Jeda

Fisika Kebahagiaan di Kolam Renang

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 16 Feb 2020 11:53 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Sekuntum kamboja merah berkelopak lima jatuh di kolam renang, terapung-apung di permukaan air yang bergelombang layaknya di pantai. Angin bertiup kencang. Angin awal tahun ini memang selalu bertiup kencang, membuat udara yang berkilau oleh sinar matahari jadi terasa segar dan dingin. Aku berdiri di tepi kolam, ceria seperti anak-anak, penuh semangat, tapi kemudian menjadi ragu-ragu oleh air yang beriak.

Aku berjongkok, menjulurkan tanganku ke dalam air. Dingin. Bulan Februari belum habis separohnya. Hari Sabtu baru pukul tiga sore. Mestinya tidak sedingin ini; belum. Tapi cuaca hari-hari ini memang tak menentu. Satu hari hujan sejak pagi buta hingga tengah hari, besoknya sudah panas menyengat lagi. Orang-orang bicara tentang perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan hal hal semacam itu sambil membandingkan dengan masa lalu.

Dulu, pada bulan-bulan awal tahun seperti ini, hujan turun setiap hari dan cuaca terprediksi sehingga kita bisa bersiap sedia. Kini, tubuh rasanya jadi rapuh berhadapan dengan cuaca yang tak menentu dan sulit ditebak seperti perilaku politikus.

Aku masih berdiri, menarik napas dalam-dalam untuk mengusir kebimbanganku, mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk menyerap energi dari bentangan panorama yang terjangkau oleh mataku. Pohon kamboja bergoyang-goyang, dinding hijau gedung menjulang, pohon-pohon merambat yang menjuntai dari atap sisi kolam, tempat kursi-kursi panjang berjajar, diam seperti penjaga-penjaga yang mengawasi.

Beberapa orang tampak hanya berbaring-baring saja di kursi panjang itu, sambil bermain HP. Di dalam kolam hanya ada dua orang yang sedang berenang hilir mudik, dan satu orang lagi berdiri saja di tepian, seperti bersemadi. Aku menyukai suasana tenang di kolam renang ini, pelarianku nyaris pada setiap akhir pekan. Sebuah kolam renang di ketinggian atap gedung yang di bawahnya sana terdapat bank dan perkantoran lain, serta pusat perbelanjaan yang sering menyesatkan orang saking besarnya. Kolam renang ini sendiri bagian dari sebuah tempat fitness.

Sambil berdiri aku mengamati waktu yang bergerak lembut di atas air. Aku teringat tokoh dalam salah satu novel Murakami yang hobi berenang. Aku teringat pantai-pantai yang kecil dan biru di Gili Terawangan. Lalu, aku pun mendadak teringat bahwa sudah cukup lama aku tidak liburan.

Satu tahun terakhir ini liburanku hanyalah berenang di akhir pekan, lalu duduk di lobi tempat fitness sambil minum kopi atau teh hijau gratis yang disediakan, sambil melihat orang-orang lain duduk -sungguh menarik bahwa di tempat fitness ini kau akan selalu melihat lebih banyak orang duduk-duduk ketimbang berolahraga- dengan kesibukan masing-masing, atau melayangkan pandangan ke luar dinding kaca, melihat gedung-gedung tinggi di seberang, tugu "selamat datang" di bundaran, dan mobil-mobil yang berbaris di jalanan, kecil-kecil seperti mainan anak-anak.

Itulah liburanku. Melihat orang-orang lain di sekitarmu selalu menyenangkan. Sebuah seni yang jika dihayati dengan kepekaan tertentu akan mendatangkan semacam inspirasi, pencerahan, atau mungkin tatapan-tatapan lain yang membuatmu mempertimbangkan kembali cara melihat dunia ini. Sedangkan berenang, seperti telah diketahui, menenangkan jiwa dan pikiran. Saat tubuh meluncur di atas air, dirimu seolah lenyap dari kehidupan. Tidak ada lagi yang kau pikirkan. Tidak ada apa-apa yang membebanimu. Tidak ada dirimu.

Yang ada hanyalah hukum fisika yang bekerja, dan kau bisa merasakannya keajaibannya. Begitu kau nyemplung ke dalam kolam, ada sejumlah air yang terdesak oleh tubuhmu. Jika kau hitung, volume air yang "terdesak" itu sama dengan berat tubuhmu. Jika kau rasakan, tubuhmu tertekan oleh "dinding-dinding air" yang kau desak itu. Lalu, berat air yang kau desak akan memberikan gaya sehingga tubuhmu mengambang.

Pada saat yang sama, dingin air yang merasuki pori-pori kulitmu akan "bertukar" dengan suhu tubuhmu. Panas tubuhmu memberikan energi pada air di sekitarmu, sehingga dingin yang kau rasakan menjadi berkurang. dirasakan oleh tubuhmu. Panas yang kau lepas sama besar dengan dingin yang kau terima sehingga air menjadi terasa sedikit "hangat", atau tubuhmu tak merasakan kedinginan seperti yang sebelumnya kau khawatirkan.

Begitulah hukumnya, sederhana, dan bekerja dalam harmoni yang hening --kau memikirkannya atau tidak, hukum-hukum itu akan tetap bekerja setepat-tepatnya, tanpa meleset sedikit pun. Seperti halnya hidup ini. Kau memberi, kau menerima. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, kau kehilangan apa yang memang harus kau lepas. Kadang kau menghadapi kekacauan yang tak bisa kau tolak atau kau lawan. Kekacauan adalah hukum fisika juga. Dalam sebuah sistem, segalanya cenderung menjadi kacau, bukan menjadi lebih mapan dan tertib.

Dengan sedikit saja kepekaan, kau bisa merasakan alangkah ajaib hidup ini, bahwa dengan waktu yang terus berjalan, dengan peradaban yang semakin menua, dengan sejarah yang menuju ke kehancuran setelah perubahan demi perubahan terjadi, masa demi masa datang dan pergi, peperangan, tokoh-tokoh jahat pemusnah kemanusiaan, bencana alam, virus mematikan, kita masih bisa ada di sini, berdiri di sini, melanjutkan kehidupan, mewujudkan keinginan-keinginan kita, meraih kesenangan-kesenangan kecil ini, meluncur di atas kolam renang.

Kalau dipikir-pikir, hidup ini sebenarnya ya memang sesederhana itu. Kita sekolah, menjalani pergaulan masa muda penuh dinamika, lalu menjadi dewasa, bekerja, berkeluarga, "gantian" menyekolahkan anak-anak kita, dan melupakan sebagian dari rencana-rencana kita, tak peduli lagi dengan apa yang dulu pernah kita cita-citakan.

Saat muda kita begitu idealis, ke mana pun melangkah seolah menemukan keindahan, kebaruan, dan makna...seiring bertambahnya usia, kita menjadi realis: melihat dunia yang keras dan berisi kenyataan pahit. Lama-lama kita lelah, dan memutuskan untuk menjadi surealis. Dunia mendadak jadi serba aneh. Rasanya selalu ada yang salah. Rasanya ada hantu yang terus-menerus meneror kita.

Hantu masa lalu membuat kita banyak mengeluh dan menyesali diri: dulu kamu rajin, pintar, punya banyak ide cemerlang, sekarang kok begini? Hantu masa kini membuat kita membanding-bandingkan dengan orang lain: lihat, mereka sudah bersenang-senang, liburan ke luar negeri, keliling dunia, kenapa kamu bekerja melulu? Bahkan, masa depan pun menjelma menjadi hantu dan membayangi setiap langkah kita hari ini: tanpa karya abadi, tanpa menulis buku, namamu tak akan diingat.

Mungkin, kalau dipikir-pikir sekali lagi, hidup ini tidak sesederhana yang kita kira. Seperti pernah dibilang oleh seorang teman, kalau dipikir hidup itu simpel, praktiknya aja yang kadang rumit. Kala itu aku segera menyahut: terbalik, Bung! Hidup ini sederhana, tapi kadang menjadi rumit ketika kita memikirkannya. Setelah kutimbang-timbang lagi, teman saya mungkin ada benarnya. Bukankah hidup ini relatif bagi siapa yang menjalaninya?

Tidak perlu ada satu nilai, satu ukuran, satu standar yang harus diterapkan dan bisa pas bagi semua orang. Mestinya begitu. Tidak ada realitas yang "nyata" di luar sana sebelum kita memaknainya secara subjektif. Pada akhirnya kita bisa memilih dan menentukan sendiri bagi kita.

Kita sendiri yang menakar dengan ukuran yang kita tahu benar pas bagi kita. Seperti pergi ke toko sepatu dan mencoba-coba ukuran yang cocok dengan kaki kita, lalu kita melangkah dengan nyaman; titik yang paling nyaman sampai pada taraf tak bisa lagi dilampaui oleh diri kita sendiri. Saat ketika kita bisa berkata bahwa dengan apapun yang ada sekarang, yang telah kita terima, yang telah kita lepas; dengan segala yang telah terjadi dan berlalu; dengan apa yang kita miliki dan raih, kita sudah tidak bisa lebih bahagia lagi dari sekarang ini.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)