Kolom

Politik Empon-Empon

Adhita Sri Prabakusuma - detikNews
Jumat, 27 Mar 2020 13:16 WIB
Seorang penjual jamu di Pasar Beringharjo membuat racikan jamu yang diberi nama empon-empon corona. Satu bungkus empon-empon corona itu dijual seharga Rp 10 ribu
Foto: Jauh Hari Wawan S
Jakarta -

Empon-empon sedang naik daun di Whatsapp Group akhir-akhir ini. Banyak orang dari berbagai latar belakang mendiskusikannya dengan hangat. Tentu saja sehangat kenaikan keuntungan dari permintaan empon-empon yang diraup oleh pelaku UMKM. Harga berlipat tiga hingga lima kali dari hari-hari biasanya.

Para driver ojek online, pedagang sayur, ibu rumah tangga, dosen dari berbagai kampus, hingga Presiden pun turut membahasnya. Salah satu sisi positif dari pandemik Covid-19 ini, bertambah pengetahuan ilmiah sekaligus membantu meramaikan dagangan masyarakat kecil.

Awal Cerita

Cerita ini berawal dari testimoni Profesor Chairul Anwar Nidom dari Universitas Airlangga yang menyebutkan bahwa formulasi jahe, kunyit, temulawak, sereh, dan bahan-bahan herbal lainnya dapat menangkal penularan virus SARS-CoV-2.

Penelitian mengenai formulasi ini dimulai pada saat menyebarluasnya virus flu burung H5N1 sekitar tahun 2008. Penelitian ini dikerjakan oleh tim riset CoV dan formulasi vaksin Profesor Nidom Foundation (PNF).

Disebutkan bahwa empon-empon mengandung kurkumin yang bermanfaat untuk mencegah badai sitokinin dalam paru-paru. Lalu, sitokinin sendiri merupakan senyawa dalam sel yang berfungsi sebagai respons imun saat bereaksi terhadap infeksi virus.

Serasa mendapatkan angin segar, masyarakat Indonesia langsung memviralkannya dan percaya diri untuk menghadapi serangan Covid-19. Pada saat itu, pemerintah Indonesia memang belum mengumumkan adanya kasus positif Covid-19.

Kabar viral ini tampaknya terdengar langsung oleh Presiden Jokowi. Seakan memperkuat testimoni Profesor Nidom, Presiden juga menyampaikan bahwa tamu-tamu istana selalu dijamu dengan minuman berbahan empon-empon sebagai sajian spesial untuk melawan serangan Covid-19.

Presiden menyampaikannya secara terbuka dalam The Second Asian Agriculture and Food Forum di Istana Kepresidenan, Jakarta (12/3). Dia sendiri juga membuat vlog saat meminum jamu. Kepopuleran empon-empon ini pun kian bersinar dan menjanjikan. Ternyata Covid-19 ini telah membawa empon-empon ke panggung politik.

Polemik Dimulai

Pekan lalu, sekitar tanggal 16 Maret, warganet kembali disuguhi informasi lain tentang empon-empon. Seorang Guru Besar Ilmu Farmasi ITB menyampaikan data menarik yang lain. Informasi ini juga langsung viral di WAG. Dinyatakan bahwa empon-empon (khususnya yang mengandung kurkumin) mampu meningkatkan ekspresi gen reseptor Angiotensin-converting Enzyme 2 (ACE2). Diinformasikan juga, ekspresi ini menyebabkan SARS-CoV-2 lebih mudah menginfeksi manusia.

Data yang diinformasikan dikutip dari Jurnal Drug Design, Development, and Therapy yang ditulis oleh Pang, dkk (2015). Pang, dkk melaporkan bahwa kurkumin mampu menghambat pembentukan fibriosis miokardium di sel otot jantung tikus melalui mekanisme modulasi peningkatan ekspresi gen yang mengkode ACE2.

Fibriosis miokardium ini umumnya ditemukan pada penyakit jantung rematik. Sebelumnya, efektivitas kurkumin terhadap ekspresi ACE2 juga pernah dipublikasikan oleh Fazal, dkk (2014) di Journal of Renin-Angiotensin-Aldosterone System.

ACE2 pada sel alveolus paru-paru, usus besar, ginjal, dan pembuluh darah tersebut memang telah diketahui menjadi pintu masuk infeksi SARS-CoV-2 dengan adanya pengikatan protein spike (protein S) oleh virus. Hasil penelitian ini dipublikasi oleh Wan, dkk (2020) di Journal of Virology. Banyak ilmuwan dunia telah menyepakati hal mekanisme tersebut.

Pendapat tersebut juga dikuatkan oleh Hoffman, dkk (2020). Selain mekanisme pengikatan protein S dengan ACE2, Hoffman juga menjelaskan bahwa, sesungguhnya protein S pada SARS-CoV dapat menggunakan protease sistein endosom untuk melakukan proses priming di sel TMPRSS2. Proses ini menjadi entry point penyebaran virus ke sel target primer pada inang yang diinfeksi.

Mengulik Empon-Empon

Lalu, apakah sebenarnya ACE2 yang mendadak viral ini? ACE2 merupakan suatu enzim perantara yang membantu perubahan hormon angiotensin untuk proses pengerutan pembuluh darah. Pengerutan ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah, di mana merupakan bagian integral dari pengaturan ritme tekanan darah.

ACE2 tersebut mempunyai dua jenis versi fungsional, yaitu versi fixed yang tetap melekat pada sel dan versi soluble yang berada dalam keadaan bebas di dalam darah. Bentuk ACE2 soluble inilah yang pernah diteliti oleh Adedeji, dkk dari University of Missouri School of Medicine pada 2013 yang diterbitkan di Journal of Virology.

Adedeji, dkk melaporkan bahwa senyawa SSAA09E2 {N-[[4-(4-methylpiperazine-1-yl)phenyl]methyl]-1,2-oxazole-5-carboxamide} terbukti mampu memblok sedini mungkin interaksi antara Receptor Binding Domain (RBD) protein S pada virus SARS dengan reseptor ACE2 soluble.

Senyawa ini menjadi salah satu kandidat untuk obat antivirus SARS-CoV-2 yang diasumsikan sama dengan SARS dalam kaitannya pada hal pengikatan ACE2. Strategi terapeutik yang sama juga sedang diusulkan oleh Robert L. Kruse dalam opinion article di F1000Research pada Februari lalu.

Selain itu diusulkan juga penggunaan senyawa aktif hesperidine, luteolin, myricetin, quercetin, dan kaempherol yang terdapat dalam jambu biji untuk menghambat ikatan domain RBD tersebut. Usulan ini telah dikaji oleh tim peneliti UI, IPB, dan RSUI secara komputasi dengan menggunakan model prediksi machine learning (SVM, random forest, dan MLP neural network).

Klaim mengenai efek kurkumin yang dapat mempermudah pengikatan protein S SARS-CoV-2 dengan reseptor ACE2 tersebut masih perlu dibuktikan.

Alasannya, pertama, jika menggunakan dasar ilmiah dari hasil penelitian Pang, dkk (2015) dan/atau Fazal, dkk (2014), objek kajiannya tidak apple-to-apple karena mereka menggunakan pengujian sel jantung, bukan sel paru-paru. Kita semuanya mengetahui, Covid-19 ini menyerang saluran pernapasan, khususnya paru-paru.

Kedua, belum ada pengujian klinis untuk membuktikan bahwa kurkumin pada empon-empon dapat meningkatkan interaksi RBD protein S SARS-CoV-2 dengan ACE2 baik itu fixed maupun soluble.

Ketiga, telah banyak penelitian internasional sebelumnya yang menyatakan bahwa kurkumin pada kunyit maupun senyawa aktif dalam empon-empon lainnya mampu membantu meningkatkan respons imun, anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, serta fungsi esensial lainnya. Seperti tersebut dalam penelitian Catanzaro, dkk (2018) dari Italia yang dipublikasikan dalam Jurnal MDPI Molecules.

Keempat, respons imun (yang salah satunya dapat dimodulasi dengan kurkumin) tersebut sangat penting untuk mendorong penyembuhan pasien Covid-19 pada tahap serangan virus ringan. Hal ini telah dibuktikan oleh Thevarajan, dkk (2020) di Australia yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine.

Nah, pilihan ada di tangan Anda semuanya. Mau menghindari mengkonsumsi empon-empon karena dikhawatirkan mempermudah infeksi SARS-CoV-2? Atau tetap mau mengkonsumsi empon-empon untuk meningkatkan respons imun dalam melawan virus?

Keduanya sama-sama belum ada pembuktian klinisnya hingga hari ini, khususnya untuk menangkal SARS-CoV-2. Yang jelas, jika tetap meminumnya sesuai standar, Anda akan membantu UMKM yang sedang berjualan produk jamu empon-empon instan atau jahe anget di angkringan. Selain itu, bisa dipastikan Pak Jokowi akan bahagia karena anjuran minum jamunya diikuti rakyatnya, alias berhasil menjadi influencer yang sukses.

Adhita Sri Prabakusuma anggota Tim Peneliti Biomolekuler Pangan di Yunnan Agricultural University, China; dosen Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan

(mmu/mmu)