Kolom

Isi Kepala Para Perundung

Gelar Riksa - detikNews
Kamis, 27 Feb 2020 14:25 WIB
Ilustrasi bullying
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Menukil salah satu tweet dari Ariel Heryanto bahwa kita mungkin telah berhasil mengusir Belanda dari Indonesia, tapi belum tentu kita ikut menyingkirkan mental kolonialnya. Agaknya pola pikir yang satu ini begitu bebal menempel pada rakyat Indonesia pada umumnya, dari anggota dewan sampai Ketua RT, dari preman pasar hingga kaum intelektual.

Kejadian perundungan seorang siswi difabel di Purworejo belakangan ini menunjukkan mental kolonialisme ini masih terlalu kuat untuk dihapus dari kepala seseorang. Anak-anak ini boleh saja masih mentah, masih belajar, masih perlu bimbingan tentang apa yang baik dan benar. Namun, siapa yang membolehkan atau memberi contoh untuk berlaku kasar pada seorang teman, tiga lawan satu dengan handicap yang dimiliki korban?

Saya masih tetap akan mengatakan hal yang sama jika yang terjadi adalah perkelahian, di mana ada timbal balik dari kedua pihak. Apalagi yang terjadi adalah penyerangan, maka tidak ada kata yang lebih halus untuk menyebut para perundung ini pengecut. Oleh karena itu, saya benar-benar penasaran dengan apa yang ada di dalam kepala para perundung ini.

Apakah mereka adalah anak-anak yang memang senang menepuk dada di hadapan yang lebih lemah tapi menyembah di hadapan yang lebih kuat, atau kondisi mental mereka tak ubahnya balita yang sedang mendapat mainan baru?

Dilansir oleh Psychology Today, perilaku merisak sesama teman lahir dari masa kecil yang kurang perhatian orangtua, tidak mampu mengungkapkan perasaan, dan sering mendapati perilaku serupa dari orangtuanya. Saya berharap mereka bukan Joker-Joker muda yang lahir dari kekerasan orangtua mereka. Namun jika memang begitu, saya terpaksa harus sedikit berempati.

Selain itu, perilaku merundung ini juga sering kali lahir dari perilaku defensif yang sudah terlalu akut, mereka biasa dibela dan tidak pernah salah. Sehingga mereka merasa apa yang mereka perbuat pada orang lain adalah benar adanya dan tidak bisa digugat oleh siapa pun juga.

Seorang perundung biasanya tidak asal memilih korban; mereka akan melihat mana orang yang punya pertahanan paling lemah. Korban ini adalah yang menurut mereka tidak akan melawan dalam keadaan bahaya seperti apa pun, karena itulah bagi saya perundung ini tak ubahnya seorang gamer yang hanya berani main di level "easy" saja.

Menurut saya apa yang dilakukan oleh pejabat publik dan elemen internal sekolah tersebut cukup tepat, yaitu mengekspos kejadian dan mempertanggungjawabkan apa yang telah terjadi. Beberapa orang beropini anak-anak ini berhak memiliki masa depan dan lebih baik mereka direhabilitasi. Betul, kenakalan harus direhabilitasi, tetapi kejahatan harus mendapatkan konsekuensi.

Bagi saya, apa yang terjadi kemarin sudah masuk kepada yang kedua. Mereka bisa memiliki masa depan setelah menghadapi konsekuensinya, ini yang disebut dengan sanksi sosial. Bukankah sekolah adalah tempat untuk membenahi perilaku mereka? Justru dengan terjadinya kejadian itu, sekolah tersebut telah gagal memberikan keamanan untuk setiap siswa yang bersekolah di sana. Entah sistem yang mana yang berlubang, tetapi ini sudah berakibat fatal.

Seorang perundung adalah orang yang telah merasa benar di dalam pikirannya, butuh sistem dan lingkungan yang kuat untuk menunjukkan bahwa mereka salah. Dengan begitu, mereka diharapkan tidak mengulangi perilaku serupa di mana pun dan kepada siapapun. Oleh karena itu tindakan tegas sangat diperlukan.

Sedangkan bagi korban, jelas tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka akan menjadi orang yang paling dirugikan, karena selain runtuhnya percaya diri, mereka bisa mengalami kesulitan dalam memahami emosi. Mereka bisa salah memaknai cinta. Dan, pada akhirnya mereka akan mulai kehilangan hasrat-hasrat lainnya untuk dapat melanjutkan hidup.

Orangtua tentunya harus menjadi orang pertama yang mengajari tentang bagaimana memperlakukan orang lain. Seorang ayah harus mengajarkan anaknya bagaimana menghormati perempuan. Lebih jauh mereka harus belajar bagaimana mengungkapkan perasaan dan memastikan mereka mengungkapkan dengan cara yang tepat.

Pepatah Jepang mengatakan bahwa butuh satu desa untuk membesarkan seorang anak. Menciptakan lingkungan yang suportif dan anti-perundungan adalah pekerjaan bersama. Keberanian diperlukan untuk mengatakan salah kepada perisakan. Kita juga tidak perlu takut menegur, karena itu bukan mencampuri urusan orang lain, melainkan kita sedang membenahi urusan masyarakat tempat kita dan anak-anak kita terlibat di dalamnya.

(mmu/mmu)