terganggu. Pada 2019, ekspor kedua komoditas ini mengalami peningkatan cukup signifikan, masing-masing 147,7 % dan 77,1 %.

Mensikapi hal ini, tentunya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan, perlu terus melakukan langkah langkah agar kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Pertama, Kementerian Perdagangan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, khususnya dengan KBRI di Beijing dan Konjen di Shanghai dalam memantau perkembangan dampak Covid-19 terhadap kinerja perdagangan Indonesia -Tiongkok. Hal ini penting mengingat negara itu merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Kedua, meminta perwakilan perdagangan di luarnegeri dalam waktu 1-3 bulan ntuk melaporkan perkembangan kebijakan/langkah yang dilakukan negara mitra dagang dalam mengantisipasi dampak virus corona terhadap ekspoimpor, dan memonitor kinerja perdagangan di negara akreditasi dengan mitradagangnya, terutama dengan Tiongkok dan Indonesia. Ketiga, Kementerian Perdagangan memastikan tidak ada larangan impor produk Tiongkok, selain larangan sementara impor binatang hidup.

Keempat, meminta kepada para eksportir yang selama ini bertransaksi dengan pihak Tiongkok untuk mulai mencari pasar alternatif agar kinerja ekspor tetap terjaga. Sedangkan kepada Importir yang selama ini mengimpor bahan baku/bahan penolong dan barang modal dari Tiongkok juga diharapkan segera mencari sumber alternatif lainnya agar produksi tetap berjalan.

Akhirnya, dengan menjaga kedispilinan dalam melaksanakan protokol pencegahan virus corona serta menerapkan pola hidup sehat, kita berharap pandemi yang mecemaskan umat manusia sejagat ini akan segera berakhir.


Lukmanul Khakim, Ketua DPP PKB Bidang Perdagangan dan Perindustrian

(ega/ega)